menu bar
close-grey

Refleksi kehadiran di Climate COP pertama saya, di saat perusahaan sedang berupaya mewujudkan transisi iklim di sektor pertanian yang adil dan inklusif

Posted: Dec 07, 2022 6 minute read Anita Neville 84 views
Bersama kolega GAR di COP27
Bersama kolega GAR di COP27 di Sharm El Sheikh, Mesir.

Masih terbayang dengan jelas di benak saya hiruk pikuk peserta COP 27 kemarin, ketika saya hadir untuk pertama kalinya pada perhelatan Konferensi Perubahan Iklim PBB di Mesir.  Besarnya skala acara tersebut, dengan lebih dari 33.000 delegasi berkumpul di Sharm El Sheikh, Mesir, sungguh luar biasa dan telah memicu berbagai pemikiran dan pertanyaan terkait emisi karbon meskipun konsep dan istilah yang digunakan sudah akrab di telinga.

Saya yakin bahwa berkumpulnya para pembuat kebijakan, ilmuwan, pelaku bisnis, dan berbagai  tokoh yang berperan penting dalam mengambil tindakan untuk menjamin masa depan kehidupan di bumi, memang sangat diperlukan. Namun hal ini menimbulkan sebuah pertanyaan, di tengah banyaknya suara yang berbicara, apakah sungguh ada yang mendengarkan?

Nyatanya, hingga tahap tertentu, mereka sungguh mendengarkan. Seruan dari negara Pakistan “Apa yang terjadi di Pakistan tidak akan tinggal di Pakistan” (terpampang di pintu masuk paviliun negara itu) menggalang tanggapan dari negara-negara maju yang berkomitmen pada dana bantuan untuk mengatasi kerusakan dan kerugian akibat bencana iklim. Hal tersebut merupakan kabar baik yang cukup mengejutkan. Mesir menepati janjinya untuk menempatkan pangan dan pertanian ke dalam agenda iklim. Sementara itu, beberapa juru kampanye mungkin kecewa dengan hasil yang didapatkan, namun kenyataan bahwa pertanian mendapatkan tempat dalam konferensi ini patut untuk disambut dengan baik.  Yang masih belum terwujud adalah pendanaan investasi untuk mendukung transformasi sistem pangan, yang sangat kita butuhkan, jika kita hendak mengurangi jejak iklim dari sektor yang bertanggung jawab atas 30 persen emisi global.

Investasi pada rantai pasok kami telah mendorong sektor kelapa sawit ke arah yang benar

Baik bagi Sinar Mas Agribusiness and Food secara khusus, maupun bagi industri minyak kelapa sawit secara umum, Peta Jalan Sektor Pertanian Menuju 1,5°C atau yang dikenal dengan Agriculture Sector Roadmap to 1.5°C, yang melengkapi masuknya sektor  pangan dan pertanian ke dalam proses United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), merupakan tonggak yang sangat penting. Saya sungguh bangga atas peranan penting yang telah dijalankan industri kelapa sawit dalam menyusun peta jalan dan menentukan sasaran, setelah bertahun-tahun berinvestasi pada rantai pasok kami untuk menghilangkan deforestasi serta mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Rasanya sangat menyegarkan melihat pengakuan atas upaya Indonesia untuk mengatasi sumber emisi karbon tersebut, ditambah lagi beberapa organisasi telah mengakui fakta bahwa Indonesia berhasil mengurangi deforestasi selama lima tahun berturut-turut, termasuk  berkurangnya kontribusi perkebunan kelapa sawit pada kerusakan hutan yang telah mencapai titik terendah  dalam 20 tahun terakhir. Keberhasilan ini tercapai akibat perpaduan dari dampak peraturan pemerintah serta komitmen perusahaan, dan hal ini memperlihatkan betapa pentingnya kerja sama yang erat dengan pemerintah negara produsen minyak kelapa sawit.

Sejak dibuatnya Kebijakan Konservasi Hutan Perusahaan pada tahun 2011, serta penerapan Kebijakan Sosial dan Lingkungan Perusahaan pada tahun 2015, kami telah bekerja secara konsisten untuk menekan jumlah deforestasi yang terkait rantai pasok kami. Langkah pertama yang penting dalam upaya tersebut adalah komitmen terhadap kemamputelusuran ke perkebunan. Tahun ini, kami telah mencapai sekitar 96 persen kemamputelusuran secara penuh ke perkebunan untuk seluruh pasokan minyak kelapa sawit kami. Kemamputelusuran membuat kami lebih memahami keterbatasan dan peluang keterlibatan rantai pasok kami untuk melangkah maju menuju produksi minyak kelapa sawit yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Melalui proyek-proyek seperti Sawit Terampil, kami membantu peningkatan kesejahteraan petani swadaya dengan pengembangan alternatif sumber pendapatan, meningkatkan hasil panen mereka, sekaligus memberantas deforestasi yang terkait dengan perluasan lahan pertanian. Melalui inisiatif Perencanaan Konservasi Partisipatif, bersama masyarakat di sekitar area konsesi, kami mengidentifikasi area hutan yang perlu dilindungi. Melalui kerja sama dengan para pemasok besar, kami mendukung komitmen petani di rantai pasok kami untuk melindungi hutan di sekitar kebun mereka. Secara keseluruhan, semua program dan proyek tersebut berkontribusi dalam upaya pengurangan emisi karbon yang bersumber dari deforestasi oleh sektor kelapa sawit, dan secara langsung mendukung target pemerintah Indonesia untuk mewujudkan FOLUnet zero pada tahun 2030.

Mengatasi masalah besar yang menghambat tercapainya tahapan akhir transformasi sektor kelapa sawit

Kita semua sadar bahwa upaya perusahaan saja tidak akan cukup untuk mewujudkan sektor kelapa sawit yang berkeadilan dan berkelanjutan. Masalah besar yang sering sulit disepakati adalah ketersediaan pembiayaan, bahkan pada pertemuan sebesar Pertemuan Iklim PBB di Mesir sekalipun. Dibutuhkan investasi yang signifikan untuk menciptakan rantai pasok yang inklusif serta ramah iklim.

Saat ini, pendanaan global untuk adaptasi dan peningkatan ketahanan di bidang pertanian, kehutanan, dan penggunaan lahan tertinggal cukup jauh di belakang investasi transisi untuk energi dan transportasi. Menurut Climate Policy Initiative hanya 2 persen dari sekitar 850 miliar dolar Amerika yang tersedia dalam pendanaan iklim tahun 2021, yang digunakan untuk mendukung sektor Pertanian, Kehutanan, dan Penggunaan Lahan Lainnya (Agriculture, Forestry and Other Land Use/AFOLU).

Untuk mewujudkan transformasi ‘tahap terakhir’ dalam industri minyak kelapa sawit, sehingga para petani swadaya dan masyarakat dapat menjaga keberadaan hutan diperlukan lebih dari sekedar kontribusi dari mitra rantai pasok kami. Dibutuhkan alternatif pendapatan bagi para petani dan masyarakat yang secara ekonomi sama menariknya dengan pembukaan lahan untuk menanam tanaman komersial tertentu. Untuk mencapai hal tersebut, diperlukan komitmen pada transisi berkeadilan (just transition) untuk sektor pertanian yang setara dengan transisi berkeadilan untuk energi. Lembaga keuangan perlu secara khusus mendukung pelaku terkecil dalam sistem pangan dunia, yakni para petani swadaya. Perusahaan besar seperti Sinar Mas Agribusiness and Food telah berkontribusi meningkatkan keahlian petani sehingga dapat melakukan praktik pertanian yang lebih berkelanjutan, yang bertujuan meningkatkan hasil panen, sementara meminimalkan kerusakan hutan. Investasi keuangan akan berperan penting untuk memastikan kemajuan yang lebih cepat dan berskala besar.

Di COP27, kami melihat kemajuan positif melalui peluncuran Forest and Climate Leaders’ Partnership (FCLP) untuk membantu mewujudkan komitmen yang dibuat saat COP26 untuk menghentikan dan memulihkan kerusakan hutan serta degradasi lahan di tahun 2030. Kami melihat pemerintah berupaya keras mendanai perlidungan hutan dan transisi berkeadilan melalui dukungan bagi petani kecil. Contohnya, negara Brazil, Republik Demokratik Kongo, dan Indonesia, setelah pembahasan panjang selama satu dekade, kini akhirnya menjalin sebuah kemitraan resmi untuk bekerja sama dalam pelestarian hutan serta meningkatkan pendanaan melalui program Reducing Emissions from Deforestation and Forest DEgradation (REDD+) PBB.

Investasi yang optimis, seperti kesepakatan dengan Indonesia  senilai 20 milyar dollar AS yang dibiayai oleh pemerintah dan lembaga keuangan, untuk mengalihkan pembangkit listrik  batu bara menjadi energi bersih, perlu dikembangkan agar dapat mendukung transformasi pertanian. Semua dana itu tidak bisa hanya diinvestasikan dalam protein alternatif, atau pengganti daging berbahan nabati, meskipun inovasi-inovasi tersebut berharga. Harus ada investasi yang berarti dalam penghidupan.

masyarakat pertanian dan pedesaan, agar dapat mewujudkan manfaat penghasilan yang nyata agar hutan dapat bertahan. Peningkatan-peningkatan seperti pemakaian benih berkualitas tinggi, teknik pertanian presisi, penggunaan Internet of Things (IoT), pupuk berlapis, pengomposan, alat-alat baru untuk pemeliharaan dan pemanenan, seiring waktu akan meningkatkan produktivitas dan mengurangi ongkos produksi. Semua peningkatan tersebut dapat disediakan kepada petani swadaya, bahkan hingga batas tertentu juga dapat disediakan bagi masyarakat pedesaan, setelah para petani swadaya terkelola dengan baik dan sumber daya yang diperlukan diberikan oleh perusahaan perkebunan dan industri sawit, pedagang, lembaga keuangan, dan produsen barang konsumen lainnya.

Di tengah kebisingan di COP27, saya mendengar sebuah pengakuan yang hangat terhadap peran yang perlu dimainkan oleh industri pangan dan pertanian dalam membantu kita semua menjaga kelangsung kehidupan di masa depan dengan mencegah kenaikan temperatur permukaan bumi diatas 1,5 °C. Saya harap para pemimpin politik dan pemimpin lembaga-lembaga keuangan dunia mendengarkan dengan sungguh-sungguh bahwa sektor pertanian, kehutanan, dan penggunaan lahan lainnya (AFOLU) membutuhkan lebih dari dua persen dari pendanaan iklim untuk dapat melakukan dekarbonisasi dengan cepat. Kami memerlukan investasi dalam pertanian, khususnya bagi para petani swadaya, untuk mendorong proses adaptasi, mengurangi jejak emisi total dalam sektor ini, serta menciptakan ketangguhan di kalangan masyarakat pedesaan, yang saat ini dan nantinya akan terus menjadi pihak yang paling terdampak oleh perubahan iklim.

Referensi lain:
https://www.un-redd.org/post/record-low-deforestation-rates-indonesia-despite-ongoing-pandemic
https://research.wri.org/gfr/latest-analysis-deforestation-trends?utm_campaign=treecoverloss2021&utm_medium=bitly&utm_source=PressKit
https://nusantara-atlas.org/indonesian-deforestation-and-plantation-expansion-slow/

Tetap up-to-date dengan berita terbaru dengan berlangganan buletin bulanan kami di sini

fb twitter linkedin mail