Ruang Berita

Lingkungan Hidup

Menggunakan musik Indonesia untuk mendorong masyarakat mencegah kebakaran hutan dan lahan


Siapa dari kita yang tidak suka musik? Mungkin kita masih ingat lagu bintang kecil (lagu favorit saya sebelum tidur saat masih anak-anak) yang sering dinyanyikan oleh ibu kita. Sudah lebih dari 25 tahun lamanya, kita masih mengingat jelas tiap lirik dan musik lagu tersebut. Ingatan kita seakan terjaga dengan baik setiap kali mendengarkan musik, ketimbang membaca buku pelajaran dan berakhir dengan tertidur di atas buku, alhasil Ibu menjewer telinga kita.

Banyak muatan kearifan lokal yang bertahan hingga saat ini karena pesan yang masih terus dingat oleh masyarakat melalui musik. Masih ingatkah kita bahwa kita pantang takut dan tidak boleh cepat menyerah karena nenek moyang kita seorang pelaut? (Itulah mengapa saya sangat suka Popeye saat masih anak-anak).

Musik adalah seni yang tidak hanya dirasakan tetapi membantu kita mencerna informasi dengan lebih mudah dan sederhana. Pendekatan inilah yang digunakan oleh bergagai kalangan dalam menyampaikan pesan, termasuk perusahaan kita dalam kampanye cegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Klik di sini untuk mendengarkan Jingle Pencegahan Karhutla.

Sejak Maret 2021, Departemen Fire Prevention & Response Sinar Mas Agribusiness and Food meluncurkan Jingle Pencegahan Karhutla dengan mengangkat musik etnik Dayak dan Melayu sebagai media edukasi kepada masyarakat. Musik etnik dipilih sebagai genre dengan harapan lebih mudah diterima masyarakat secara umum, sekaligus melestarikan kebudayaan nasional. Saya merasa sangat beruntung dapat berpartisipasi dalam proses pembuatan jingle ini, karena untuk pertama kalinya saya berinteraksi dengan seniman-seniman muda hebat Indonesia.

Ternyata meracik pesan pencegahan karhutla untuk dituangkan ke dalam sebuah lirik, syair, dan menjadi sebuah lagu adalah sebuah proses yang tidak mudah. Kami melakukan riset dan berkonsultasi dengan komunitas terkait, serta mengumpulkan berbagai ide untuk membuat sebuah lagu. Kami tidak hanya menciptakan sebuah lagu yang catchy dengan unsur etnik, tetapi dapat menyampaikan pesan-pesan edukasi yang mudah dipahami dan diterima masyarakat.

Selain itu, permainan alat musik khas Melayu yaitu akordeon dan alat musik tradisional Dayak, sapeh – membuat irama musik dalam Jingle Pencegahan Karhutla semakin indah untuk didengarkan. Awalnya, saya ragu tim komposer dapat menyatupadukan kedua alat musik tradisional tersebut. Tetapi keraguan tersebut pupus ketika mendengarkan musik yang dihasilkan begitu solid dan penuh estetika.

“Mari kite jage keluarge kita dari asap dan kebakaran hutan” (Melayu) dan “Tanah to indae kitae. Tanah adalah ibu kita, jangan bakar sembarangan!” (Dayak), merupakan kalimat yang diucapkan oleh perwakilan masyarakat Melayu dan Dayak yang terlibat dalam pembuatan jingle. Masyarakat Melayu dan Dayak memandang bahwa membakar sembarangan akan merugikan tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang lain, lingkungan, dan keluarganya.

Untuk memperluas distribusi Jingle Pencegahan Karhutla kepada masyarakat, radio-radio lokal di area rawan karhutla dimana perusahaan beroperasi seperti RRI Pekanbaru, Manusa FM Kalbar, Gema Ketapang FM Kalbar, and Gema Wana Prima FM Kaltim menjadi mitra dalam menyebarkan secara luas jingle tersebut. Riau, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur adalah area utama yang disasar dalam distribusi jingle pencegahan karhutla.

Jingle Pencegahan Karhutla telah memberikan inspirasi kepada kita semua untuk terus kreatif dan berinovasi dalam memberikan edukasi kepada masyarakat. Melalui musik kita dapat menyampaikan pesan moral bagi bangsa Indonesia dari generasi ke generasi. Jika nenek moyang kita telah mengajarkan lagu “Nenek moyangku seorang pelaut yang tidak takut ombak”, mengapa kita tidak mengajarkan lagu “Ayo-ayo kita cegah karhutla, sayangi keluarga dan sanak saudara” sejak saat dini?

Pelajari lebih jauh mengenai upaya pencegahan karhutla di sini.



Beni
Tentang penulis:
Beni Wijaya adalah Corporate Communications Executive di tim Group Corporate Communications Sinar Mas Agribusiness and Food. Sejak 2019, ia bertanggung jawab atas Kampanye Pencegahan Kebakaran perusahaan bekerja sama dengan Departemen Fire Prevention & Response. Dia suka traveling dan menikmati makanan enak.
| | |