Ruang Berita

Tokoh

Melihat sekilas industri minyak kelapa sawit: Yang saya pelajari saat magang kerja di GAR


“Kami sering menerima kritik yang dialamatkan LSM ke perusahaan, namun ketika diminta klarifikasi sering kali LSM menolak memberikan data. Jika ada tudingan dari pihak LSM, kami berharap hal itu dilengkapi fakta, dan mereka mau berdialog dengan perusahaan serta memberi kami kesempatan untuk melakukan penyelidikan yang sesuai untuk mengatasi masalah yang ada. Kami tidak selalu tahu apa yang sedang terjadi.” Demikian diungkapkan salah seorang eksekutif perusahaan dalam sesi Tanya-Jawab yang intens dalam Singapore Dialogue on Sustainable World Resources ke-lima. Sebagai pekerja magang di Golden Agri-Resources (GAR), saya berkesempatan untuk berpartisipasi dalam dialog yang membahas masa depan sektor perkebunan dan khususnya, industri kelapa sawit – sektor kontroversial yang telah menjadi sasaran LSM selama hampir dua dekade ini. Acara itu ternyata memberi saya banyak pelajaran.

Kenyataannya, selama dua bulan magang di divisi Corporate Communications and Sustainability Relations GAR, saya mempelajari berbagai fakta tentang minyak kelapa sawit yang berada di luar dugaan. Saya ingat pada tahun-tahun sebelum duduk di bangku kuliah, telah tertanam di benak kami bahwa budidaya kelapa sawit sebagai tanaman komersial mengeksploitasi petani miskin di pedesaan sembari menggembungkan pundi-pundi pemilik modal di pihak lain. Perusahaan-perusahaan besar di sektor kelapa sawit digambarkan sebagai pihak yang jahat, eksploitatif, dan orang-orang yang harus disalahkan atas kemiskinan di pedesaan. Namun banyak hal mulai terlihat sangat berbeda ketika saya melihatnya dari sisi lain – bekerja di dalam tim yang bertugas merespons kritikan dari publik yang seakan tak henti mengalir dan mencoba mendidik masyarakat tentang fakta-fakta yang tidak diketahui mengenai minyak kelapa sawit.

Tim Corporate Communications & Sustainability Relations GAR.

Dari beberapa hal yang saya ingat dari pelajaran geografi sehubungan dengan kelapa sawit, sebagai tanaman komersial dengan margin laba tinggi kelapa sawit mengurangi lahan yang digunakan untuk pertanian subsisten. Hal itu kemudian memperlemah pasokan pangan untuk petani pedesaan sehingga membuat kondisi petani semakin terpuruk daripada sebelumnya. Namun, fakta-fakta yang saya temukan melalui penelitian di sini menunjukkan bahwa bukan hal itulah penyebabnya. Dalam salah satu makalah penelitian yang saya baca, hasil studi menunjukkan bahwa kabupaten yang mengonversi lebih banyak lahan menjadi perkebunan kelapa sawit pada tahun 2000-an mencatat pengurangan kemiskinan yang lebih cepat dibanding kabupaten yang memiliki tingkat kemiskinan awal serta rentang pendapatan per kapita yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa kelapa sawit rata-rata merupakan pemanfaatan lahan pedesaan yang lebih baik untuk pengentasan kemiskinan (Edwards, 2016).

Lebih penting lagi, ekspansi kelapa sawit telah menunjukkan korelasi positif dengan berkurangnya tingkat kemiskinan, yang berarti bukan hanya orang-orang di dekat garis kemiskinan yang terangkat ke atas taraf hidupnya, tetapi juga mereka yang jauh di bawah dalam hal distribusi pendapatan. Jadi, penurunan dalam tingkat kemiskinan menegaskan bahwa manfaat dari ekspansi kelapa sawit cenderung mampu mencapai rata-rata orang yang hidup di bawah garis kemiskinan. Artinya, penanaman kelapa sawitjauh dari penyebab eksploitasi petani, namun justru membantu banyak orang untuk memperoleh penghasilan jauh lebih tinggi dibanding sebelumnya, dan dengan penghasilan ini mereka dapat menjalani kehidupan yang lebih berkualitas. Penelitian yang sama menunjukkan bahwa sekurangnya 1,3 juta orang telah terangkat dari kemiskinan selama tahun 2000-an karena pertumbuhan di sektor kelapa sawit – yang hampir sama dengan seperempat jumlah penduduk Singapura.

Bahkan seiring dengan makin banyaknya hal yang saya pelajari tentang program dan inisiatif GAR untuk membantu petani kelapa sawit dan masyarakat di berbagai aspek, saya terkesan melihat betapa komprehensif dan efektifnya program serta inisiatif tersebut, sampai ke titik di mana saya kini ragu tentang mengapa ada begitu banyak kritik terhadap perusahaan besar kelapa sawit. Mungkin hingga tingkat tertentu perusahaan seperti GAR telah disalahpahami. Saya cukup takjub mendapati bahwa selain menyediakan benih berkualitas tinggi bagi petani di daerah pedesaan untuk menghasilkan produktivitas lebih tinggi dan membekali mereka dengan pelatihan untuk mempraktikkan perkebunan yang berkelanjutan, GAR juga telah membangun sekolah untuk anak-anak  para pekerja, merekrut guru untuk mendukung kegiatan belajar mengajar mereka, dan mendirikan klinik 24 jam dekat lahan perkebunan sehingga orang sakit bisa memperoleh perawatan tepat waktu. Perusahaan juga membuka pusat pengasuhan anak sehingga ibu-ibu yang memiliki anak kecil tetap dapat bekerja. Jujur saja, dengan semua inisiatif tersebut, bagi saya GAR lebih menyerupai badan amal daripada perusahaan yang eksploitatif.

Kritik lain yang umumnya dihadapi industri kelapa sawit adalah bagaimana perusahaan turut memicu kerusakan lingkungan dan keanekaragaman hayati melalui deforestasi. Akan tetapi, kini saya tahu bahwa GAR bekerja keras dan mencatat kemajuan dalam hal ini. Perusahaan telah menetapkan Kebijakan Sosial dan Lingkungan GAR (KSLG) komprehensif yang mencakup kebijakan dan prinsip mengenai petani dan komunitas mereka, serta pelestarian dan perlindungan lingkungan. GAR mempraktikkan kebijakan tanpa bakar, yang fokus pada peningkatan produktivitas guna meningkatkan produksi. Sementara itu, di bidang keanekaragaman hayati, GAR menjalin kerja sama dengan Orangutan Foundation International untuk merehabilitasi dan melepasliarkan 100 ekor orangutan yang sebelumnya pernah tertangkap pada tahun 2017.

Semua yang saya lihat sepanjang dua bulan yang singkat ini telah menggoyahkan kesan saya sebelumnya tentang industri minyak sawit dan perusahaan besar minyak sawit. Saya menyadari dulu saya tidak berupaya untuk mencari dan mengetahui fakta-fakta yang ada, dan begitu saja menerima apa pun yang saya dengar sebagai kenyataan.

Mungkin ada banyak yang seperti saya – memiliki kesan samar dari wacana masa lalu bahwa produsen minyak kelapa sawit itu jahat, kemudian kami meneruskan hal itu kepada orang lain ketika topik tersebut muncul, hingga terbentuk stereotip. Mungkin cara yang lebih baik menyikapi hal ini adalah selalu berhati-hati pada apa yang disampaikan orang, dan mencari tahu fakta sebenarnya sebelum membentuk opini – jelas ini juga merupakan sebuah poin penting pembelajaran bagi diri sendiri. Terlepas dari hal itu, di sini bukan berarti saya memuja perusahaan minyak sawit besar seperti GAR sebagai penyelamat bagi petani miskin. Sesungguhnya, saya merasa tidak ada jawaban yang sifatnya hitam-putih. Secara keseluruhan, industri ini besar dan rumit, dan setiap langkah memiliki implikasi baik maupun buruk. Karena itu, alih-alih mencari-cari kesalahan dan mencoba menuding pihak tertentu sebagai yang jahat, mengamati bagaimana industri ini menyelaraskan manfaat dengan mengurangi mudarat yang ditimbulkan adalah pendekatan yang lebih rasional.

Pada umumnya, dua bulan ini merupakan perjalanan pembelajaran yang luar biasa bagi saya. Setelah masa magang ini berakhir, saya memiliki keterampilan baru, teman baru, sudut pandang baru, serta kenangan yang indah. Untuk itu, izinkan saya mengakhiri tulisan ini dengan senyum lebar dan banyak kenangan yang manis. [Catatan Editor: Senang sekali rasanya bisa bekerja bersama Anda, Chenyan, Anda mengajari kami betapa pentingnya menjangkau kalangan pelajar dan mahasiswa untuk berbagi informasi yang lebih berimbang tentang industri kelapa sawit. Sukses selalu untuk Anda!]

| | |