
Bagi Ariya Diani Astika, obrolan selalu menghasilkan sesuatu yang berguna. Ia senang bertemu dengan orang-orang yang beragam latar belakangnya, menyimak sudut pandang mereka, serta memahami perbedaan konteks dan kebudayaan asal mereka. Pengalaman tersebut membentuk cara beliau mencermati orang dan memahami bidang pekerjaan.
Sebagai Spesialis Uji Tuntas Hak Asasi Manusia (Human Rights Due Diligence/HRDD Specialist), Ariya membawa keingintahuan tersebut dalam pekerjaan beliau. Mulai dari meningkatkan kesadaran hingga mengidentifikasi risiko dan memberi berbagai tim pelatihan, sebagian besar peran beliau berkutat dengan membantu mengubah prinsip-prinsip hak asasi manusia (HAM) menjadi sesuatu yang dapat dipahami dan diterapkan setiap hari.
Mana yang paling tepat menggambarkan peran HRDD Specialist?
Pada tahun 2025, kami melakukan asesmen tentang praktik-praktik HAM di 81 pabrik pihak ketiga menggunakan SMART ACT, sebuah perangkat digital yang kami ciptakan untuk memperkuat uji tuntas di seluruh rantai pasok Perusahaan. Namun, bagi Ariya, teknologi hanya dapat membantu sebatas itu. Perangkat seperti SMART ACT memang membantu mengidentifikasi bidang yang memerlukan perhatian, tetapi memahami apa yang sebenarnya terjadi membutuhkan lebih dari sekadar data. Dan hal itu berarti meluangkan waktu berada di lapangan, bekerja bersama pemasok untuk memahami kendala yang mereka hadapi, serta menemukan cara tepat untuk mengatasi kendala tersebut.
Dalam artikel ini, Ariya berbagi pengalaman beliau, dan menunjukkan mengapa mendengarkan, bekerja sama, serta membangun kepercayaan sangat penting dalam penerapan HAM sebagai bagian dari praktik kerja sehari-hari.
Ariya: Secara umum, peran saya adalah memastikan bahwa pekerjaan yang kita lakukan di sini tidak merugikan orang. Lebih khususnya, tugas saya adalah membantu “memeriksa serta memastikan” bahwa cara Perusahaan beroperasi itu adil, aman, dan menghormati hak-hak siapa pun yang terpengaruh oleh bisnis kami.
Intinya, HRDD melampaui soal kepatuhan. HRDD adalah soal berbisnis dengan cara yang bertanggung jawab serta berkelanjutan.

Ariya: Banyak orang mendengar frasa “hak asasi manusia” dan berkecil hati. Mereka menganggap frasa itu rumit atau akademis. Saat bertemu orang-orang di lapangan, saya berusaha memperlihatkan kepada mereka bahwa HAM itu sesungguhnya sederhana—sesuatu yang sebetulnya kita lakukan setiap hari.
Contohnya, memberi upah secara adil dan tepat waktu. Juga, menjaga keselamatan melalui pelatihan dan peralatan yang memadai, melindungi anak-anak, serta menciptakan lingkungan kerja yang membuat semua orang merasa dihargai dan dirangkul.
Bagi saya, inti HAM adalah melakukan hal yang benar kepada mereka yang berada di sekitar kita—tidak harus selalu dengan kebijakan besar, tetapi juga dapat melalui tindakan sehari-hari yang membawa perubahan nyata.
Ariya: Yang menarik saya untuk melakukan pekerjaan ini adalah hubungan erat antara bisnis dan kehidupan masyarakat. Semua keputusan yang kami jalankan sebagai perusahaan memengaruhi kehidupan nyata para pekerja, keluarga, serta masyarakat.
Sebelum bergabung ke tim Pusat Unggulan HRDD, saya adalah Petugas Penilai Dampak Sosial (Social Impact Assessment SIA Officer) selama tujuh tahun. Sepanjang waktu itu, saya bekerja sama erat dengan para pekerja serta masyarakat setempat dan menyaksikan langsung betapa operasi kami turut berdampak pada kehidupan serta mata pencaharian mereka.
Satu pengalaman membekas dalam ingatan saya adalah saat saya melakukan asesmen di salah satu balai penitipan anak yang kami dirikan.

Tugas saya antara lain mencermati apakah anak-anak itu memperoleh asupan gizi yang mereka butuhkan. Saya melihat bekal makanan yang dibawa dari rumah terkadang kurang variasi serta kecukupan gizinya.
Tampaknya hal kecil saja, tetapi bagi saya hal itu membawa pekerjaan saya sampai ke tingkat yang paling manusiawi. Pada akhirnya, HAM dan dampak sosial adalah tentang kehidupan sehari-hari manusia: anak yang mendapat perhatian, pekerja yang merasa aman, keluarga yang mendapatkan dukungan yang diperlukan.
Itulah yang membuat saya selalu dan tetap antusias menekuni bidang pekerjaan ini. Saya ingin terus melakukan pekerjaan yang membantu kami lebih memahami semua dampak tersebut dan mencari cara yang tepat untuk meningkatkannya.
Ariya: Pekerjaan ini mengajari saya bahwa dampak yang bermakna biasanya terjadi secara bertahap. Dari mendengarkan dengan saksama, memahami letak kesenjangannya, serta membantu tim melakukan perubahan yang tepat dari waktu ke waktu.
Salah satu contohnya adalah Strategi & Pelaporan Asesmen Kesetaraan Gender (Gender Equality Assessment Report & Strategies/GEARS) kami. Melalui asesmen ini, kami menjalin kerja sama dengan tim Sumber Daya Manusia Perusahaan dan Koalisi Bisnis Indonesia untuk Pemberdayaan Perempuan (IBCWE) guna memahami aspek kesetaraan gender di tempat kerja yang dapat ditingkatkan serta tindakan yang dapat memajukan peningkatan tersebut.
Sejak asesmen tahun 2021, kami melihat kemajuan menggembirakan, termasuk meningkatnya jumlah perempuan yang dipromosikan ke jenjang supervisor. Saat ini, 21% peran manajerial kami diduduki perempuan. Perjalanan masih jauh, namun pekerjaan ini membuat saya lebih bersabar terkait perubahan. Beberapa membutuhkan waktu yang lama, tetapi tidak berarti hasil itu kurang bermakna. Yang penting adalah kami terus melangkah maju. Dengan kata lain, kemajuan, bukan kesempurnaan.
Bekerja sama dengan pekerja lapangan, pemasok, tim internal, serta pimpinan bisnis juga ikut memperdalam perspektif itu. Masing-masing melihat tantangan dari sudut yang berbeda. Semakin banyak mengkaji perspektif tersebut dan bekerja bersama secara bertahap, semakin bagus solusi yang kami capai.

Ariya: Salah satu tantangan utama adalah setiap tim dan operasi mulai dari tempat yang berbeda. Sekalipun memiliki komitmen dan kebijakan HAM yang sama, orang bekerja dengan cara yang berbeda serta mempunyai tingkat pengalaman yang berbeda juga dalam mempraktikannya.
Contohnya adalah pekerjaan yang berkeadilan. Bisa saja kami memiliki ekspektasi yang sama seputar gaji yang berkeadilan serta perumahan yang memadai, namun penerapannya bisa jadi berbeda. Melalui proses HRDD, saya melihat keberadaan risiko tertinggi dan tindakan yang paling dibutuhkan. Satu operasi bisa mempunyai pengecekan sistem penggajian ketat serta pemeriksaan perumahan secara berkala. Sementara itu, operasi yang lain bisa saja membutuhkan lebih banyak keahlian untuk menerapkannya secara konsisten. Dari situ, kami bekerja bersama tim terkait untuk menerapkan langkah yang tepat serta mengurangi dampaknya pada pekerja.
Survei pekerja juga membantu kami mengetahui aspek yang membutuhkan lebih banyak perhatian, termasuk di dalamnya kebebasan berserikat, pelecehan dan kekerasan, mekanisme penanganan keluhan, atau kosistensi penerapan kebijakan oleh manajer. Kadang kala, tantangannya bukan sekadar tentang memiliki kebijakan atau tidak, melainkan tentang apakah pekerja merasa aman menyatakan pendapat dan percaya bahwa pendapatnya didengar dan ditindaklanjuti.
Tantangan semacam itu tidak bisa kami atasi dengan segera atau diatasi hanya dengan kebijakan Perusahaan yang bercakupan luas. Dibutuhkan waktu untuk menanganinya dan, yang lebih penting lagi, dibutuhkan kepercayaan—dari tim maupun pemasok Perusahaan.
Salah satu cara kami membangun kepercayaan tersebut adalah bekerja sama langsung dengan pemasok secara berkesinambungan. Melalui SMART SPOT, yaitu pelatihan oleh tim Supplier Transformation kami bersama Nestle, pemasok dapat lebih memahami uji tuntas HAM, komitmen HAM kami, serta cara Perusahaan menerapkannya.
Ariya: Peraturan seperti Arahan Uji Tuntas Keberlanjutan Perusahaan (Corporate Sustainability Due Diligence Directive/CSDDD) dan Regulasi Kerja Paksa Uni Eropa (European Union/EU Forced Labour Regulation) pasti akan berperan besar. Ekspektasi terhadap badan pembuat peraturan/regulator, pasar global, penanam modal, dan konsumen akan terus bertumbuh. Perusahaan wajib memenuhi standar internasional, seperti Prinsip-Prinsip Panduan PBB tentang Bisnis dan Hak Asasi Manusia (UN Guiding Principles on Business and Human Rights/UNGP). Perusahaan juga wajib menyesuaikan diri dengan perkembangan Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (Environmental, Social and Governance/ESG), serta persyaratan pelaporan.
Bagaimanapun, saya berharap semua itu disikapi lebih dari sekadar upaya memenuhi persyaratan, dan seiring waktu akan menjadi bagian alami dari cara dunia bisnis berpikir serta membuat keputusan. Intinya, HAM adalah tentang orang: memahami cara kerja kita memengaruhi mereka, menyimak pengalaman mereka, serta bersedia melakukan pada saat diperlukan perbaikan.
Pada akhirnya, saya ingin HAM menjadi bagian dari cara berbisnis yang baik, bukan sekadar persyaratan tambahan. Saya ingin kita semua sampai pada titik saat kita tidak perlu lagi menjelaskan mengapa HAM itu penting. Dengan demikian, kita dapat menggunakan waktu untuk membahas cara kerja sama untuk melakukan perbaikan serta membuat perbedaan nyata bagi masyarakat.

Ariya: Saya akan menyarankan tetaplah bersikap ingin tahu, mudah menyesuaikan diri, serta selalu mengamati konteksnya. Dalam bidang keberlanjutan dan HAM, setiap situasi berbeda. Yang bisa dilakukan pada satu tempat mungkin memerlukan pendekatan berbeda agar bisa dilakukan di tempat lain.
Juga, Anda harus bisa menerima kenyataan bahwa tidak semuanya bisa langsung selesai. Ekspektasi serta praktik seputar HAM terus berkembang, sehingga akan selalu ada hal baru yang perlu dipahami. Ikuti terus semua perubahan itu, selalu bersikap terbuka terhadap cara baru untuk menanganinya, dan bersikaplah luwes dalam penerapannya.
Bagi saya, sekali lagi, intinya adalah kemajuan, bukan kesempurnaan. Tantangan adalah bagian dari perjalanan. Yang penting adalah Anda terus melangkah maju, belajar sambil jalan, dan tumbuh dengan tujuan yang jelas.
Ariya adalah satu sosok dari profil “Orang-Orang di Balik Angka” kami. Baca lebih banyak kisahnya di sini.
Tertarik untuk mempelajari Kebijakan HAM kami lebih lanjut? Pelajari di tautan ini.
Kegiatan Bisnis
Yayasan
Pencapaian
Tata Kelola Perusahaan
Perubahan Iklim
Keberperanan Komunitas
Kemitraan & Keanggotaan
Hak Asasi Manusia & Hak-Hak Pekerja
Pengadaan yang Bertanggung Jawab
Produksi yang Bertanggung Jawab
Sertifikasi
Laporan Keberlanjutan
Oleokimia
Bioenergi
Inovasi Makanan & Nutrisi
Berita Pers
Kisah
Temui Pakar Kami
Dalam Berita
Publikasi
Informasi bagi Pemegang Saham
Keterbukaan Informasi
Informasi Keuangan
Prospek Pemasok
Dukungan bagi Pemasok Sawit
Tanya Jawab
Pemasok Non-Sawit Saat Ini
Sarjana & Profesional
Beasiswa
Magang