Bagi banyak produsen makanan, minyak sawit adalah bahan utama. Minyak sawit memengaruhi konsistensi produk, mendukung perencanaan produksi, membantu pengelolaan biaya, dan memperkuat keamanan pasokan dalam jangka panjang.
Tetapi, ketika pola iklim semakin sulit diprediksi, pertanyaan “bagaimana kita dapat menjamin pasokan tetap andal?” menjadi lebih penting daripada sebelumnya.
Yang terjadi di kebun pada akhirnya akan sampai ke pabrik. Karena memengaruhi hasil panen, iklim juga memengaruhi perencanaan pasokan, keputusan pengadaan, dan relasi bisnis jangka panjang.

Di Golden Agri-Resources (GAR), kami yakin bahwa ketahanan berawal dari sumbernya. Salah satu peneliti kami yang menggeluti tantangan tersebut adalah Reni Subawati Kusumaningtyas, Agrophysiology Research Officer di SMART Research Institute (SMARTRI). Selama lebih dari satu dekade beliau mempelajari bagaimana kelapa sawit merespons kondisi kekeringan dan perubahan iklim.
Perjalanan Reni bersama SMARTRI berawal sebagai peneliti magang begitu beliau lulus kuliah. Yang awalnya berupa peluang untuk menerapkan studi berlanjut menjadi karier yang berkembang selama hampir dua dekade, didorong oleh ketertarikannya pada cara tumbuhan merespons lingkungan disekitarnya.
Mengapa kekeringan juga berdampak di luar kebun
Kekeringan adalah salah satu risiko iklim terbesar yang mengancam kelapa sawit. Tidak seperti banyak fenomena cuaca lainnya, pengaruh kekeringan sering kali terjadi tidak pada saat itu juga. Musim kemarau saat ini dapat mengurangi hasil panen pada bulan-bulan berikutnya, memengaruhi produksi di kemudian hari dan bukan hanya hasil panen saat ini.
Agar dapat bertumbuh serta menghasilkan buah, pohon kelapa sawit membutuhkan kecukupan pasokan air yang stabil. Bila pasokan air terus berkurang, hasil tandan buahnya pun akan lebih sedikit, yang mengakibatkan hasil panen berikutnya tidak konsisten.
Hasil penelitian SMARTRI menunjukkan bahwa setiap kekurangan 100 mm air dapat menurunkan produksi 8—10% pada panen tahun berikutnya. Industri minyak sawit di seluruh Indonesia mengalami kerugian produktivitas akibat kekeringan hingga melebihi angka US$4,5 miliar per tahun.
Bagi petani sawit, hal itu berarti penurunan hasil panen dan berkurangnya pendapatan. Bagi produsen makanan, penurunan hasil panen di hulu dapat mengakibatkan ketidakpastian pasokan, meningkatkan kecenderungan perubahan harga, serta menyulitkan perencanaan jangka panjang.
Mengubah riset menjadi inovasi
Ketahanan perlu dimulai jauh sebelum kekeringan tiba. Itulah alasan kami berinvestasi pada riset jangka panjang untuk membantu petani beradaptasi dengan perubahan iklim.
Salah satu hasil dari investasi tersebut adalah bibit DxP Dami Mas MTK (Moderate Toleran Kekeringan). Dikembangkan oleh SMARTRI, benih ini merupakan bahan tanam kelapa sawit toleran kekeringan tingkat sedang yang pertama kali diakui secara komersial di Indonesia.
Hasil kerja dan pengujian lapangan selama lebih dari satu dekade memastikan kinerja bibit tersebut sebelum memasuki pasar.
Saat musim kering, DxP Dami Mas MTK secara konsisten mampu mencatat produktivitas setidaknya 12% lebih tinggi daripada bahan tanam standar. Dalam peristiwa iklim yang lebih ekstrem, termasuk El Niño pada tahun 2015 dan Dipole Samudera Hindia tahun 2018, keunggulan hasil panennya melebihi 25%.

Bagi Reni, keberhasilan bukan tentang menciptakan benih yang dapat mengatasi dampak kekeringan sepenuhnya.
“Kami tidak bisa menjanjikan benih yang 100% tahan kekeringan,” jelas Reni. “Tetapi berkat MTK, penurunan produktivitas panen akibat kekeringan dapat dikurangi secara signifikan. Di situlah nilai utamanya.”
Pertanyaan yang terus membuatnya termotivasi
Kisah tentang bibit yang unggul ini tidak bermula dari laboratorium. Semuanya dimulai dari sebuah pengamatan.
Pada tahun 2010, para peneliti kami mengamati sesuatu yang tidak biasa di Lampung, Indonesia. Sejumlah kecil pohon sawit tetap menghasilkan produktivitas tinggi sekalipun terjadi kekeringan parah saat itu. Tim peneliti kami tidak menganggap hal itu sebagai sekadar kebetulan, tetapi mereka ingin tahu mengapa bisa demikian.
Bagi Reni, pengamatan itu memicu pertanyaan yang mendasari kerja penelitian beliau selama sepuluh tahun berikutnya.
Beliau ingin memahami apa yang terjadi di bawah permukaan tanah. Apa yang membuat sejumlah pohon sawit tetap mampu melakukan proses fotosintesis padahal pasokan air berkurang? Apakah karakteristik yang dimiliki pohon-pohon sawit itu dapat membantu petani bertahan dalam menghadapi perubahan iklim dengan lebih baik?
Di situlah letak kegembiraan dalam melakukan riset, menurut Reni.
“Sebagian orang mengira bahwa riset adalah usaha mencari jawaban. Yang lebih tepat, riset adalah belajar mengajukan pertanyaan yang lebih baik.”
Sepuluh tahun, satu tujuan
Pohon kelapa sawit tidak mudah mengungkapkan rahasianya. Hasil yang menjanjikan di fasilitas pembibitan membutuhkan waktu tahunan sampai terbuktikan di lapangan. Setiap temuan yang menjanjikan harus mampu melewati musim tanam berikutnya, kekeringan berikutnya, dan rangkaian validasi berikutnya.
“Tentu saja kami mengalami saat-saat ketika kami bertanya-tanya apakah kami berada di jalur yang tepat. Tetapi itulah bagian dari penelitian. Anda terus mengajukan pertanyaan, mengumpulkan bukti, dan membiarkan bukti tersebut mengarahkan Anda.”
Pendekatan tersebut telah menjadi pegangan Reni sejak awal penelitian.
“Atasan saya berulang kali mengatakan, ‘Seorang peneliti boleh melakukan kesalahan, tetapi tidak pernah boleh berbohong.’ Pernyataan tersebut membekas di dalam diri saya sepanjang karier. Penelitian ilmiah harus selalu berlandaskan integritas.”
Lebih dari sepuluh tahun kemudian, jawaban yang mereka cari akhirnya berwujud dalam bibit DxP Dami Mas MTK.

Bagi Reni, letak pencapaiannya bukan pada bibit itu sendiri, melainkan manfaat yang diberikan bibit itu bagi petani yang mengandalkannya.
“Melalui inovasi ini, kami berharap dapat mendukung industri minyak sawit yang lebih tangguh dan berkelanjutan,” katanya. “Tetapi, lebih daripada itu, saya berharap hasil kerja ini dapat membantu memperkecil kerugian penghasilan petani saat musim kering.”
Sama seperti orang-orang yang mendorong semangat beliau di awal karier, Reni berharap dapat menjadi inspirasi bagi para peneliti generasi berikutnya.
“Setiap penemuan penting berawal dari seseorang yang mengajukan pertanyaan. Saya bersyukur bekerja di sebuah lingkungan yang mendorong rasa ingin tahu dan memberi orang-orang kesempatan untuk saling bertukar ide lalu mewujudkannya menjadi solusi. Saya berharap semakin banyak perempuan akan menyadari bahwa tersedia ruang bagi mereka untuk bertumbuh serta membuat perubahan nyata melalui ilmu pengetahuan.”
Mempertahankan pasokan minyak sawit di masa mendatang
Ketidakstabilan iklim akan terus memengaruhi pertanian hingga bertahun-tahun mendatang. Tak ada satu inovasi pun yang sanggup meniadakan dampak cuaca ekstrem. Namun, investasi jangka panjang dalam riset/penelitian dapat membantu mengurangi pengaruhnya serta meningkatkan ketahanan di seluruh rantai pasok.
Bagi kami, bibit DxP Dami Mas MTK adalah satu contoh hasil dari investasi tersebut. Bibit itu dihasilkan melalui penelitian selama bertahun-tahun demi membantu petani beradaptasi pada perubahan cuaca. Dan pada gilirannya, hasil adaptasi itu membentuk rasa percaya lebih besar dalam diri pelanggan tentang jaminan pasokan minyak sawit mereka untuk jangka panjang.
Bagi tim pengadaan, pertanyaannya bukan lagi apakah perubahan iklim akan memengaruhi pertanian, melainkan bagaimana para pemasok bersiap menghadapinya. Perbedaannya terletak pada mereka yang berinvestasi hari ini demi membangun pasokan yang lebih tangguh di masa mendatang.
Temukan lebih banyak inovasi yang membantu petani beradaptasi pada dunia yang terus berubah.
Kegiatan Bisnis
Yayasan
Pencapaian
Tata Kelola Perusahaan
Perubahan Iklim
Keberperanan Komunitas
Kemitraan & Keanggotaan
Hak Asasi Manusia & Hak-Hak Pekerja
Pengadaan yang Bertanggung Jawab
Produksi yang Bertanggung Jawab
Sertifikasi
Laporan Keberlanjutan
Oleokimia
Bioenergi
Inovasi Makanan & Nutrisi
Berita Pers
Kisah
Temui Pakar Kami
Dalam Berita
Publikasi
Informasi bagi Pemegang Saham
Keterbukaan Informasi
Informasi Keuangan
Prospek Pemasok
Dukungan bagi Pemasok Sawit
Tanya Jawab
Pemasok Non-Sawit Saat Ini
Sarjana & Profesional
Beasiswa
Magang