Ruang Berita

Rantai Pasok

Sertifikasi ISPO dan Keuntungannya bagi Petani Kelapa Sawit


Salah satu tantangan utama dalam proses sertifikasi kelapa sawit berkelanjutan adalah memastikan bahwa petani juga dilibatkan. Lebih dari 40 persen perkebunan kelapa sawit Indonesia dimiliki oleh petani, namun kurang dari 0,1 persen yang telah bersertifikat.

Indonesian Sustainable Palm Oil atau ISPO adalah proses sertifikasi wajib yang mengikat secara hukum bagi semua pembudidaya kelapa sawit (kecuali petani kecil) dalam negeri. Indonesia juga berupaya agar ISPO dapat menjadi platform utama bagi keberlanjutan nasional. Meskipun saat ini diadakan sukarela bagi petani, pemerintah kini berfokus untuk melibatkan petani demi meningkatkan keberlanjutan mereka.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution baru-baru ini menyatakan bahwa pemerintah sedang mengembangkan kriteria dan standar yang lebih jelas agar petani dapat memperoleh sertifikasi ISPO.

“Kita harus membuat standar untuk usaha kecil dan besar,” ujar Darmin. “Perusahaan atau petani wajib mendapatkan sertifikat ISPO jika telah memenuhi standar.”

Masalah hukum seputar kepemilikan lahan menjadi penghalang utama petani dalam memperoleh sertifikasi. Contohnya, banyak kepemilikan sertifikat tanah yang dikeluarkan oleh institusi lokal di kabupaten alih-alih otoritas pertanahan nasional. Masalah lain timbul apabila tanah mereka terletak di kawasan hutan yang termasuk atau bertentangan dengan rencana tata ruang pemerintah. Masalah semacam ini bahkan tidak disadari oleh para petani. Perubahan praktik mengharuskan petani mengeluarkan biaya di muka yang sulit mereka tanggung, meskipun peningkatan efisiensi dan hasil yang lebih tinggi akan memberikan imbal hasil keuangan dalam jangka panjang. Para petani juga membutuhkan pengetahuan teknis agar mereka dapat mengelola tanaman dengan lebih produktif.

Untuk mengatasi tantangan-tantangan ini, PT SMART baru-baru ini mengadakan pertemuan SMART SEED yang kedua di Medan dengan fokus pada peranan dan pentingnya ISPO, serta praktik terbaik untuk memperoleh sertifikasi. Sebanyak 150 peserta hadir pada pertemuan SMART SEED. Sebagian besar peserta dari petani yang menghadiri sesi di organisir oleh tim PT SMART, selain itu pertemuan ini juga dihadiri oleh perwakilan dari sektor Pangan dan Pertanian Kementerian Perekonomian, Komisi ISPO, Asosiasi Lembaga Sertifikasi Indonesia (ALSI), dan The Forest Trust (TFT).

117_ctfarmer
Seorang petani bersertifikasi berbagi pengalamannya di forum SMART SEED

Jalal Sayuti, seorang petani dari Jambi menjelaskan mengapa hanya segelintir petani yang telah menerima sertifikasi ISPO, “Dulu, kami menerima informasi tentang ISPO tanpa memahami cara mendapatkan sertifikasi. Kami mengerti bahwa kami membutuhkan sertifikasi ISPO untuk dapat menjual produk kami ke perusahaan besar, tetapi kami membutuhkan bantuan untuk mendapatkan sertifikasi tersebut, sehingga acara seperti ini sangat berharga. Saya mengharapkan dukungan lebih dari pemerintah dan perusahaan-perusahaan lain dalam membantu kami memperoleh sertifikasi ISPO.”

Sebagian besar peserta menyatakan bahwa melalui lokakarya ini mereka dapat melihat dan memahami manfaat sertifikasi ISPO. Sebagai skema sertifikasi nasional wajib, sertifikasi ISPO memiliki kendali regulasi yang lebih ketat dan membantu petani kelapa sawit meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan, bertanggung jawab, dan legal.

117_facilitator
Seorang fasilitator menjelaskan bagaimana petani sawit dapat menerima sertifikasi melalui pelatihan dan penyuluhan

“Manfaat sertifikasi ISPO lainnya adalah kesetaraan. Dengan menerima sertifikasi ISPO, kita semua mengikuti aturan dan standar yang sama,” kata H. Narno, seorang petani dari SNV Indonesia. “Dari sesi hari ini, kita melihat bahwa sertifikasi ISPO dapat diperoleh dengan dukungan dari perusahaan seperti Sinar Mas dan pemerintah, dan kami berharap lebih banyak lagi petani swadaya yang bisa menerima keuntungan dari sesi ini.”

| | |