Ruang Berita

Masyarakat

Pelaku industri sawit di Kalimantan Timur berkomitmen menghormati hak-hak anak


Anak-anak tidak boleh bekerja di perkebunan kelapa sawit. Demikian asas yang melandasi kerja sama dua tahun antara Sinar Mas Agribusiness and Food, Nestle, Earthworm Foundation, pemasok minyak sawit perusahaan, dan pemangku kepentingan terkait di Kalimantan Timur.

Dalam satu dasawarsa terakhir, industri sawit telah secara signifikan berhasil mengurangi deforestasi yang diakibatkan ekspansi sawit. Namun demikian, peningkatan kinerja keberlanjutan di bidang sosial belum begitu kentara.

Media sering kali melaporkan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan hak-hak pekerja “secara luas” di sektor sawit, tetapi hal tersebut tidak terjadi di Sinar Mas Agribusiness and Food. Kebijakan Sosial dan Lingkungan GAR (KSLG) yang diluncurkan pada 2015 mencakup komitmen untuk tidak menggunakan pekerja anak. Sejak saat itu, tim rantai pasok Perusahaan telah melakukan lebih dari 100 kunjungan lokasi untuk menilai kepatuhan pemasok terhadap kebijakan kami, dan tidak pernah ada pekerja anak yang ditemui dalam berbagai kunjungan tersebut. Perusahaan menyadari bahwa sangat sulit untuk menemukan hal tersebut dalam kunjungan yang dilaksanakan, sehingga kami pun menelaah faktor atau akar penyebab yang mendorong anak-anak berada di perkebunan. Misalnya, kami mengidentifikasi kurangnya kesadaran dan kemampuan yang memadai di pihak pemasok yang mendorong anak-anak berada di lokasi perkebunan.

Lokakarya pemasok di Kalimantan Timur pada April 2019.

Membangun kesadaran pemasok dan bersama-sama mengembangkan solusi

Perusahaan mengambil keputusan untuk menciptakan solusi bagi persoalan anak-anak di perkebunan sawit dengan mengadakan lokakarya pada April 2019 untuk meningkatkan kesadaran, memahami tantangan, dan menyusun rencana aksi. Setiap peserta – yang mewakili kelompok pemangku kepentingan berbeda – berbagi sudut pandang masing-masing yang unik. Setelah berkolaborasi selama dua hari, lokakarya berakhir dengan kesimpulan yang terdiri dari tiga bagian.

Rincian peserta lokakarya menurut gender dan kelompok pemangku kepentingan.

Pertama, persoalan kehadiran anak-anak di perkebunan memiliki akar penyebab sebagai berikut:

  • Perusahaan perkebunan sawit tidak mempekerjakan anak-anak guna memenuhi aspek kepatuhan dan kebijakan hukum. Namun, dalam beberapa kasus, pekerja membawa anak-anak perkebunan untuk membantu mereka.
  • Orang tua mempunyai sedikit atau bahkan sama sekali tidak memiliki akses ke pusat penitipan anak, sekolah, taman baca dan bermain, serta transportasi menuju dan dari sekolah.
  • Peraturan yang ada kurang tegas, dan masih perlu peningkatan pengawasan dari pemerintah maupun masyarakat sipil

Kedua, setiap peserta harus berkomitmen dalam mengembangkan rencana tindakan spesifik untuk setiap organisasi berdasarkan solusi umum berikut:

  • Meningkatkan kesadaran organisasi mengenai peraturan yang terkait kepatuhan tenaga kerja.
  • Meningkatkan manajemen, kualitas, dan aksesibilitas organisasi ke fasilitas pendidikan.
  • Memfasilitasi dialog sosial dengan pekerja yang merupakan orang tua anak.
  • Melakukan pertemuan dengan berbagai pemangku kepentingan secara teratur.
  • Meningkatkan dan mengoptimalkan fungsi pemantauan pengawas ketenagakerjaan.

Ketiga, masukan peserta berfungsi untuk memberikan informasi tentang tiga dokumen panduan terkait dalam rangka mempromosikan praktik ketenagakerjaan berkeadilan yang dapat diakses di situs web Earthworm Foundation

  • Memitigasi Risiko Pekerja Anak di Perkebunan Kelapa Sawit.
  • Pekerjaan yang Adil untuk Pekerja Sementara dan Buruh Lepas.
  • Penetapan Target dan Kebijakan Pengupahan yang Adil.

Menjaga anak-anak agar menjadi perhatian utama pemasok selama pandemi

Awalnya Sinar Mas Agribusiness and Food berencana langsung menindaklanjuti dengan pemasok yang berpartisipasi, guna memastikan mereka merumuskan dan menerapkan rencana aksi organisasi. Perusahaan juga berencana memperluas jangkauan dengan pemasok di provinsi lain.

Akan tetapi, dengan adanya pembatasan perjalanan terkait COVID-19, semua upaya pembinaan dan diskusi melalui tatap muka langsung harus dialihkan secara online demi menjaga momentum yang dibangun pada tahun 2019 dan menjaga agar anak-anak selalu diperhatikan oleh pemasok.

SMART dan Earthworm Foundation melakukan serangkaian pertemuan online pada tahun 2020 berdasarkan dokumen panduan tersebut. Kegiatannya antara lain mencakup:

  • “Cara menanggulangi risiko adanya pekerja anak di perkebunan sawit” pada 2 September
  • “Pekerjaan yang berkeadilan bagi buruh lepas” pada 23 September
  • “Bagaimana menetapkan target dan kebijakan pengupahan yang adil” pada 21 Oktober

Sebanyak 103 perwakilan pemasok menghadiri ketiga pertemuan tersebut.

Salam pembuka dalam diskusi online Zoom tentang ” Cara menanggulangi risiko adanya pekerja anak”

Dalam pertemuan tersebut, kami membahas praktik terbaik di Sinar Mas Agribusiness and Food dan mengarahkan peserta agar memanfaatkan alat khusus di situs web Earthworm Foundation untuk membantu penerapannya. Misalnya, dokumen panduan “Mitigasi Risiko Pekerja Anak di Perkebunan Kelapa Sawit (dengan judul asli berbahasa Inggris Mitigating the Risks of Child Labour in Oil Palm Plantations)” menjelaskan penggunaan alat-alat berikut:

  • Bahan referensi mengenai definisi dan peraturan perundangan terkait anak
  • SOP untuk memeriksa usia pelamar kerja
  • Contoh komunikasi untuk meningkatkan kesadaran internal
  • Tanggung jawab personel kunci seperti supervisor pemanenan
  • Daftar periksa untuk menilai penerapan praktik yang baik
Contoh daftar periksa uji tuntas.

Menyongsong 2021, SMART akan memantau pelaksanaan rencana aksi pemasok. Kami akan terus memperbarui situs web Perusahaan agar dapat melaporkan kemajuan, menyoroti tantangan umum yang dihadapi industri ini, dan menyerukan kolaborasi di antara para pelakunya.

Tidak ada kesuksesan tanpa keterlibatan dan komitmen pemerintah daerah

Seperti halnya peningkatan praktik lingkungan, perjalanan menuju praktik sosial yang bertanggung jawab membutuhkan investasi dan, yang terpenting, keterlibatan erat terkait peran pemangku kepentingan. Pembeli akhir yang mengadopsi kebijakan tidak mempekerjakan anak di atas kertas saja tidak cukup. Hanya melalui tindakan nyata, komitmen, dan keterlibatan pemerintah dan pihak terkait di daerah, pelaku industri dapat memastikan agar hak-hak anak – untuk belajar di sekolah, bermain dengan teman, dan mendapatkan tidur malam yang nyenyak – benar-benar terlindungi.

Baca artikel lain tentang kolaborasi GAR dengan pakar ketenagakerjaan eksternal 

| | |