Ruang Berita

Tokoh

Postcards from the field: Perjalanan dari perkebunan kelapa sawit hingga pabrik oleokimia di Riau


Setelah bergabung menjadi karyawan Sinar Mas Agribusiness and Food selama 6 bulan, akhirnya saya mendapatkan kesempatan untuk menginjakkan kaki di perkebunan kelapa sawit milik perusahaan di Libo, Riau. Perkebunan ini berada dekat dengan fasilitas penelitian perusahaan SMART Research Institute (SMARTRI) yang dipimpin oleh Direktur JP Caliman dan sekaligus menjadi pemandu perjalanan tur kami kali ini.

Peserta berkumpul di depan mess perkebunan kelapa sawit Libo, Riau.

Bersama dengan 36 peserta dari media nasional dan internasional saya mempelajari cara kerja industri hulu kelapa sawit di perkebunan hingga industri hilir yang menghasilkan produk turunan oleokimia. Tur bersama media ini merupakan rangkaian acara peresmian pabrik oleokimia di Dumai milik Sinar Mas Agribusiness and Food dan perusahaan energi global terpadu asal Spanyol bernama Cepsa.

Cantiknya burung hantu sang pengendali hama alami
Cuaca panas terik mengiringi perjalanan saya bersama teman-teman media menuju tempat penangkaran burung hantu. Ya, peran burung dengan indera pendengaran paling sensitif ini begitu penting untuk menjaga area perkebunan kelapa sawit. Mereka membantu memangsa hama tikus yang membuat sarang dan memakan tandan buah segar kelapa sawit.  Hewan berbulu halus warna putih dan cokelat ini dirawat dengan baik oleh para penjaga burung hantu.

Pemandu tur menjelaskan tentang fungsi burung hantu di perkebunan kelapa sawit.
Tyto Alba (Serak Jawa), burung hantu berbulu putih dan cokelat lembut berukuran 30 cm

Cicipi tandan buah segar langsung dari kebun
Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju perkebunan kelapa sawit menggunakan mobil  secara beriringan.  Sejauh mata saya memandang keluar jendela, hanya ada hamparan perkebunan kelapa sawit yang hijau dan luas. Sempat terbersit dalam benak saya betapa kayanya sumber daya alam Indonesia sebagai produsen kelapa sawit terbesar dunia yang memajukan roda perekonomian tanah air.

Setelah sampai di perkebunan kelapa sawit , dari kejauhan saya sempat melihat adanya tumpukan benda berwarna cokelat yang menyerupai wig rambut.  Rasa penasaran membuat jejak langkah kaki saya menghampirinya. “Janjang kosong kelapa sawit ini kami manfaatkan kembali sebagai bahan pupuk kompos,” ungkap JP Caliman sembari menunjuk ke tumpukan janjang kosong tandan kelapa sawit.

JP Calliman (paling kanan) menjelaskan bagaimana janjang kosong kelapa sawit dimanfaatkan sebagai pupuk kompos.

Setelah itu kami mengamati bagaimana cara memanen tandan buah segar kelapa sawit. Seketika saya mengeluarkan ponsel pribadi untuk merekam prosesnya. Kemampuan pemanen saat memanen pohon kelapa sawit setinggi 25 meter membuat saya terkesima. Hanya dalam waktu kurang dari 30 detik sebuah tandan buah segar kelapa sawit yang beratnya mencapai 25 kilogram jatuh ke tanah dan para peserta spontan berteriak, “Wow!” Setelah dipanen, supir truk menunjukkan cara mengangkut tandan buah segar kelapa sawit untuk dikirim ke pabrik.

Pemanen kelapa sawit yang mahir memangkas cabang pohon kelapa sawit yang tinggi.
Proses pengangkutan tandan buah segar yang cepat.

Selanjutnya saya menghampiri  kerumunan peserta di sekitar hamparan tandan buah segar kelapa sawit yang baru saja dipanen.  Meski kelapa sawit menjadi penyumbang devisa terbesar Indonesia hingga Rp 239 trilyun, banyak di antara kami yang belum pernah melihat langsung apalagi mencicipi buahnya. Beberapa di antara mereka terlihat asyik mencobanya sementara yang lain menunjukkan ekspresi yang aneh. Saya pun tertarik untuk ikut merasakannya langsung. Uniknya, buah ini terasa manis seperti sawo dan gurih seperti margarin. Tekstur daging buahnya yang seperti margarin meninggalkan jejak warna kuning di jemari tangan saya. Satu kalimat yang saya ingat dari CEO Perkebunan Sinar Mas Wilayah Riau Frans Costan saat ia ikut memakannya,“ Kita harus berterima kasih sama biji buah kelapa sawit ini karena kita mendapatkan gaji dari sini,”ujarnya sambil tertawa.

Tandan buah segar kelapa sawit berwarna merah tua dengan citarasa unik

Megahnya pabrik olekimia di Indonesia
Usai menjelajahi perkebunan kelapa sawit, keesokan harinya kami menelusuri pabrik oleokimia Sinar Mas Cepsa di Dumai. Pabrik  dengan investasi senilai 300 juta Euro (Rp 4,77 Triliun) ini memproduksi alkohol lemak dari minyak inti sawit berkelanjutan untuk produk pembersih rumah tangga dan perawatan pribadi. Kilang minyak kelapa sawit milik Sinar Mas Agribusiness and Food juga terletak persis di sebelah pabrik oleokimia ini sehingga bahan baku dapat langsung disalurkan ke pabrik oleokimia untuk mempercepat proses produksi. Kami juga mendapatkan kesempatan untuk bertemu langsung dengan mereka yang bekerja di balik industri ini dalam mengoperasikan mesin dan memantau kerja setiap mesin pabrik.

Mengelilingi pabrik oleokimia baru Sinar Mas Cepsa di Dumai.

Perjalanan ini tentu membuat pemahaman serta apresiasi di tempat saya bekerja menjadi lebih tinggi. Berbicara langsung dengan mereka yang bekerja di lapangan, saya menemukan bahwa ternyata perlu dedikasi yang tinggi dan rasa cinta untuk mengurus perkebunan serta merawat pohon kelapa sawit. Semua dimulai dari riset dan pengembangan bibitnya hingga pohon-pohon kelapa sawit  tumbuh subur dan akhirnya menghasilkan produk pilihan terbaik. Perjalanan ini juga telah membuka mata saya bahwa ternyata hidup saya dipenuhi oleh produk sehari-hari yang terbuat dari oleokimia berbasis kelapa sawit.

Sampai berjumpa di perjalanan selanjutnya!

| | |