Ruang Berita

Tokoh

Para Guru Mengerahkan Upaya Ekstra Selama COVID-19


Mungkin sudah empat atau lima bulan, saya pun tak ingat lagi, sejak pandemi global menerpa Indonesia. Meskipun dunia bisnis perlahan pulih, banyak sekolah yang tetap ditutup. Selama beberapa bulan terakhir, saya mengamati kerabat dan teman-teman yang mempunyai anak kecil berupaya melakukan segala peran mulai dari menjadi pekerja profesional, ayah/ibu, sekaligus guru bagi anak-anaknya. Sebagai seorang calon ibu, saya bisa memahami perjuangan yang perlu dilalui setiap harinya.  

Selama pandemi ini, pemerintah telah menginstruksikan agar semua sekolah ditutup, dan banyak orang tua yang kini menyadari betapa pentingnya peran sekolah dan guru, sesuatu yang tadinya dianggap biasa saja oleh mereka.

Namun bukan berarti proses belajar harus terhenti. Di kota-kota besar, para guru melakukan proses mengajar secara virtual. Sayangnya, situasinya tidak sama bagi para guru dan murid di area terpencil.

Pendidikan selama ini merupakan hal yang dekat di hati bagi kami di Sinar Mas Agribusiness and Food, sebuah peninggalan dari Bapak pendiri kami, Eka Tjipta Widjaja. Perusahaan kami memiliki lebih dari 280 sekolah di seluruh Indonesia dan melayani anak-anak di sekitar perkebunan serta masyarakat sekitar, yang sebagian besar terletak di wilayah pedesaan. Masing-masing wilayah memiliki karakteristik serta tingkat kesiapan yang berbeda sehubungan dengan infrastruktur, seperti internet, sinyal ponsel, dan lain-lain. Proses belajar mengajar dapat menjadi sebuah tantangan dalam situasi semacam ini, namun tidak menghentikan kreativitas para guru dalam menjangkau para muridnya, karena prinsip kami adalah “the show must go on/aktifitas tetap harus terus berlangsung”.

Pada beberapa daerah seperti Medan dan Riau, di mana koneksi internet dapat dikatakan cukup baik, guru-guru dapat memakai perangkat komunikasi berbasis internet, seperti WhatsApp, untuk memberikan materi dan tugas kepada para muridnya.   

Namun kondisinya sangat berbeda di Jambi, mengingat sebagian murid berasal dari Suku Anak Dalam. Mereka tidak punya akses terhadap komputer, ponsel, maupun internet. Sehingga untuk memastikan mereka mendapat pendidikan yang diperlukan, para guru melakukan kunjungan ke rumah setidaknya dua kali seminggu; dari rumah ke rumah, dari satu murid ke murid lainnya.


Agung mengendarai sepeda motornya melewati jalan licin untuk menghampiri rumah muridnya.
Tina dari SD Eka Tjipta Cantung di Kalimantan Selatan tak henti mengajar murid-muridnya dengan mengikuti kebijakan kesehatan dan keselamatan yang ketat.


Setiap pagi, Agung Kurniawan, kepala sekolah SD Eka Tjipta Sapiri, yang tinggal di Kalimantan Tengah, bangun pukul lima pagi. Ia naik ke atas sepeda motornya lalu berkendara satu jam lamanya menuju sekolah. Begitu sampai di sekolah, bersama guru-guru lain, Agung mulai merencanakan kunjungan ke rumah-rumah murid di hari itu. Beberapa murid tinggal dekat dengan sekolah, namun beberapa murid tinggal jauh sekali. Agung dan rekan-rekan guru harus melintasi hutan serta sungai untuk mencapai rumah murid-muridnya tersebut.

“Lelah? Tentu saja. Menurut saya wajar jika merasa seperti itu. Kami habiskan berjam-jam untuk naik motor dan mengajar dalam situasi saat ini. Namun semuanya terbayar ketika Anda tahu para murid sudah mendapatkan pendidikan yang mereka perlukan. Kami hadir untuk menyiapkan masa depan mereka,” ujar Agung.

Sebagian besar sekolah di Kalimantan dan Papua masih mengalami kesulitan dalam mendapatkan akses internet. Para guru, anggota masyarakat, dan rekan-rekan kerja saya di perkebunan terus berupaya mencari cara-cara kreatif yang aman untuk memastikan proses belajar mengajar dapat terus berlangsung. Mereka semua berupaya memastikan para murid dapat bertemu guru-gurunya setidaknya dua kali seminggu. Baik melalui cara kunjungan ke rumah maupun kelompok belajar kecil. 

“Yang memberi saya kekuatan untuk terus mengajar kendati banyak tantangan yang kami hadapi adalah semangat para murid untuk belajar. Luar biasa sekali. Awalnya, saya khawatir mereka takkan begitu komit layaknya jika belajar di sekolah, namun tanggapan mereka benar-benar mengejutkan. Meskipun tanpa pengawasan langsung, mereka tetap menyerahkan tugas secara rutin,” jelas Tina, salah satu guru dari SD Eka Tjipta Cantung, Kalimantan Selatan.


Hadawiyah, guru di SMP Eka Tjipta Bumi Palma Lestari Persada, menumpang speed boat untuk menjangkau rumah salah satu muridnya di Riau.
Hadawiyah mengumpulkan tugas dari rumah salah satu muridnya di Riau.


Agar semua ini dapat terwujud, semua pihak harus menjalankan perannya dalam situasi “normal baru”. Kapan saja dibutuhkan, bus sekolah Perusahaan kami siap mengantar para guru untuk berkeliling dari rumah ke rumah, dan kantor regional kami terbuka untuk digunakan sebagai tempat pertemuan, tentunya dengan menerapkan aturan kesehatan dan keselamatan. Selain itu, para guru yang memakai kendaraan pribadi untuk melakukan kunjungan rumah dapat meminta ganti biaya bensin mereka melalui program dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) dari pemerintah.  

Saya pribadi sangat terinspirasi oleh para guru dan murid dari sekolah-sekolah di Sumatra, Kalimantan, dan Papua. Kendati banyaknya tantangan yang dihadapi, mereka tetap dapat memaksimalkan situasi. Kita seringkali menganggap segala sesuatu memang sudah seharusnya, sampai akhirnya sungguh kehilangan hal itu. Dalam kasus ini, kita sering meremehkan pentingnya guru dalam kehidupan anak-anak kita. Saya belajar bahwa menjadi guru butuh kerja keras dan dedikasi. Saya yakin banyak dari kita, baik itu guru, orang tua, maupun anak-anak, yang tidak sabar menanti sekolah kembali dibuka.  

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang guru-guru yang luar biasa serta pengalaman mereka selama pandemi ini, silakan klik di sini.

| | |