menu bar
close-grey

Mendorong Perubahan: Mewujudkan Dampak Sosial dan Pertumbuhan Berkelanjutan

Posted: May 20, 2024 3 minute read SMART

Bagaimana kita dapat meningkatkan mata pencaharian masyarakat yang berkecimpung dalam industri sawit? Bagaimana kita dapat meningkatkan produktivitas panen dan meningkatkan kualitasnya sekaligus memastikan tidak seorang pun, khususnya petani sawit, yang tersisih?

Anita Neville, Chief Sustainability and Communications Officer, Golden Agri-Resources (GAR), berbicara tentang nilai unik yang dihadirkan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) bagi industri sawit dengan mengatasi dampak lingkungan selama dua dekade terakhir, dan bagaimana sektor itu kini mengalihkan fokusnya ke dampak sosial.

T: Pada awal tahun 2000-an, produksi minyak sawit disorot karena dampak lingkungan. Bisakah Anda menggambarkan pengalaman Perusahaan saat itu?

Anita: Di masa lalu, kelapa sawit menjadi salah satu industri yang berada di tengah pusaran kampanye dan perbincangan seputar deforestasi.

Melihat perlunya perubahan, Perusahaan pun bergabung dengan RSPO pada tahun 2005 sebagai anggota awal, melalui anak perusahaan utama kami yaitu PT SMART Tbk. Sejak itu, kami telah menjadi kontributor aktif serta menganut prinsip dan kriteria RSPO. Kami menggabungkan pembelajaran dari RSPO dengan kebijakan sosial dan lingkungan kami sendiri, dan membangun landasan bagi upaya Perusahaan untuk memutus kaitan deforestasi dengan produksi sawit.

Dampak positif upaya berkelanjutan kami terlihat jelas. Tren laju deforestasi di Indonesia terus turun, yang menandakan bahwa kita berada di jalur yang benar.

T: Bagaimana GAR berkontribusi pada industri minyak kelapa sawit yang lebih berkelanjutan?

Anita: Melalui komitmen untuk memutus deforestasi dari produksi sawit, kami berupaya meningkatkan transparansi dan kemamputelusuran dalam rantai pasok Perusahaan. Pada saat yang sama, kami juga berupaya untuk bertanggung jawab sosial dalam metode produksi minyak kelapa sawit.

Salah satu upayanya mencakup membantu para pemasok mengubah praktik mereka agar lebih selaras dengan prinsip dan kriteria RSPO. Hal itu terutama berlaku untuk investasi yang kami tanam pada petani sawit, yang menyumbangkan sekitar 40 persen dari produksi global. Dengan memberdayakan petani untuk menerapkan praktik yang lebih berkelanjutan, kami membantu mereka meningkatkan pendapatan dengan hasil panen yang meningkat – tanpa harus membuka lahan budidaya baru.

Produksi minyak sawit berkelanjutan dengan laju deforestasi yang menurun

T: Bagaimana kontribusi RSPO terhadap industri ini sejak pertama kali dibentuk?

Anita: Saya pikir salah satu kontribusi paling berharga dari RSPO pada sektor sawit adalah bahwa RSPO berhasil menyatukan beragam suara.

Mulai dari petani hingga perusahaan perkebunan besar, seperti GAR, LSM yang peduli pada masalah lingkungan dan sosial, regulator, lembaga keuangan, dan tentu saja, yang terpenting, para pelanggan. Kita semua berkumpul, difasilitasi RSPO, untuk menyepakati seperti apa praktik yang baik dan berkelanjutan di sektor sawit.

Dan hal itu merupakan kontribusi uniknya bagi industri sawit. Ke depannya, saya rasa wajar jika dua dekade mendatang kita berfokus pada dampak sosial setelah dua dasawarsa terakhir ini kita terfokus pada dampak lingkungan dari industri sawit.

Peran perempuan dalam operasional kebun – bidang yang secara tradisional didominasi laki-laki

Saya melihat peran penting RSPO dalam membantu kita menjawab tantangan sosial tersebut. Dan jangan lupakan juga tentang perubahan iklim – yang masih menjadi tantangan besar bagi siapa pun yang bergerak di bidang agribisnis. RSPO akan berperan penting dalam menentukan rendahnya emisi gas rumah kaca yang dihasilkan produksi sawit, dan menetapkan standar terkait bagaimana pemain industri ini dapat memenuhi permintaan pasar global secara berkelanjutan.

T: Bagaimana industri sawit, bersama RSPO dan ekosistem yang lebih luas, dapat berkolaborasi untuk melampaui standar yang ada saat ini, di mana hanya sekitar 20 persen produksi minyak kelapa sawit global mengantongi sertifikasi untuk produksi berkelanjutan? Langkah-langkah apa yang diperlukan untuk menembus rintangan 20 persen ini?

Anita: Mendobrak rintangan 20 persen dalam hal sertifikasi minyak kelapa sawit berkelanjutan secara global memang merupakan tantangan. Hal itu tergantung pada dua hal; pertama, kita perlu mendorong permintaan terhadap minyak kelapa sawit berkelanjutan bersertifikasi di pasar-pasar yang selama ini tidak berfokus pada keberlanjutan. Negara-negara tersebut mencakup pasar dengan volume besar, seperti Tiongkok, India, dan Pakistan, di mana keberlanjutan belum menjadi perhatian utama.

Kedua, kita perlu menjadikan proses sertifikasi RSPO lebih menarik bagi lebih banyak petani di mana pun, terutama petani sawit. Hal ini berarti menjadikan sertifikasi lebih terjangkau dan mudah diakses. Kita juga perlu memastikan bahwa para petani memahami bahwa mengejar

“Kita juga perlu memastikan bahwa para petani memahami bahwa mengejar sertifikasi tidak hanya layak dilakukan, tetapi itu juga demi kepentingan terbaik mereka, sehingga dapat membuka akses pasar yang lebih besar dan potensi keuntungan yang lebih tinggi.”

sertifikasi tidak hanya layak dilakukan, tetapi itu juga demi kepentingan terbaik mereka, sehingga dapat membuka akses pasar yang lebih besar dan potensi keuntungan yang lebih tinggi.

 

———-

Temukan bagaimana Perusahaan memegang tampuk pimpinan dalam produksi minyak kelapa sawit berkelanjutan melalui sertifikasi industri. Pelajari lebih lanjut sertifikasi kami di tautan ini.

———-

fb twitter linkedin mail