Ruang Berita

Masyarakat

Memberdayakan masyarakat dengan pola bertani ramah lingkungan dan membangun ketahanan pangan sembari mengurangi risiko kebakaran


Musim kemarau sudah hampir usai dan kita bisa merasa lega karena terjadinya musibah kebakaran dan kabut asap tidak berulang kembali tahun ini dengan kondisi yang sama seperti tahun lalu. Namun kenangan buruk dari peristiwa lalu masih membekas di ingatan kita dan ditambah dengan bayang-bayang persoalan global terkait perubahan iklim, sorotan kita atas hal ini masih berkisar pada bagaimana menemukan cara membantu masyarakat kita khususnya para petani ladang untuk tidak mengelola ladang pertanian dengan cara membakar.

Perusahaan-perusahaan perkebunan besar seperti GAR menerapkan Kebijakan Tanpa Bakar yang ketat. Persoalan mendasar yang dihadapi adalah: bagaimana meyakinkan para petani ladang dan masyakarat setempat untuk berhenti menggunakan metode tradisional dalam membuka lahan mereka dengan menawarkan alternatif lain yang lebih baik?


Sejumlah petani ladang di Dusun Nanga Bian sedang mempersiapkan ladang mereka untuk ditanami sayur-sayuran

Para petani ladang umumnya enggan untuk mengubah praktik ini karena mereka merasa bahwa metode bercocok tanam yang selama ini mereka jalankan murah dan mudah bagi mereka.

Membimbing masyarakat cara membangun ketahanan pangan dan praktik bertani yang lebih ramah lingkungan

Upaya untuk mendorong perubahan sosial dari cara-cara membuka lahan dengan cara membakar perlu mempertimbangkan bagaimana menawarkan solusi alternatif bagi petani dengan metode bertani yang lebih berkelanjutan dan pada saat yang sama dapat membangun ketahanan pangan keluarga dan masyarakat.

Hal inilah yang dilakukan oleh Golden Agri-Resources (GAR) melalui salah satu program pemberdayaan masyarakat di Propinsi Kalimantan Barat, melalui salah satu anak perusahaannya yaitu PT Paramitra Internusa Pratama (PIP) yang secara aktif melibatkan peran serta masyarakat di Dusun Nanga Bian.

Diapit dua aliran sungai – sungai Bian dan sungai Kenepai serta hamparan rawa-gambut, dusun Nanga Bian dikelilingi oleh kawasan berair, sehingga sulit bagi warga desa memperoleh sayur-sayuran dari lokasi terdekat. Saat musim penghujan datang dan banjir melanda, akses jalan terputus sehingga dusun ini terpencil dari lingkungan sekitarnya selama beberapa bulan.

Pada musim kemarau, air sungai menyurut jauh dan kawasan rawa menampilkan tanah kering yang sulit dijangkau kendaraan bermotor karena sangat berdebu.


Pemandangan di Nanga Bian

Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, warga Bian berbelanja ke warung-warung yang ada di dusun atau ke kecamatan Semitau dengan menggunakan sepeda motor atau perahu tempel. Hanya beberapa jenis bahan pangan, bumbu dapur dan sayur lokal saja yang ditanam diladang masyarakat seperti padi, jahe merah dan cabe rawit. Selebihnya warga terpaksa harus membeli kebutuhan sayur mereka dari para pedagang keliling dengan harga relatif mahal.

Tahun ini, lebih dari 20 hotspot  yang berasal dari ladang-ladang pertanian di dekat perkebunan PT PIP dapat segera dipadamkan. Namun, program pemberdayaan masyarakat yang dikenal dengan program Kebun Sayur Pekarangan (KSP) ini telah  berhasil dikembangkan secara berkelanjutan untuk membangun kesadaran kolektif masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara bakar, tetapi memanfaatkan lahan-lahan di pekarangan rumah mereka dengan metode yang ramah lingkungan.

Program ini tidak hanya membantu mengurangi pengeluaran rumah tangga, tetapi mendorong warga untuk menjual sayur-sayuran yang mereka tanam sendiri ke warga dusun yang lain, sehingga menghasilkan mata pencarian baru yang berkelanjutan.

Program ini sejalan dengan Kebijakan Tanpa Bakar GAR dan karena pendekatannya yang inovatif telah menawarkan program konservasi berbasis masyarakat yang akan terus dikembangkan di perkebunan-perkebunan GAR lainnya di Propinsi Kalimantan Barat.

Minggu depan kita akan bahas bagaimana program Kebun Sayur Pekarangan (KSP) ini dilaksanakan dengan cara-cara yang berkelanjutan dan dengan metode yang tidak memerlukan biaya atau teknologi tinggi.

| | |