Ruang Berita

Masyarakat

Cara kerja: Pelaporan titik api


Musim kemarau di Indonesia berlangsung pada bulan Agustus hingga Oktober setiap tahun. Selama periode ini risiko kebakaran hutan kebun dan lahan (Karhutbunla) cenderung lebih tinggi dan berpotensi mengakibatkan kabut asap.

Beberapa faktor yang sering menjadi pemicu terjadinya kebakaran  yaitu :

  • Cuaca kering sebagai akibat rendahnya curah dan frekuensi hari hujan,
  • Aktivitas pembukaan lahan untuk pertanian oleh masyarakat,
  • Ketidaksengajaan (membuang puntung rokok, meninggalkan perapian di hutan, dll)

Dalam beberapa tahun terakhir, karhutbunla begitu erat disandingkan dengan bisnis perkebunan kelapa sawit. Setelah menetapkan Kebijakan Nihil Bakar (Zero Burning Policy) pada 1997, Sinar Mas Agribusiness and Food menjalin kerjasama dengan banyak mitra dalam hal  implementasi praktik-praktik bisnis kelapa sawit berkelanjutan, dengan fokus utamanya adalah mencegah dan mengelola kebakaran supaya tragedi bencana kabut asap pada tahun 2015 tidak terulang kembali.

Sinar Mas Agri juga telah menginvestasikan sebagian besar waktu dan sumber daya untuk menyiapkan sistem pelaporan yang akurat. Pelaporan ini meliputi  i) pemantauan titik api harian, ii) penyiapan prosedur operasi standar (SOP) untuk pencegahan dan penanganan kebakaran, iii) mengedukasi dan meningkatan kewaspadaan karyawan , dan iv) memberikan pelatihan mengenai cara-cara menyusun laporan kebakaran yang efektif dan informatif.

Pelaporan titik api yang baik sangat penting karena dapat membantu untuk mendapatkan respon yang lebih cepat kepada Tim Kesiapsiagaan Tanggap Darurat (TKTD), penanganan api yang lebih tepat, dan keakuratan informasi tentang penyebab kebakaran.  Sustainability Dashboard kami perbarui secara rutin supaya informasi yang terlaporkan selalu segar dan aktual.

Karyawan kami

Unit operasional kami menjamin  kebakaran tak luput dari perhatian dan dikelola dengan protokol yang benar. Pada masing-masing unit, ada Regional Sustainability Palm Oil Officer (SPO) atau Field Sustainability Implementation Manager (FSIM), yang bertanggung jawab atas laporan kebakaran di masing-masing konsesi. Mereka dibantu oleh Regional Surveyor yang menangani verifikasi lahan dengan akurat menggunakan Global Positioning System (GPS). Mereka bekerja sama dengan Divisi Sustainability di HO untuk mengimplementasikan seluruh komponen keberlanjutan yang tertuang dalam Kebijakan Sosial dan Lingkungan GAR (KSLG).

Dengan meningkatnya tensi pada kewaspadaan dan kesiapsiagaan bahaya kebakaran, karyawan diminta lebih proaktif. Mereka rutin melakukan patroli harian untuk melihat situasi maupun potensi yang mengarah pada kejadian kebakaran. Sehingga unit tidak hanya mengandalkan laporan deteksi dalam pemantauan titik api dari HO, melainkan kesadaran, kepedulian dan rasa memiliki tanah tempat tinggal itulah yang menjadi standar motivasi mereka dalam bekerja.

Sinar Mas Agri saat ini memetakan area  yang rawan kebakaran agar lebih siap. Dengan memprioritaskan area, kami menjalankan program Desa Makmur Peduli Api (DMPA), tim kami menggunakan data-data dari pemantauan titik api dan faktor-faktor utama insitu seperti curah hujan, jenis tanah dan pola penggunaan lahan. Oleh karena itu kami dapat mengalokasikan sumber daya ke daerah-daerah yang lebih rawan kebakaran dan menentukan jenis program yang sesuai untuk diterapkan  di masing-masing wilayah tersebut sesuai dengan profil risikonya.

Upaya menghentikan kebakaran hutan adalah usaha bersama. Pelajari lebih lanjut apa yang kami lakukan bersama dengan karyawan dan komunitas kami.

| | |