Ruang Berita

Teknologi dan R&D

Ketika ilmu pengetahuan dan praktik lapangan berjalan beriringan


Pada tahun 2050 populasi dunia diperkirakan mencapai 9,8 miliar. Jumlah tersebut meningkat 25% dari total populasi saat ini, yaitu 7,8 miliar pada tahun 2020. Rata-rata konsumsi minyak dunia per kapita juga diperkirakan akan naik seiring meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Industri sawit harus siap menghadapi tantangan untuk menyediakan pangan dan bahan bakar bagi dunia tanpa melakukan pembukaan lahan baru.

Inovasi bahan tanam baru
Peneliti kami di SMART Research Institute (SMARTRI) terus mencari cara untuk meningkatkan produktivitas minyak per hektar dari area tanam yang ada.

Perusahaan berfokus pada penciptaan gen unggul untuk membuat bahan tanam baru. Pada tahun 2017, setelah beberapa dekade percobaan dan penelitian, dua klon tanaman elit Eka 1 dan Eka 2 terpilih dan berhasil didaftarkan di badan sertifikasi tanaman Indonesia. Penanaman komersial skala besar Eka 1 dan Eka 2 saat ini sedang berlangsung.

Klon tanaman kelapa sawit ini berpotensi meningkatkan produksi minyak sawit mentah Perusahaan lebih dari 25%, dan bahkan lebih tinggi lagi dibanding rata-rata yang dicatat industri sawit di Indonesia. Namun, memiliki bahan tanam baru saja tidak cukup. Hasil perhitungan menunjukkan terdapat kesenjangan antara potensi genetik terkait hasil panen yang dicapai dan hasil aktual. 

Penelitian dan praktik agronomi seiring sejalan
Untuk menjembatani kesenjangan ini, penanaman dan budidaya kelapa sawit harus dilakukan dalam kondisi yang tepat. Tim peneliti juga berupaya mengoptimalkan praktik agronomi agar berhasil mencapai potensi produktivitas maksimum. Kami bekerja sama dengan tim di kebun untuk memastikan mereka menerapkan praktik terbaik ini.

Dibanding benih konvensional, kedua klon kelapa sawit tersebut memerlukan perawatan dan perlakuan ekstra dalam penanganannya, mulai dari pengiriman dari laboratorium kultur jaringan hingga pada saat penanaman di kebun bibit.

Kiri: Sebuah planlet hasil klon siap ditanam di persemaian. Kanan: Pekerja menanam planlet hasil klon di persemaian.

Dari laboratorium ke perkebunan
Dengan kecanggihan fasilitas SMART Biotechnology Centre di Sentul, dekat Bogor, kami mereplikasi klon tersebut. Keduanya diangkut sebagai planlet (juga dikenal sebagai ramet) dengan akar dan sedikit daun. Ramet lalu diangkut melalui jalan darat dari Bogor ke bandara di Jakarta, di mana mereka diterbangkan pada hari yang sama atau keesokan paginya menuju bandara setempat yang terdekat dengan kebun bibit tujuan. Kemudian, ramet harus menempuh perjalanan sulit terakhir melalui jalur darat ke kebun bibit, yang bisa memakan waktu setengah hari.

Kiri: Ramet siap dikirim. Kanan: Membuka kemasan ramet di lokasi kebun bibit.

Ramet yang rapuh dan sensitif perlu dilindungi dari suhu panas dan dingin ekstrem. Sensor iklim menemani paket pengiriman untuk merekam suhu dan kelembapan relatif (tingkat kelembaban) setiap jam selama transit. Informasi tersebut sangat penting untuk menjelaskan kondisi ramet saat tiba di perkebunan. Paparan yang terlalu lama pada suhu tinggi atau rendah selama transit menuju kebun dapat menyebabkan tingginya rasio pemilahan bibit yang tidak memenuhi syarat karena kematian atau pertumbuhan yang buruk.

Perubahan suhu dua kotak penampung ramet selama pengangkutan dari laboratorium kultur jaringan ke kebun.
Pemeriksaan kualitas ramet setibanya di kebun.

Ramet ditanam di kebun bibit tempat dilakukannya sistem pemupukan dan irigasi, serupa dengan pada pengelolaan bibit konvensional. Setelah 12 bulan di persemaian, ramet yang tumbuh sehat siap untuk ditanam di lapangan.

Mewujudkan potensi genetik klon kelapa sawit
Penanaman di lapangan dilakukan pada musim hujan. Periode tanam yang baik ditentukan berdasarkan data iklim jangka panjang yang dikumpulkan oleh stasiun cuaca otomatis yang berlokasi di seluruh kebun. Waktu tanam sebenarnya pada akhirnya ditentukan oleh kondisi cuaca saat itu dan ada tidaknya kelembapan tanah. Ketersediaan curah hujan dan kelembapan tanah diukur dan diperbarui setiap hari. Data ini digunakan untuk menentukan waktu tanam serta jenis dan waktu pemberian pupuk.

Stasiun cuaca di perkebunan mengumpulkan data iklim setiap jam secara otomatis.

Melalui praktik agronomi terbaik ini, kami dapat mengharapkan pertumbuhan optimal dari kelapa sawit yang dibudidayakan. Kami terus mempelajari data yang dikumpulkan di kebun untuk memantau pertumbuhan dan tren hasil panen sehingga Perusahaan dapat melakukan perubahan jika diperlukan.

Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut pekerjaan yang kami lakukan di bidang R&D.



Tentang penulis
Yong Yit Yuan adalah Head of the Plant Breeding Department di SMART Research Institute (SMARTRI). Saat ini, beliau bertugas meningkatkan efisiensi seleksi dan mengurangi siklus (interval) pemuliaan kelapa sawit melalui seleksi dengan bantuan molekul serta teknik dan alat pemuliaan yang canggih. Sebelum bergabung dengan SMARTRI pada tahun 2006, Yit Yuan bekerja sebagai pemulia kelapa sawit di stasiun penelitian kelapa sawit Malaysia. Dia telah berkontribusi pada banyak artikel tentang pemuliaan kelapa sawit di konferensi maupun seminar internasional.
Yit Yuan memiliki gelar Magister Pemuliaan Tanaman dari University of Wales.
| | |