Sekitar 41% tenaga kerja di sektor pertanian pangan global adalah perempuan, mulai dari tenaga penanaman dan pengolahan makanan sampai penyalurannya ke pasar. Di Indonesia, jumlah pekerja perempuan di sektor agrikultur mencapai 38%—sekitar 14,81 juta orang.
Sekalipun demikian, perempuan petani sering kali sulit memperoleh akses yang setara ke lahan pertanian, pelatihan, dan pendanaan. Padahal, secara turun-temurun, perempuan petani menjadi tulang punggung masyarakat pertanian, bekerja keras mencukupi pangan bagi keluarga serta menghidupkan perekonomian setempat, kendati mereka jarang mendapatkan dukungan yang selayaknya mereka terima.
Tahukah Anda?
Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) memperkirakan bahwa dengan menutup kesenjangan gender di sektor agrikultur, perekonomian global dapat meningkat hampir US$1 triliun serta tingkat kerawanan pangan turun bagi 45 juta orang.
Melalui program seperti Bright Future Initiative, Sawit Terampil, dan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), Perusahaan membantu kaum perempuan memperoleh sumber daya, pengetahuan, serta sertifikasi yang mereka butuhkan agar dapat mewujudkan kesejahteraan.
Tidak ada cerita tunggal mengenai perempuan di sektor agrikultur. Pada Hari Perempuan Pedesaan Internasional tanggal 15 Oktober ini, kami menampilkan empat perempuan yang membangun kecakapan mereka, menjalani peran baru, serta menciptakan peluang di komunitas mereka.

di area perkebunan
Bercocok tanam selalu menjadi bagian dalam perjalanan hidup Bu Sutiyem. Awalnya, beliau menanam padi lalu beralih ke pohon karet.
Pada tahun 2008, harga karet turun tajam. Bu Sutiyem dan suami pun beralih menanam pohon kelapa sawit. Mereka belajar dari petani setempat, menempa kecakapan, dan seiring waktu mendapati bahwa itu keputusan yang tepat.
Kemudian, Bu Sutiyem bergabung dengan Sawit Terampil, tempat beliau belajar lebih lanjut tentang teknik pertanian berkelanjutan, mulai dari memberi pupuk sampai mengelola kebun. Program tersebut juga menawarkan jasa pemetaan tanah yang membantu Bu Sutiyem memiliki dokumen penting untuk berbisnis, termasuk Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB).
Kini, Bu Sutiyem berbagi pengalaman yang beliau dapatkan.
“Saya tahu mengurus kebun sendirian bisa terasa sulit. Kalau saya bisa membantu perempuan lain agar tidak mengalami kesulitan seperti yang pernah saya alami, maka saya sudah melakukan sesuatu yang berguna. Menguatkan perempuan berarti memperkuat seluruh masyarakat.”
Bu Sutiyem memberi bimbingan kepada para perempuan petani sawit, meyakinkan mereka untuk menerapkan cara bercocok tanam yang berkelanjutan, serta bergabung dalam koperasi. Melalui Koperasi Jasa Sawit Lepan Jaya (KJSLJ) serta sertifikasi RSPO, mereka dapat menjangkau pasar yang lebih baik, meningkatkan penghasilan, serta memperoleh pengakuan yang lebih luas.
“Saya berharap semakin banyak perempuan petani yang mau menempuh cara ini,” katanya. “Kita bukan sekadar membudidayakan kelapa sawit. Kita menanam peluang bagi masa depan.”

Bagi Bu Siti Marfuah, pohon kelapa sawit sudah menjadi bagian hidup sejak masa kanak-kanak. Ketika tiba saatnya harus mandiri, pohon kelapa sawit menarik perhatian beliau. Bu Siti tahu cara mengurus pohon itu dan melihat langsung bahwa pohon itu dapat memberi penghasilan yang stabil. Lebih dari sepuluh tahun kemudian, Bu Siti masih menekuninya.
Sekarang, Bu Siti memimpin Koperasi Serba Usaha (KSU) Al-Faiz Mandiri, yang bekerja sama dengan anak perusahaan kami PT Djuanda Sawit Lestari dalam mengganti pohon kelapa sawit tua milik petani dengan bibit baru yang lebih unggul, melalui program PSR. Melalui kemitraan ini, Bu Siti serta petani lain dapat memperoleh dukungan yang dibutuhkan untuk melakukan peremajaan tanaman, mulai dari panduan teknis hingga bahan tanam.
Perjalanan Bu Siti mencapai tingkat pimpinan mendobrak asumsi tentang bidang yang sejak lama didominasi laki-laki, yaitu bahwa ternyata hal itu dapat dilakukan oleh perempuan. Baginya, bersikap lembut atau berbicara halus tidak ada hubungannya dengan hal-hal yang dapat dicapai seorang perempuan.
“Menjadi perempuan yang lembut bukan berarti lemah. Perempuan punya kemampuan yang setara dengan laki-laki. Kami sanggup bekerja keras, membuat keputusan, serta tangguh dalam peran yang kami emban.”
Dan saat kemampuan beliau diragukan, Bu Siti lebih suka menanggapinya melalui tindakan.
“Bila kemampuan kami untuk terlibat dalam program seperti PSR masih diragukan, saya lebih suka membuktikannya melalui tindakan daripada sekadar kata-kata,” tambah Bu Siti.
Bu Siti berpendapat bahwa seiring waktu semua itu membantu membangun kepercayaan yang lebih besar kepada perempuan petani. Beliau pun melihat bahwa kemitraan dengan Perusahaan telah membantu meningkatkan penghasilan petani serta menyumbang manfaat yang lebih merata bagi masyarakat luas.

Ada waktunya, ketika Fasiah dan perempuan petani lain di Dusun Pinang hanya bisa pasrah menyaksikan panen mereka rusak karena cuaca kering. Air sulit didapat. Tanah mengeras. Tanaman layu sebelum panen. Namun, keadaaan mulai berubah ketika mereka belajar cara yang lebih baik untuk merawat tanaman.
Melalui program Bright Future Initiative, Fasiah dan Kelompok Wanita Tani (KWT) Pinang Lestari belajar cara mengairi serta memupuk berdasarkan kondisi tanah. Mereka juga mempelajari keterampilan agar memperoleh lebih banyak hasil dari lahan yang mereka garap.
Bagi Fasiah, pembelajaran praktis seperti itulah yang dibutuhkan, dan beliau membagikannya kepada perempuan petani di dalam kelompok. Sekarang ini, Fasiah mengambil bagian dalam setiap tahap proses bercocok tanam, mulai dari menyiapkan lahan dan menanam bibit sampai merawat tanaman serta memanen.
“Ada rasa puas yang gimana gitu melihat tanaman tumbuh subur sampai akhirnya bisa dipanen.”
Hasil panen membantu keluarga. Tanaman pangan yang dibudidayakan Fasiah menyajikan hidangan di meja makan keluarga. Beliau juga menjual hasil sampingan dari bercocok tanam ke pasar setempat untuk menambah penghasilan.
Tahukah Anda?
Tahun ini adalah Tahun Internasional Perempuan Petani (TIPP)!
Seperti dinyatakan oleh PBB, TIPP 2026 menekankan peran penting perempuan dalam sistem pertanian pangan serta meningkatkan kesadaran mengenai tantangan yang dihadapi oleh perempuan petani. Pencanangan gerakan tersebut juga mendorong agar kebijakan, investasi, serta kerja sama turut memberdayakan perempuan petani.

Risniati melihat peluang sederhana: membantu petani bercocok tanam dengan lebih baik serta menjangkau pasar yang baru.
Di Desa Gunung Bakti, beliau membagi waktu antara rumah, kebun, serta bisnis keluarga, CV Perangin-Angin Group (PAG), yang menjual Tandan Buah Segar (TBS).
Tata cara bertani masyarakat desa tersebut diturunkan dari generasi ke generasi. Sebagiannya lebih berdasarkan kebiasaan daripada panduan yang jelas. Sering kali, pemupukan dilakukan tanpa menakar jumlah yang tepat. Pelepah daun ditumpuk begitu saja. Tingkat kematangan buah ditentukan berdasarkan pengalaman semata.
Melalui kegiatan bersama petani kelapa sawit, Risniati mulai bisa melihat apa yang sebaiknya diubah. Pengetahuan yang lebih baik serta tata cara bertani yang lebih konsisten tentu dapat membantu petani meningkatkan kualitas serta produktivitas perkebunan mereka.
Maka, Risniati mulai belajar juga. Bersama sejumlah petani yang memasok TBS ke usaha beliau, Risniati mengikuti pelatihan Praktik Pertanian yang Baik dari program Sawit Terampil. Pelatihan tersebut mengajari mereka cara bercocok tanam yang lebih berkelanjutan, juga mengarahkan mereka untuk memenuhi standar internasional.
Pada bulan November 2025, PAG secara resmi menjadi kelompok tani bersertifikasi RSPO.
Risniati melanjutkan kerja sama dengan petani setempat, berbagi pelajaran yang diperoleh sekaligus membantu mereka menerapkan cara bercocok tanam yang lebih baik.
Bila kaum perempuan berkembang, masyarakat pun ikut berkembang
Sutiyem, Siti, Fasiah, dan Risniati menempuh jalan masing-masing. Sekalipun demikian, kisah mereka sama-sama menunjukkan apa yang dapat dicapai bila kaum perempuan mempunyai akses ke ilmu pengetahuan, sumber daya, serta peluang.
Cara bercocok tanam baru dibagikan. Produktivitas yang lebih tinggi menambah penghasilan. Petani menjadi mentor. Seorang perempuan menjadi pemimpin dan menginspirasi yang lain untuk bangkit bersama beliau.
Kaum perempuan sudah mulai memberi sentuhan dalam membentuk sektor agrikultur. Bila mendapat kesempatan lebih luas untuk berkembang, mereka dapat membantu seluruh komunitas berkembang bersama-sama.
Melalui program seperti Sawit Terampil, PSR, dan Bright Future Initiative, kami membantu kaum perempuan memperoleh pengetahuan, dokumentasi, sertifikasi, akses pasar, dan jaringan yang memperkuat peluang serta mata pencaharian mereka.
Baca kisah tentang lebih banyak lagi perempuan yang memberi dampak jauh melebihi kehidupan mereka sendiri.
Kegiatan Bisnis
Yayasan
Pencapaian
Tata Kelola Perusahaan
Perubahan Iklim
Keberperanan Komunitas
Kemitraan & Keanggotaan
Hak Asasi Manusia & Hak-Hak Pekerja
Pengadaan yang Bertanggung Jawab
Produksi yang Bertanggung Jawab
Sertifikasi
Laporan Keberlanjutan
Oleokimia
Bioenergi
Inovasi Makanan & Nutrisi
Berita Pers
Kisah
Temui Pakar Kami
Dalam Berita
Publikasi
Informasi bagi Pemegang Saham
Keterbukaan Informasi
Informasi Keuangan
Prospek Pemasok
Dukungan bagi Pemasok Sawit
Tanya Jawab
Pemasok Non-Sawit Saat Ini
Sarjana & Profesional
Beasiswa
Magang