menu bar
close-grey

Visi Jangka Panjang Bangun Ketahanan Pertanian Pakistan

Posted: Jun 26, 2024 11 minute read SMART 1 Likes
Imran J. Nasrullah, Managing Director Kawasan Afrika, Timur Tengah, dan Asia Selatan
Imran J. Nasrullah membahas prospek pertanian Pakistan, manfaat pertanian korporasi, dan perlunya menyusun undang-undang untuk standar pangan yang lebih baik.

T: Mari kita mulai dengan gambaran singkat tentang latar belakang profesional Anda dan apa yang dilakukan Golden Agri-Resources (GAR)?

Imran: Jabatan yang saya emban berskala regional. Saya bertanggung jawab untuk Kawasan Asia Selatan, Timur Tengah, dan Afrika. Saya telah berkecimpung di sektor komoditas pertanian selama hampir 28 tahun, dan dalam 12 tahun terakhir secara khusus menggeluti bisnis korporasi yang berhubungan dengan pertanian. Saya tidak mengaku sebagai pakar agribisnis. Namun, tentunya saya memiliki pengalaman membangun bisnis di berbagai wilayah. GAR merupakan pemain yang sangat besar di sektor agribisnis. Perusahaan ini termasuk dalam 10 perusahaan agribisnis terbesar di dunia, dan memiliki salah satu perkebunan kelapa sawit terbesar di Indonesia. Kami bekerja sama dengan petani yang tergabung dalam struktur Perusahaan maupun dengan petani sawit di seluruh Indonesia. Ini adalah perusahaan yang kegiatan utamanya adalah pertanian. Kami salah satu pemain terbesar di industri sawit, dan Perusahaan mendistribusikan produk sawitnya ke lebih dari 100 negara. Kelapa sawit sangat serbaguna, mulai dari minyak goreng, bahan bakar terbarukan, lemak khusus, pakan ternak hingga oleokimia dan bahan kimia khusus.

T: Kapan GAR mulai masuk ke Pakistan?

Imran: Tahun 2013 sebagai importir produk sawit. Yang saya maksud dengan produk sawit adalah produk minyak goreng atau palm olein yang kemudian dirafinasi menjadi minyak nabati. Semua pemain minyak nabati terkemuka – Dalda, Mezan, Soya Supreme, dan Sufi – adalah pelanggan kami. Mereka membeli berbagai produk dari kami dan memurnikannya melalui proses rafinasi. Kami juga menyalurkan produk untuk membuat shortening, margarin, dan lemak biskuit. Dalam hal ini Perusahaan bekerja sama dengan EBM dan CandyLand. Kami juga bergerak di bidang oleokimia (yang digunakan untuk membuat sabun dan sampo) dan, sekitar setahun yang lalu, kami meluncurkan bisnis pakan ternak. Pakistan kini menjadi pusat pakan ternak kami di kawasan ini, dan Perusahaan akan meluncurkannya di Timur Tengah dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di Pakistan.

T: Apakah Anda memiliki lahan pertanian di Pakistan?

Imran: Tidak. Di Pakistan, kami sendiri tidak ingin menjadi petani yang bekerja untuk perusahaan, namun kami ingin bekerja sama dengan mereka, tetapi dalam skala besar. Kami ingin membekali mereka dengan pengetahuan tentang praktik pertanian terbaik yang kami pelajari selama bertahun-tahun di Indonesia. Sebagai contoh, kanola, kedelai, rapa, dan mostar atau sesawi merupakan tanaman asli Pakistan jika dipandang dari perspektif minyak nabati. Tanaman-tanaman tersebut dapat dibudidayakan di sini dan minyak yang diekstrak dapat menjadi pengganti sebagian minyak kedelai impor. Kami ingin melihat pertumbuhan industri biji penghasil minyak di Pakistan sebagai solusi untuk impor minyak nabati. Ketika diolah, biji-biji ini menghasilkan banyak bubuk – atau disebut tepung (meal) – yang diekstrak dan digunakan dalam industri pakan ternak.

T: Apakah kerja sama Anda dengan merek minyak goreng Pakistan hanya dalam hal memasok komoditas tersebut?

Imran: Ya, tidak satu pun dari mereka yang terjun ke pertanian korporasi; bidang mereka adalah pemrosesan. Mereka membeli minyak dari kami dan memurnikannya lewat rafinasi.

T: Di bidang apa Anda berinteraksi dengan berbagai merek terkait aspek pertanian dari Perusahaan mereka?

Imran: Bidang pakan ternak. Mayoritas perusahaan besar peternakan sapi di Pakistan adalah pelanggan kami. Tahun lalu, kami meluncurkan produk yang bernama GoNutri Energy, sebagai bahan yang dapat ditambahkan ke ransum pakan ternak agar produksi lemak susunya meningkat sehingga didapatkan produktivitas dan kualitas yang lebih baik. Kandungan lemak dalam susu harus tinggi agar bisa digunakan untuk membuat mentega. Kami memiliki pakar susu yang bekerja di peternakan-peternakan tersebut sebagai konsultan. Pada dasarnya mereka adalah ilmuwan kedokteran hewan dan bertugas memberikan konsultasi teknis di sana.

T: Mengapa Pakistan masih menjadi salah satu negara dengan produksi susu terendah di dunia?

Imran: Di Pakistan, hasil produksi susu harian diperkirakan sekitar 4-6 liter, masih jauh dibanding kapasitas produksi perusahaan peternakan besar di Eropa dan AS dengan rata-rata 20-30 liter. Secara keseluruhan, pakan hanya memainkan salah satu peran – kebersihan dasar, kondisi pemeliharaan hewan, jumlah air, dan naungan yang didapat – semuanya memengaruhi hasil panen. Itu sebabnya manajer pertanian multinasional bekerja sama dengan perusahaan pertanian terkemuka di Pakistan untuk memperkenalkan praktik-praktik terbaik. Kini perusahaan peternakan sapi perah di Pakistan sudah lebih baik, tetapi perjalanan mereka masih panjang. Hal itu terkait dengan transisi atau perkembangan industri pertanian korporasi di Pakistan. Bila Anda memiliki peternakan kecil yang memelihara 800 ekor hewan dibanding 5.000 hewan, skalanya berubah dan kondisi hewan pun secara keseluruhan jauh lebih baik.

T: Merek apa saja yang bekerja sama dengan GAR di bidang ini?

Imran: Kami menjalin kerja sama dengan Nishat, Sapphire, Dayfresh, Everfresh, dan Dada Dairies. Mereka kemudian memasok ke berbagai perusahaan, seperti Nestlé, Milkfields, Prema, dan Goodmilk.

T: Sudahkah GAR mempertimbangkan untuk terjun ke sektor pertanian korporasi di Pakistan?

Imran: Tidak, kendati kami telah didekati sejumlah entitas di Pakistan. Kami terbuka untuk berbagi apa yang telah kami pelajari tentang praktik agronomi berkelanjutan – berdasarkan pengalaman di Indonesia di mana Perusahaan bekerja sama dengan 7.000 petani (dari target sebanyak 100.000 petani) dan mengajari mereka praktik-praktik pertanian terbaik. Pertanian korporasi adalah ilmu dan pengetahuan yang dapat dialihkan dan kita dapat bermitra untuk melakukannya.

Praktik agronomi berkelanjutan – salah satu keterampilan yang diajarkan kepada petani untuk meningkatkan praktik pertanian mereka

 

T: Bagaimana Anda menjelaskan aspek keilmuan di balik pertanian korporasi?

Imran: Hal ini tentang penerapan proses untuk mengukur kinerja, peningkatan, dan produktivitas. Untuk itu, kita memerlukan pelaku yang sehari-harinya bekerja di lapangan. Lalu, ada juga aspek terkait kemamputelusuran. Pelanggan di negara maju menginginkan agar makanan mereka dapat ditelusuri dan, untuk itu, petani perlu menyadari bagaimana hal tersebut memengaruhi mereka, yaitu fakta bahwa jika menghasilkan produk yang dapat ditelusuri, mereka akan menerima pemasukan lebih baik. Pertanian korporasi juga soal mendidik dan mengajar. Bagaimana kita memperlakukan limbah? Bagaimana kita mengelola energi dan sumber daya air? Tantangan Indonesia, dan yang juga akan dihadapi Pakistan, adalah lahan. Indonesia tidak ingin menebang lebih banyak pohon untuk memperluas lahan sawit, sehingga pertanyaannya adalah bagaimana kita dapat menghasilkan lebih banyak dari luas lahan yang sama. Bagaimana hal itu dicapai? Apakah hanya dari penggunaan pupuk? Apakah ini soal teknologi yang diterapkan? Apakah drone perlu digunakan untuk memahami kondisi tanah? Semua hal itu dapat dikembangkan sebagai bagian dari ilmu pertanian korporasi.

T: Menurut Anda, mengapa secara keseluruhan kinerja pertanian Pakistan masih di bawah standar? Tampaknya kita tahu solusinya, namun tidak mampu menerapkannya. Apa alasannya?

Imran: Tantangan yang dihadapi Pakistan terkait rendahnya hasil panen dan produktivitas bukan hal unik; kita melihatnya terjadi di mana-mana. Pendapatan petani tidak cukup tinggi dan generasi muda tidak mau bertani; mereka lebih memilih pergi ke kota besar dan menjadi pengemudi Uber atau Careem. Di seluruh dunia populasi petani semakin menua. Selain itu, terdapat fakta bahwa petani berskala kecil tidak mendapatkan input dan pendanaan sejumlah yang mereka perlukan; ada perantara (arthis) yang memanipulasi sebagian ekosistem pertanian dan, pada titik

“Berbagai tantangan di sektor pertanian Pakistan menjadikan struktur pertanian korporasi menjadi hal fundamental. Kita perlu berpikir secara holistik untuk menanganinya, dengan mengintegrasikan petani berskala kecil, produktivitas, hingga keberlanjutan dan kemamputelusuran.”

tertentu, mengeksploitasinya. Ada banyak masalah dan kita tidak dapat mengatasi semuanya sekaligus. Tantangan-tantangan inilah yang menjadikan struktur pertanian korporasi fundamental bagi negara seperti Pakistan. Pertanian korporasi dapat menghasilkan perbaikan; buktinya dapat kita lihat di industri susu. Hal serupa juga terjadi di komoditas kentang pada Lay’s. Pepsi bekerja sama dengan petani melalui sistem kontrak. Mereka memberi petani benih dan mengucurkan kredit untuk menanam kentang. Bayangkan jika praktik ini diperluas ke jagung, gandum, beras, gula atau tanaman penghasil minyak. Jika terwujud, Anda akan memiliki masa depan jangka panjang yang berkelanjutan dan mengintegrasikan petani berskala kecil ke gambaran yang lebih besar. Di samping tantangan seperti kelangkaan air dan degradasi lahan, pemupukan berlebih juga menjadi masalah. Bila Anda mengekspor pisang ke Uni Eropa, pisang tersebut akan ditolak karena kandungan timbal di lahan kita terlalu tinggi. Tantangan lainnya adalah membudidayakan tanaman yang salah. Kita memerlukan kebijakan pertanian yang seimbang. Pertanian korporasi telah membawa kemajuan signifikan di Indonesia dan kini mereka menjadi anggota G20. Di Pakistan, kita harus bersabar dan mengambil perspektif 20-30 tahun ke depan untuk memperbaiki keadaan.

T: Apa perbedaan antara pertanian kontrak dan pertanian korporasi?

Imran: Petani kontrak adalah perorangan dan mereka bertani untuk suatu badan usaha. Misalnya, Pepsi tidak ingin terjun ke dunia pertanian. Jadi, mereka menyatakan akan membantu petani menanam kentang terbaik di dunia dengan menyediakan benih dan pembiayaan. Ada banyak petani kontrak yang menanam kentang untuk Pepsi; Ngomong-ngomong, kentang Pakistan kini termasuk di antara kentang terbaik untuk Pepsi di seluruh dunia. Nah, itu adalah sistem pertanian kontrak. Pertanian korporasi adalah ketika sebuah perusahaan memiliki lahan seluas 5.000 hektar dan mempekerjakan petani sebagai karyawan. Di Indonesia, selain petani mereka sendiri, menurut undang-undang agribisnis juga harus menyertakan sejumlah petani berskala kecil sebagai salah satu cara untuk mengentaskan masyarakat dari kemiskinan – cara yang sangat progresif dalam melakukan sesuatu. Hal itu adalah sesuatu yang akhirnya bisa terwujud di Pakistan.

T: Apakah kentang Lay’s yang Anda bahas bisa didapatkan oleh konsumen biasa?

Imran: Skalanya terlalu kecil dan peningkatan skala untuk hal semacam itu masih di luar kemampuan Pepsi.

T: Apakah itu berarti produk berkualitas tidak tersedia untuk konsumen Pakistan?

Imran: Ya. Namun, susu berkualitas baik tersedia di sini dalam kemasan kotak, meski hanya bagi sebagian kecil yang mampu membelinya. Masalahnya adalah masih kurangnya regulasi. Peraturan perlu dibuat untuk menjamin kualitas pangan yang lebih baik. Paling tidak, jika undang-undang mengenai pasteurisasi disahkan dan diterapkan, akan ada peningkatan permintaan terhadap susu yang lebih berkualitas, yang pada gilirannya meningkatkan permintaan akan pakan yang lebih berkualitas dan, karenanya, rantai pasok yang lebih rapi. Pemerintah perlu merancang undang-undang seputar standar dan keamanan pangan, dan pihak-pihak seperti kami dapat membantu karena kami bekerja sama dengan otoritas pangan di seluruh dunia. Ke sanalah segala sesuatu seharusnya diarahkan. Jika undang-undang yang tepat diberlakukan di bidang susu, sektor sapi perah akan meroket dan mampu menghasilkan produk bernilai tambah, seperti susu terhidrasi atau susu formula, dan mengekspornya. Pemerintah perlu memainkan peran dalam legislasi dan implementasi, kemudian sektor swasta mengambil alih. Fakta bahwa kita tidak memiliki kentang berkualitas bagus adalah karena tidak ada peraturan mengenai kualitas pangan. Jika kualitas pangan bukan suatu persyaratan, pertanyaannya adalah untuk apa petani berinvestasi agar dapat memproduksinya secara massal?

T: Apakah kurangnya peraturan ini disebabkan oleh sikap apatis atau kepentingan terselubung?

Imran: Saya tidak ingin terlibat dalam perdebatan politik, tetapi tidak ada bedanya pertanian dengan sektor lain di Pakistan. Mengenai apakah disebabkan kepentingan terselubung atau sikap apatis, menurut saya hal tersebut adalah kombinasi dari beberapa hal. Saat ini, dua pertiga penduduk Pakistan mengalami kerawanan pangan. Seandainya diambil tindakan lebih awal, kita tidak akan berada dalam situasi ini. Kita tidak akan mengimpor pangan besar-besaran atau, paling tidak, kita akan mengekspor pangan yang dapat kita produksi dengan baik dan tidak mengimpor pangan yang dapat kita produksi sendiri.

T: Apakah GAR juga terlibat dalam bidang pertanian lain di luar sawit dan pakan ternak untuk sapi perah?

Imran: Kami juga bergerak dalam industri gula. Kami memperdagangkan sekitar satu juta ton gula. Tahun lalu Perusahaan membeli gula dari Pakistan dan memperdagangkannya ke Afrika Barat. Namun, tanaman gula Pakistan tidak konsisten dan memiliki tantangan tersendiri karena peraturan pemerintah dan masalah lain, sehingga tanaman ini tidak dapat diekspor secara konsisten. Kita juga harus ingat bahwa sumber daya air di Pakistan langka dan gula memerlukan air yang sangat banyak. Kami juga bekerja sama dengan beberapa pemain oleokimia dalam produksi sabun dan sampo serta perusahaan makanan berkualitas tinggi di Pakistan. Perusahaan seperti CandyLand, EBM, dan Young’s mencoba berinovasi dalam hal kualitas produk. Kerja sama juga kami jalin dengan merek global seperti McDonald’s, Krispy Kreme, dan Pizza Hut untuk mengembangkan resep produk yang lebih berkualitas, dan kami mencoba mengembangkan keterampilan tersebut di Pakistan.

T: Dengan merek seperti EBM dan CandyLand, apakah Anda hanya memasok satu produk atau lebih dari itu?

Imran: Tentu saja kami memasok produk, tetapi kami juga menjalin diskusi yang lebih luas dengan berbagai merek terkait populasi perkotaan yang lebih sadar akan standar dan keamanan pangan. Ada 30 juta orang di Karachi dan baik ibu rumah tangga maupun generasi muda sama-sama menginginkan kualitas makanan yang lebih baik. Jadi, merek-merek mengajukan pertanyaan kepada kami tentang bagaimana mereka dapat membenahi produk mereka dan di sinilah keahlian kami menjadi relevan. Ada peluang besar untuk bekerja sama dengan merek-merek tersebut guna memperbaiki produk mereka dari segi rasa maupun nutrisi. Inilah yang membedakan kami dengan banyak pesaing lain yang hanya menjual produk. Perusahaan memiliki pusat inovasi di Jakarta di mana para koki kami mengembangkan produk yang lebih berkualitas dengan aroma dan citarasa yang lebih baik. Salah satu impian kami adalah memiliki pusat serupa di kawasan ini, mungkin di Dubai. Dan kini, semakin banyak perusahaan Pakistan yang berpartisipasi di Gulfood Dubai.

Laboratorium Penelitian dan Pengembangan (R&D) Marunda, Indonesia – tempat kami mengembangkan produk makanan baru dan inovatif untuk pelanggan dan konsumen

T: Apakah Pakistan memberikan penekanan yang tepat pada pelatihan ahli gizi dan ilmuwan pangan terbaik?

Imran: Ada banyak potensi di Pakistan, tetapi secara sistematis jumlah talenta yang tepat belum dapat kita hasilkan. Sektor swasta melatih masyarakat untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri dan mengirim mereka ke luar negeri. Kembali lagi, ini adalah persoalan regulasi dan legislasi. Jika tidak ada permintaan terhadap pangan bermutu, tidak akan ada permintaan terhadap ilmuwan pangan yang berkualitas. Akibatnya, mereka lebih memilih pergi ke Dubai atau ke tempat lain, karena lingkungan di Pakistan tidak mendukung. Harus ada ekosistem yang tepat untuk menyerap talenta tersebut.

T: Apakah Pakistan memiliki fondasi yang diperlukan untuk menciptakan ekosistem yang memprioritaskan standar dan keamanan pangan?

Imran: Menurut saya, ekosistem itu sendiri belum ada, walaupun saya melihat ada bagian-bagian yang memberi harapan. Harapan saya, bagian-bagian ini terhubung dan menjadi satu kesatuan besar yang berfungsi optimal.

Wawancara oleh Mariam Ali Baig, yang versi aslinya diterbitkan di Aurora. Artikel ini diterbitkan ulang di sini dengan izin.

Temukan produk sawit berkualitas tinggi kami yang dirancang untuk memenuhi permintaan global, dengan jangkauan distribusi di lebih dari 100 negara. Pelajari Produk & Layanan kami lebih lanjut.

fb twitter linkedin mail