Ruang Berita

Masyarakat

Membongkar tiga mitos terbesar tentang minyak kelapa sawit


Saya bekerja sebagai spesialis media sosial di Sinar Mas Agribusiness and Food, dan belum genap setahun sejak saya melangkah memasuki dunia sawit yang menakjubkan.

Di satu sisi, industri sawit memiliki perhatian besar atas potensi dan manfaatnya; di sisi lain, industri ini dihujani begitu banyak sentimen negatif. Sejak hari pertama bekerja, saya telah melihat rentetan kesalahan informasi yang beredar secara online tentang komoditas minyak sawit. Judul berita yang mengandung kemarahan dan bersifat negatif menarik perhatian pembaca, dan mereka dengan cepat ikut menyalahkan tanpa memahami permasalahan.

Seperti yang dapat Anda bayangkan, berada di industri yang kontroversial, pekerjaan saya adalah menginformasikan, mengedukasi, dan mengoreksi banyak persepsi negatif yang dimiliki pengguna internet tentang minyak sawit. Sering kali saya merasa kesulitan untuk memberikan tanggapan yang mengena, terutama dengan batasan 280 karakter, mengingat betapa rumitnya persoalan tersebut.

Saya akan menyampaikan beberapa kesalahpahaman terbesar yang dimiliki pengguna internet tentang minyak sawit, terutama yang muncul di feed media sosial Sinar Mas Agribusiness and Food.

Mitos 1: Minyak kelapa sawit tidak sehat


Minyak kelapa sawit memberikan banyak sekali manfaat bagi kesehatan. Minyak kelapa sawit secara alami bebas lemak trans dan memiliki kandungan tinggi vitamin A – 15 hingga 30 kali lebih tinggi daripada wortel dan tomat. Minyak kelapa sawit juga mengandung tokoferol dan tokotrienol, yang merupakan komponen penyusun antioksidan Vitamin E. Antioksidan alami ini bertindak sebagai pengumpul radikal bebas oksigen yang merusak. Kemajuan terbaru menunjukkan sifat biologis unsur tersebut dalam melindungi tubuh dari kanker, penyakit kardiovaskular, neurodegenerasi, stres oksidatif, dan pengaturan kekebalan tubuh. Minyak kelapa sawit juga salah satu dari sedikit lemak nabati jenuh alami yang mampu mengurangi lipoprotein densitas rendah (kolesterol jahat) dalam darah.

Ketika membahas minyak kelapa sawit, kita juga perlu mengidentifikasi fraksi yang berbeda – minyak dari berbagai bagian buah (dan bahkan inti sawit). Kita harus melakukannya karena setiap bagian (fraksi) memiliki kandungan asam lemak jenuh, tak jenuh tunggal, dan tak jenuh ganda.

Palm olein, fraksi cair buah sawit yang biasa digunakan sebagai minyak goreng, adalah sumber asam lemak tak jenuh tunggal yang kaya – sama seperti minyak zaitun. Palm stearin, fraksi padat buah, biasa digunakan sebagai margarin. Margarin selalu dibandingkan dengan saudaranya yang berbahan dasar susu, yaitu mentega. Sebagai seseorang yang suka memasak, saya akui bahwa mentega lebih baik dalam hal rasa yang lebih kaya dan tekstur yang lebih lembut. Namun, demi alasan khusus terkait kesehatan, mentega tidak lebih baik daripada margarin karena kandungan lemak jenuhnya tiga kali lebih banyak. Selain itu, margarin ramah bagi vegan dan bahkan lebih baik untuk lingkungan— info lebih detail mengenai perbedaan di antara keduanya dapat dibaca di sini.


Mitos 2: Minyak
kelapa sawit menyebabkan deforestasi

Tidak semua kelapa sawit ditanam dengan cara yang sama. Di masa lalu, teknik budidaya kelapa sawit memang menyebabkan deforestasi. Namun, industri sawit telah berkembang dan dengan praktik-praktik baru, kelapa sawit yang ditanam secara berkelanjutan lebih baik bagi lingkungan daripada kebanyakan tanaman minyak nabati lain.

Sinar Mas Agribusiness and Food berkomitmen untuk memproduksi minyak kelapa sawit secara bertanggung jawab dan aktif bekerja sama dengan rantai pasok Perusahaan untuk menghapus praktik pertanian yang sudah ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sinar Mas Agribusiness and Food merupakan salah satu perusahaan agrobisnis besar pertama di dunia yang menerbitkan Kebijakan Konservasi Hutan bekerja sama dengan The Forest Trust (TFT). Perusahaan juga telah memetakan lahan seluas 72.000 hektar (setara luas Singapura) dalam area konsesi Perusahaan untuk tujuan konservasi.

Banyak perusahaan minyak kelapa sawit juga telah menjawab seruan untuk memiliki rantai pasok yang lebih mengutamakan kemamputelusuran dan transparansi. Pekerjaan ini berlangsung di seluruh sektor sawit. Berdasarkan laporan tahunan Supply Change, sektor sawit telah membuat lebih banyak Komitmen Nihil Deforestasi dibanding komoditas terkait deforestasi lainnya, dan berbuat lebih untuk mengimplementasikannya.

Mitos 3: Minyak kelapa sawit melanggar hak asasi manusia


Di agribisnis, masalah sosial lebih sulit dideteksi dan diverifikasi daripada masalah lingkungan. Seperti yang sering atasan saya, Anita Neville, kemukakan, “Sayangnya, masalah sosial tidak muncul di citra satelit dan Anda tidak dapat mengirim drone untuk memeriksa kondisi manusia secara khusus.” Hal itu juga bisa bersifat subjektif; misalnya, jika seorang anak membantu ayahnya di perkebunan keluarga selama liburan sekolah, apakah itu akan dianggap melakukan pekerjaan rumah, atau mempekerjakan anak di bawah umur?

Perusahaan yang lebih besar seperti kami memiliki komitmen seperti:

Tetapi, tidak semua petani mengetahui atau memiliki kapasitas untuk menerapkan perubahan yang mungkin membutuhkan lebih banyak biaya. Kuncinya adalah bekerja sama dengan rantai pasok, terutama dengan petani kelapa sawit, untuk memastikan mereka dapat membuat perubahan berkelanjutan dalam praktik berkebun, tanpa mengorbankan mata pencaharian. 

Penutup
Saya teringat saat menerima undangan dari Sinar Mas Agribusiness and Food untuk melamar pekerjaan ini setahun yang lalu. Boleh dibilang kebetulan, karena saat itu saya baru saja menonton sebuah film berjudul Miss Sloane (drama fiksi yang lumayan memukau mengenai seorang pelobi), dan film tersebut diawali dengan pemeran utama wanita yang sibuk mengurai kompleksitas industri sawit. Dan saat itu saya belum tahu bahwa saya akan menjadi seorang Miss Sloane dalam kehidupan nyata, meskipun sebagian besar secara online.

Setelah berada di sini selama hampir satu tahun, saya memiliki rasa hormat yang baru terhadap orang-orang yang bekerja di industri yang kompleks dan sebagian besar disalahpahami ini. Terlepas dari banyaknya upaya petani kelapa sawit yang bertanggung jawab untuk membuat tanamannya ramah lingkungan, industri ini tampaknya belum dapat melepaskan stigma masa lalu, terutama di platform online di mana industri sawit diserang begitu banyak hal negatif dari keyboard warrior.

Sebagai netizen yang bertanggung jawab, saya berharap daripada sembarangan membagikan pandangan yang tidak berdasarkan riset atau sains, lebih baik meluangkan waktu untuk memeriksa fakta dan memahami kompleksitas masalah – kelapa sawit atau persoalan lainnya – sebelum mengklik tombol “suka” yang begitu menggoda.

Tentang penulis:
Geraldine Lim adalah Social Media Specialist di Sinar Mas Agribusiness and Food. Dia bekerja dan menggeluti semua bidang yang menyangkut internet. Saat sedang tidak berada di dunia maya, dia suka berpetualang di dapur.
| | |