Ruang Berita

Tokoh

Kabar terbaru dari para perempuan Extraordinary Everyday


Empat tahun lalu Sinar Mas Agribusiness and Food menampilkan kisah sejumlah karyawan dalam kampanye Extraordinary Everyday, yang bertujuan untuk mengangkat kisah nyata orang-orang di balik layar dalam produksi minyak kelapa sawit yang bertanggung jawab. Di antara mereka, ada empat sosok perempuan – dengan peran berbeda-beda – yang menggambarkan bagaimana bekerja di industri yang umumnya banyak terdiri dari kaum laki-laki ini.

Di Hari Perempuan Internasional ini, kami kembali menjumpai Novi, Punjung, Dokter Yossy, dan Siti untuk mengetahui bagaimana perubahan hidup mereka sejak peluncuran kampanye Extraordinary Everyday, dan apa pendapat mereka tentang tempat kerja dan masyarakat yang menjunjung tinggi kesetaraan gender.

Novianti Mandasari, Environmental Performance and Monitoring Officer
Ada banyak perubahan yang terjadi sejak 2017. Yang paling signifikan adalah kini saya bekerja di kota asal saya, Jakarta, setelah sebelumnya ditempatkan di salah satu lokasi kebun perusahaan di Riau. Perubahan lain adalah saat ini saya sudah menikah dan mempunyai satu orang anak.

Salah satu tantangan yang saya hadapi di awal bekerja adalah masa menyusui. Saat itu saya masih bekerja di perkebunan dan harus bolak-balik antara kebun dan pabrik kelapa sawit. Sebagai ibu, saya tidak ingin melalaikan kewajiban untuk memberi ASI kepada anak, tetapi saya juga tidak ingin melalaikan tugas pekerjaan. Jadi, saya mengaturnya dengan memompa ASI saat sedang bekerja – terkadang dalam perjalanan di mobil maupun pesawat, terkadang di tengah pekerjaan. Syukurlah, atasan dan rekan satu tim saya terus mendukung dan memberikan fleksibilitas waktu. Dengan begitu, selama jam kerja saya bisa memaksimalkan hasil kerja sehingga ketika harus pamit, hal itu tidak mengganggu ritme pekerjaan. Dan yang terpenting adalah komunikasi, yaitu berkomunikasi dengan rekan satu tim atau atasan.

Selama bekerja di sini (kurang lebih delapan tahun), baik di unit operasional maupun kantor pusat, saya tidak pernah merasa tidak diperlakukan setara oleh perusahaan ataupun rekan kerja. Kami juga menerima kesempatan yang sama. Tentu saja, terkadang itu adalah tentang keadilan, bukan kesetaraan. Misalnya, seorang perempuan berhak memperoleh cuti selama tiga bulan untuk setelah melahirkan dan merawat bayi yang baru lahir. Namun, bukan berarti laki-laki juga harus mendapatkan cuti tiga bulan setelah istrinya melahirkan. Keadilan, menurut saya, lebih penting karena menyangkut pembagian sumber daya berdasarkan kebutuhan penerima manfaat.

Simak kisah Novi selengkapnya di tautan ini.

Punjung Renjani, Food Technologist
Saya masih bekerja dalam bidang nutrisi dan makanan di R&D Centre, Marunda.

Sejak awal bergabung pada 2012,  Sinar Mas Agribusiness and Food telah menjunjung kesetaraan gender. Di tempat kerja ini, saya selalu diberi kesempatan untuk mengutarakan pendapat dan membuat keputusan – tanpa memandang jenis kelamin. Saya percaya bahwa di tempat kerja, hal mendasar yang harus dimiliki perempuan adalah kemampuan menyuarakan pendapat dan didengarkan.

Baca cerita Punjung lebih lengkap melalui tautan ini, dan tonton videonya di sini.

Dokter Yossy Ani Pritarini Purba
Pada awal pandemi COVID-19, tantangan pekerjaan menjadi semakin berat karena rasa khawatir dan tingkat kewaspadaan yang tinggi. Tetapi dengan protokol kesehatan yang lebih ketat saat ini, berbagai hal menjadi lebih aman. Saya bersyukur pekerjaan saya tetap berjalan dengan baik. Rekan kerja dan pasien adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan saya; saat mereka berbagi pengetahuan dan pengalaman hidup, hal itu menginspirasi dan memotivasi saya menjadi seseorang yang lebih baik.

Dengan bertambahnya usia anak-anak saya, fokus dan prioritas hidup saya (beserta suami) juga berubah. Saya dan suami bekerja di lokasi yang berbeda, tetapi kami saling mendukung. Dalam hal ini, saya menghargai rasa saling menghormati satu sama lain di antara kami. Bagi saya, hubungan kami menunjukkan bahwa kesetaraan tidak melulu soal membandingkan pria dengan perempuan, tetapi juga tentang bagaimana bisa saling melengkapi. Menurut saya, dalam mencapai kesetaraan gender, masih ada beberapa “aturan” seperti prinsip agama dan kaidah sosial tertentu yang perlu diperhatikan. Mohon jangan disalahpahami; saya mendukung kesetaraan gender; tetapi jika kita tidak mau mengikuti aturan sama sekali, hanya akan ada kekacauan.

Kisah Dokter Yossy dapat dibaca selengkapnya di sini.

Siti Musyaropah, Guru
Sejak peluncuran kampanye Extraordinary Everyday, saya menjadi lebih sadar akan pentingnya pekerjaan saya dalam mengubah kehidupan. Saya merasa bangga dapat menjadi bagian dari kampanye yang telah menginspirasi banyak orang di luar sana, dan terutama kaum perempuan yang mungkin ingin menapaki jalur karir guru seperti saya.

Saya menghargai adanya peningkatan kesadaran akan kesetaraan gender dan memiliki kesempatan yang sama dalam hidup bermasyarakat. Di kelas saya mengajar, anak didik laki-laki maupun perempuan mendapatkan kesempatan yang sama untuk berpartisipasi. Demikian pula, saya ingin mereka juga bisa memasuki dunia kerja di mana perempuan dan laki-laki sama-sama dapat berpartisipasi dalam segala hal, saling melengkapi, dan menemukan keseimbangan.

Selengkapnya tentang perjalanan Bu Siti dapat dibaca melalui tautan ini, dan tonton videonya di sini.

| | |