Ruang Berita

Lingkungan Hidup

Menantang pemahaman konvensional seorang aktivis lingkungan hidup


Saya adalah mahasiswa yang memilih bidang studi geografi sebagai jurusan di jenjang pendidikan tinggi. Saya mengagumi keindahan lingkungan di sekitar kita dan berjanji untuk menjalankan tanggung jawab sebagai konsumen yang mendapatkan banyak informasi dan peduli lingkungan. Oleh karena itu mungkin terdengar aneh jika saya menerima tawaran magang di perusahaan ini, sebagai salah satu dari empat perusahaan terbesar dalam industri minyak kelapa sawit.

Jujur saja, saya pernah meragukan tentang minyak kelapa sawit. Seberapa berkelanjutan minyak kelapa sawit dapat terwujud? Perusahaan-perusahaan ini adalah raksasa di industrinya. Berdasarkan pengetahuan yang saya peroleh sejauh ini dari para aktivis LSM lingkungan hidup dan penggiat keberlanjutan, perusahaan-perusahaan tersebut memiliki kekuasaan besar untuk melakukan eksploitasi dalam meraup keuntungan bisnis.

Jadi berbekal informasi yang saling bertentangan, saya mengambil risiko dengan menerima tawaran magang tersebut dan senang bahwa prasangka buruk saya terhadap industri ini ternyata tidak terbukti.

Solusi permasalahan tidak selalu semudah yang dipikirkan

Salah satu tugas pertama saya di perusahaan adalah mempelajari kasus Iceland Foods, suatu jaringan supermarket di Inggris yang melarang penggunaan minyak kelapa sawit dalam berbagai produk buatannya. Awalnya saya berempati terhadap keputusan tersebut, karena saya mengerti mengapa suatu perusahaan tidak ingin menggunakan bahan yang merusak lingkungan dalam produknya. Namun setelah meneliti lebih lanjut, saya sadar bahwa masalah lingkungan sering kali tidak semudah seperti yang terlihat. Beberapa pihak mungkin memandang bahwa ini adalah masalah yang mudah, namun situasinya tidak semudah “yang jahat melawan yang baik”. Seperti halnya keanekaragaman hayati yang berusaha kita jaga, kompleksitas rantai pasok seringkali membuat kita sulit untuk membedakan antara korban dan pelaku.

Kampanye boikot minyak kelapa sawit dengan tema Natal oleh Iceland Foods.

Sebagai contoh, petani sawit akan merasakan dampak terbesar dari penerapan larangan penggunaan minyak kelapa sawit dalam produk-produk kita. Bertentangan dengan yang diyakini oleh sebagian besar orang, industri kelapa sawit tidak hanya terdiri dari perusahaan besar. Sesungguhnya, lebih dari 40% total produksi minyak kelapa sawit disumbangkan oleh petani sawit. Jika kita benar-benar meniadakan minyak kelapa sawit, 16 juta pekerja di industri ini, mulai dari petani hingga teknisi, akan kehilangan pekerjaan. Dampak ekonomi yang ditimbulkan akan sangat besar, khususnya bagi petani kelapa sawit yang menggantungkan kehidupannya di industri ini.

Misdan adalah tokoh masyarakat dan Ketua Koperasi Petani Kelapa Sawit yang menaungi lebih dari 350 anggota koperasi (petani) dan membantu tingkatkan hasil perkebunan mereka.

Upaya memboikot tanaman yang mudah ditemukan di mana-mana ini tidak hanya menghentikan degradasi lingkungan, namun juga akan memaksa perusahaan-perusahaan untuk mencari alternatif minyak nabati lain sebagai penggantinya. Sumber minyak nabati lain seperti biji rapa dan kedelai memiliki efisiensi yang jauh lebih rendah untuk produktivitas per hektar jika dibandingkan dengan tanaman kelapa sawit. Ini membuktikan bahwa memboikot minyak kelapa sawit sama halnya dengan mengingkari kampanye yang selama ini dijalankan!

Kelapa sawit adalah sumber minyak nabati dengan tingkat efisiensi tertinggi berdasarkan produktivitas per hektar. Sumber: Laporan Komisi Eropa 2018

Pemboikotan minyak kelapa sawit dalam hal ini juga akan merugikan perusahaan-perusahaan yang peduli dengan isu keberlanjutan. Lagipula, dimana dorongan untuk praktik produksi yang berkelanjutan jika pasar konsumen tidak memberikan dukungan untuk membeli produk dari perusahaan yang bertanggungjawab? Hanya ada beberapa alasan meskipun larangan penggunaan minyak sawit didasari niat yang sangat baik, namun mengharuskan kita mencari solusi yang lebih efektif dan peka terhadap isu yang sangat kompleks ini.

Sayangnya, tidak banyak yang bersedia untuk mempelajari lebih jauh kemungkinan dampak yang akan timbul dari keputusan tersebut. Ini mengakibatkan menyebarnya informasi bias yang kemudian berkembang dan berkepanjangan, khususnya di era sosial media seperti saat ini. Sebagai konsumen, kita bertanggung jawab untuk menyaring informasi yang diterima. Akan tetapi, produsen juga perlu memastikan ketersediaan akses informasi sehingga kita dapat mengambil keputusan yang benar berdasarkan informasi tersebut. Jika kita memiliki informasi yang cukup mengenai praktik-praktik yang dilaksanakan oleh pelaku industri, kita tidak akan terbawa oleh isu lingkungan dan sosial yang populer. Sebaliknya, kita akan dapat mengambil keputusan yang bijak dan bebas sebagai konsumen.

Lebih jauh tentang keberlanjutan

Sebagian besar orang menyamakan “keberlanjutan” sebagai inisiatif yang ramah lingkungan, seperti nihil deforestasi, nihil penebangan liar dan pembakaran, nihil perburuan satwa liar yang terancam punah, dan sebagainya. Inisiatif-inisiatif ini juga begitu sering kita dengar dari kampanye LSM lingkungan hidup. Namun, keberlanjutan lebih dari sekadar melestarikan keindahan alam.

Saya telah mengenal beberapa aspek pertanian dan perkebunan yang jarang dibahas oleh penggiat keberlanjutan konvensional, mulai dari peningkatan akses pendidikan hingga memajukan keberlanjutan ekonomi lebih dari sekadar minyak kelapa sawit. Padahal, aspek-aspek tersebut sama vitalnya bagi kesinambungan pembangunan secara keseluruhan.

Peserta Program Mata Pencaharian Alternatif – dalam program ini, petani diajarkan berbagai cara untuk memperluas sumber pendapatan mereka.

Anda akan dengan mudah memahaminya jika membaca Kebijakan Sosial dan Lingkungan GAR (KSLG)! Sesuai namanya, KSLG menunjukkan kepedulian terhadap hutan dan masyarakat. Kebijakan ini memastikan agar “keberlanjutan” tidak mengorbankan pemangku kepentingan yang vital dalam rantai pasok perusahaan. Selain itu, transparansi dan kemamputelusuran juga merupakan aspek penting keberlanjutan yang memastikan bahwa semua yang tertulis di atas kertas dilaksanakan pula dalam praktik di lapangan.

Perusahaan mencapai 100% Kemamputelusuran hingga ke kebun (Traceability to Plantation/TTP) di seluruh Pabrik Kelapa Sawit (PKS) perusahaan dan berencana memperluas inisiatif ini ke PKS pihak ketiga dan pemasok pada akhir 2020.

Bahkan sebelum bergabung dengan perusahaan ini sebagai karyawan magang, saya telah menyadari bahwa cakupan muatan KSLG sangat komprehensif. Saat mengikuti Young SDG Leaders Award, saya dan tim ditugaskan untuk memperbaiki kebijakan keberlanjutan perusahaan yang sudah ada. Karena itu, menerima peluang untuk melakukannya lagi merupakan suatu kejutan menyenangkan bagi saya.

Tim Sustainability perusahaan bersama kelompok Young SDG Leaders Award.

Setelah lebih jauh mempelajari prinsip-prinsip yang dianut dan diterapkan perusahaan, saya semakin menghargai berbagai upaya yang dijalankan untuk menghadirkan kebijakan keberlanjutan. KSLG memang belum sepenuhnya tuntas, namun kebijakan ini akan selalu ditinjau dan diperbarui seiring bertumbuhnya perusahaan dalam upaya menjadi pemimpin dalam industri ini.

Meskipun hanya bersama perusahaan selama satu bulan, wawasan saya semakin terbuka. Prasangka buruk terhadap industri minyak kelapa sawit dan bahkan keberlanjutan tertantang sepenuhnya. Mungkin sesekali kita harus keluar dari zona nyaman agar dapat memberi perspektif baru terhadap pemahaman yang telah lama dianut. Dari situ, Anda mungkin akan menemukan berbagai kejutan menyenangkan seperti saya.

| | |