Ruang Berita

Lingkungan Hidup

Boikot minyak kelapa sawit bukan jawaban untuk selamatkan lingkungan hidup


Sejak peluncuran iklan terbaru Islandia (yang awalnya dibuat oleh Greenpeace) tentang Rangtan, seekor orangutan yang mencari perlindungan di rumah gadis kecil, ratusan dan ribuan selebritis, figur terkenal (influencer), dan para konsumen seakan berlomba-lomba menunjukkan sikap tentang minyak kelapa sawit. Baik dengan berbagi video tersebut secara online, menandatangani petisi untuk mencabut larangan iklan, maupun memboikot produk yang bersangkutan – minyak kelapa sawit – banyak kalangan terdorong untuk bertindak karena retorika video yang mudah dipahami.

Namun, pesan sederhana itu sama sekali tidak menyiratkan kerumitan masalah yang dihadapi, dan banyak pakar keberlanjutan telah menjelaskan mengapa video tersebut tidak mencerminkan refleksi akurat mengenai minyak kelapa sawit dan apa saja yang perlu dilakukan. Kami telah memilih sejumlah artikel, dan merangkum sejumlah pertanyaan terpenting yang jawabannya Anda perlu ketahui seperti di bawah ini:

Mengapa iklan Islandia itu dilarang tayang di televisi Inggris?

Peraturan perundangan tentang penyiaran di Inggris menyatakan, “Sebuah iklan bertentangan dengan larangan iklan politik jika iklan itu: iklan yang disisipkan oleh atau atas nama badan yang objeknya seluruhnya atau sebagian besar bersifat politik”. Iklan itu awalnya bukan dibuat oleh Islandia, tetapi berbulan-bulan lalu dibuat oleh kelompok lingkungan hidup Greenpeace. Karena Greenpeace dianggap merupakan organisasi politik, iklan tersebut jelas melanggar peraturan perundangan. Clearcast (yang sebenarnya bukan regulator), sebagai perusahaan yang menghapus iklan atas nama stasiun komersial besar di Inggris, telah menyatakan bahwa hal yang menjadi perhatian pihaknya “tidak menyangkut konten atau pesan dalam iklan tersebut”.

Mengapa kampanye Islandia ini menyesatkan?

Dalam kampanye Greenpeace yang melekat pada awal video, seruan itu adalah untuk meninggalkan minyak kelapa sawit yang tidak berkelanjutan. Namun, pesan yang disampaikan Islandia terlalu menggeneralisasi hingga menyebutkan bahwa semua minyak kelapa sawit itu buruk dan negara tersebut berjanji untuk menghapus semua minyak kelapa sawit dalam produknya sampai tidak ada lagi penghancuran hutan hujan. Seperti yang dikatakan penulis isu-isu konservasi, Minhyuk Seo, “Menggunakan hiperbola dan menyederhanakan persoalan dalam dikotomi baik/buruk’ adalah alat pemasaran yang mungkin bagus untuk menarik khalayak ramai di tingkat dasar, tetapi dapat merugikan kampanye lingkungan jika audiens akhirnya memiliki gagasan kuat bahwa semua minyak kelapa sawit buruk dan akhirnya kembali ke alternatif minyak yang kurang efisien dan menggunakan lahan lebih luas.”

Mengapa Islandia tidak melakukan hal yang benar?

Sebelum mengumumkan boikot minyak kelapa sawit (dalam produk sendiri) pada April 2018, Islandia mendapatkan peringkat terendah untuk minyak kelapa sawit menurut kelompok kampanye Ethical Consumer. Alih-alih bergabung dalam diskusi tentang bagaimana agar minyak kelapa sawit dapat lebih berkelanjutan, pengesampingan oleh Islandia ini merongrong sejumlah besar pekerjaan yang dilakukan peritel lain (seperti Marks & Spencer, Tesco, dan Aldi) yang benar-benar telah memperbaiki rantai pasok minyak kelapa sawitnya

Mengapa boikot minyak kelapa sawit bukan hal yang tepat untuk dilakukan?

Beberapa organisasi telah melakukan penelitian mendalam dan pemodelan mengenai topik ini untuk menentang boikot. Sebuah laporan International Union for the Conservation of Nature (IUCN),  menyimpulkan bahwa boikot minyak kelapa sawit akan memindahkan – bukan menghentikan – hilangnya keanekaragaman hayati. Hal itu karena minyak kelapa sawit, sebagai tanaman minyak paling produktif, diganti dengan minyak nabati lain seperti kedelai, rapa, dan bunga matahari, yang membutuhkan lebih banyak lahan, pupuk, dan pestisida untuk menghasilkan minyak dalam volume yang sama.

Laporan Komisi Uni Eropa menyatakan bahwa saat ini luas lahan yang diperlukan minyak kelapa sawit merupakan yang terkecil dibanding semua tanaman minyak lainnya, dan bahwa jika kita mengganti minyak kelapa sawit dengan minyak kedelai, akan dibutuhkan lahan lebih luas hingga 200%.

Faktanya, seperti ditunjukkan Piers Morgan, luas lahan yang digunakan untuk minyak kelapa sawit hanya 0,4% dari total area pertanian di seluruh dunia, sedangkan kontribusinya terhadap deforestasi di tingkat global kurang dari separuh dibandingkan yang disebabkan kedelai dan sepersepuluh jika dibandingkan dengan yang disebabkan oleh produksi ternak dan daging sapi. Dengan angka-angka ini, tidakkah boikot kedelai atau daging sapi akan lebih efektif dalam menyelamatkan lingkungan?

Apa yang harus saya lakukan selain memboikot produk minyak kelapa sawit?

Menghilangkan minyak kelapa sawit bukanlah jawabannya – menggunakan minyak kelapa sawit berkelanjutan yang bersertifikat harus menjadi jalan yang ditempuh ke depan. Ada beberapa cara untuk melakukan hal ini:

  1. Carilah produk dengan label bersertifikasi RSPO. Ini berarti produk tersebut memperoleh minyak kelapa sawit dari produsen berkelanjutan dan memiliki sertifikasi terkait.
  2. Mendukung perusahaan yang berkomitmen pada pengadaan minyak kelapa sawit berkelanjutan. Penilaian SPOTT dan kartu skor WWF adalah beberapa situs web yang memberi indikasi tentang bagaimana kinerja perusahaan dalam mewujudkan minyak kelapa sawit yang bertanggung jawab.
  3. Jika merek favorit Anda tidak mendukung minyak kelapa sawit berkelanjutan yang bersertifikat, informasikan kepada mereka dan mintalah agar mereka

Semakin kuat pasar untuk minyak kelapa sawit berkelanjutan yang bersertifikasi, semakin besar insentif bagi perusahaan, dan juga petani kelapa sawit, untuk memenuhi standar ini. Di sisi lain, mendorong boikot akan mengurangi insentif dalam mengambil langkah-langkah ini dan berpotensi menghambat upaya yang tengah dilakukan untuk mengubah cara industri kelapa sawit berproduksi.

Apa itu minyak kelapa sawit berkelanjutan?

RSPO adalah badan sertifikasi utama industri kelapa sawit yang menyatukan berbagai pemangku kepentingan di satu wadah, untuk menyusun dan menerapkan standar minyak kelapa sawit berkelanjutan global. Definisi luas dari minyak kelapa sawit berkelanjutan mencakup:

  • Memenuhi permintaan pangan global yang semakin meningkat
  • Mendukung harga pangan yang terjangkau
  • Mendukung pengentasan kemiskinan
  • Menjaga kepentingan sosial, komunitas, dan tenaga kerja
  • Melindungi lingkungan hidup dan satwa liar

Ada skema sertifikasi lain yang juga mendorong produksi berkelanjutan termasuk ISCC, skema sukarela lain yang digunakan dalam pasar bioenergi, dan skema wajib di tingkat nasional seperti ISPO di Indonesia dan MSPO di Malaysia, yang dikembangkan pemerintah masing-masing dalam rangka menetapkan persyaratan minimum di satu negara. RSPO adalah yang paling dikenal dan diakui secara global

Apa itu minyak kelapa sawit berkelanjutan?

RSPO adalah badan sertifikasi utama industri kelapa sawit yang menyatukan berbagai pemangku kepentingan di satu wadah, untuk menyusun dan menerapkan standar minyak kelapa sawit berkelanjutan global. Definisi luas dari minyak kelapa sawit berkelanjutan mencakup:

  • Memenuhi permintaan pangan global yang semakin meningkat
  • Mendukung harga pangan yang terjangkau
  • Mendukung pengentasan kemiskinan
  • Menjaga kepentingan sosial, komunitas, dan tenaga kerja
  • Melindungi lingkungan hidup dan satwa liar

Ada skema sertifikasi lain yang juga mendorong produksi berkelanjutan termasuk ISCC, skema sukarela lain yang digunakan dalam pasar bioenergi, dan skema wajib di tingkat nasional seperti ISPO di Indonesia dan MSPO di Malaysia, yang dikembangkan pemerintah masing-masing dalam rangka menetapkan persyaratan minimum di satu negara. RSPO adalah yang paling dikenal dan diakui secara global

Apa hal berbeda yang dilakukan oleh produsen dengan sertifikasi berkelanjutan?

Mereka menaati Prinsip dan Kriteria RSPO untuk memproduksi minyak kelapa sawit secara bertanggung jawab, memberikan dampak positif optimal kepada masyarakat, dan menimbulkan dampak negatif seminimal mungkin bagi lingkungan hidup.

Mengapa minyak kelapa sawit tidak buruk, tetapi penting untuk masa depan

Minyak kelapa sawit memainkan peran penting dalam mewujudkan pencapaian sejumlah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) PBB. Bila diproduksi secara bertanggung jawab, minyak ini dapat menurunkan tingkat kemiskinan, mengurangi kelaparan dunia, membawa pertumbuhan ekonomi, membantu mewujudkan kesehatan yang baik, dan menyediakan pendidikan di negara-negara berkembang, serta mengurangi ketidaksetaraan.
Secara sederhana, kelapa sawit hanyalah tanaman – yang tidak jahat. Sebenarnya yang menjadikannya berbeda adalah merek yang bekerja di baliknya.

Berikut ini tulisan lain yang dapat membuka wawasan Anda lebih luas:

| | |