Ruang Berita

Rantai Pasok

Menjaga minyak sawit yang diproduksi secara berkelanjutan tetap di jalur yang benar selama pandemi COVID-19


COVID-19 membawa begitu banyak perubahan dalam kehidupan pribadi maupun profesional. Baru-baru ini, saya berkesempatan mengobrol dengan Bu Wahyu Wijayanti, seorang wanita bertutur kata lembut yang jenaka, keibuan, dan memiliki pengetahuan serta pengalaman yang luas. Bu Wahyu Wijayanti berbagi kisah bagaimana dia dan timnya berjuang untuk beradaptasi dengan situasi sekarang.

Tugas pekerjaan Bu Wahyu sering kali melibatkan kunjungan lapangan ke pemasok, untuk melaksanakan penilaian dan membantu mereka memenuhi standar keberlanjutan. Tetapi, dengan adanya pembatasan perjalanan saat ini, kunjungan lapangan – jauh ataupun dekat – tidak dapat dilakukan. Namun, rintangan tersebut tidak menghentikan dia beserta tim untuk menemukan solusi alternatif guna memastikan pemasok tetap menerima dukungan yang diperlukan dan menjamin kesinambungan minyak sawit yang diproduksi secara berkelanjutan.

T: Bagaimana kabar Ibu? Saya ingat Ibu sempat bercerita bagaimana Bekerja dari Rumah (Work From Home/WFH) dapat menjadi tantangan bagi Ibu dan tim; jadi persisnya apa yang Ibu lakukan?

Halo. Kabar saya baik-baik saja meskipun WFH merupakan sesuatu yang bisa sangat menantang bagi tim kami. Divisi saya sedang mengerjakan apa yang kami sebut sebagai Penilaian Kepatuhan Pemasok. Jadi, pada sebagian besar kesempatan, kami bekerja bersama lebih dari 400 pemasok pihak ketiga Perusahaan untuk memeriksa secara teratur apakah operasional mereka sudah sesuai dengan Kebijakan Sosial dan Lingkungan GAR (KSLG).

Agar dapat melakukannya, bagian penting dari tugas ini adalah bertemu pemasok, memantau kegiatan yang dilakukan di lapangan, dan juga berkonsultasi dengan mereka mengenai upaya pembenahan terkait. Hingga saat ini, kami telah mengunjungi hingga 100 pemasok. Kunjungan tersebut penting dalam membangun hubungan kerja yang erat dan kuat dengan pemasok, dan membantu memastikan bahwa mereka menerapkan praktik berkelanjutan.

T: Apa saja tantangan yang Ibu hadapi?

Sekarang masalah utamanya adalah bahwa kita harus tetap di rumah saja dan tidak dapat melakukan perjalanan untuk kunjungan lapangan. Biasanya kami menjadwalkan perjalanan selama periode tertentu untuk berkunjung dari satu pemasok ke pemasok lain, sehingga itu akan menjadi serangkaian kunjungan. Tetapi, kini perjalanan domestik pun dibatasi hanya untuk kebutuhan kritis dalam upaya menekan penyebaran virus.

T: Apa yang  Ibu dan tim lakukan untuk mengatasi situasi ini?

Terus terang, awalnya hal itu cukup menguras energi karena kita tidak bisa melakukan hal yang biasa kita kerjakan. Kami telah menggunakan proses tersebut selama bertahun-tahun dan sudah terbiasa menjalankannya. Namun, daya pikir manusia begitu kuat sehingga di bawah desakan situasi seperti ini, kami dapat menemukan cara kreatif untuk tetap melakukan “kunjungan lokasi”. Kami menyebut inisiatif ini SMART Reach (SMART Remote Engagement, Assessment and Conference (call) from Home/Konferensi Jarak Jauh SMART untuk Penilaian dan Keterlibatan Peran).

Penilaian jarak jauh SMART Reach dengan PT KSP.

T: Apa itu SMART Reach?

Pada dasarnya, kami melakukan penilaian jarak jauh untuk pemasok. Kami mengirimi mereka seperangkat penilaian mandiri, semacam daftar periksa, untuk dicocokkan dengan operasional yang telah berjalan sebelumnya. Kemudian, kami bertemu melalui platform teleconference guna membahas setiap item. Mereka harus memberikan jawaban dan bukti untuk setiap komponen penilaian.

Tentu saja, ada beberapa keterbatasan dalam metode ini – kami tidak dapat melihat implementasinya di lapangan, tetapi kami mencari cara untuk mengatasi hal tersebut. Namun demikian, hal itu tidak menyurutkan kami dalam melakukan penilaian pemasok, dan menyelenggarakan diskusi terbuka serta konsultasi tentang bagaimana mereka dapat membenahi praktik keberlanjutan. Sama seperti ketika kami melakukan kunjungan lapangan, unsur terpenting untuk meraih kesuksesan adalah kepercayaan – kepercayaan bahwa kami ada untuk membantu pemasok, untuk terus meningkatkan praktik keberlanjutan.

Hal luar biasa tentang SMART Reach adalah bukannya melaksanakan kunjungan lokasi selama tiga hari penuh seperti sebelumnya, kini kami hanya perlu tiga jam setiap hari selama dua hari untuk menyelesaikan kunjungan pada satu pemasok. Di luar dugaan, sejak memulai metode baru penilaian ini kami menerima lebih banyak permintaan dari pemasok untuk turut berpartisipasi. Jadi, SMART Reach bermanfaat dalam menghemat waktu, menghemat biaya – tiket pesawat, akomodasi, transportasi, dan bahkan juga dapat memperluas jangkauan ke lebih banyak pemasok.

Didorong untuk menemukan cara-cara baru dalam mengerjakan sesuatu merupakan hikmah dari situasi seputar COVID-19. Perbaikan ini akan menjadi kenormalan baru bagi kami sehingga penilaian dapat dilakukan lebih efisien, bahkan ketika operasional kami nantinya dapat dilanjutkan kembali secara penuh.

Meskipun situasi saat ini memang membatasi operasional normal Perusahaan, hal itu tidak seharusnya menghambat upaya kita menuju terwujudnya industri minyak sawit yang lebih berkelanjutan. Kendati mungkin belum sempurna, upaya berkelanjutan seperti SMART Reach sungguh membantu pemasok untuk melanjutkan perjalanan menuju terwujudnya minyak sawit yang diproduksi secara berkelanjutan.

Apa lagi cara yang digunakan kolega kita agar tetap produktif di tengah pandemi? Silakan dengar dari mereka secara langsung dalam kisah dua bagian berikut ini:

Bagian satu menampilkan karyawan yang bekerja dari rumah di sini.
Bagian dua menampilkan pekerja esensial dan garis depan di sini.



Wahyu Wigati Wijayanti adalah Head of Supplier Compliance di Sinar Mas Agribusiness and Food di Indonesia dan telah bekerja untuk Perusahaan sejak tahun 2015. Dia berpengalaman luas di bidang kehutanan dan industri minyak sawit. Wahyu lulus dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada pada tahun 1993 dan meraih gelar Master dari IPB pada tahun 2000.
| | |