Ruang Berita

Petani Swadaya

Memastikan proses FPIC dalam peremajaan kelapa sawit


Sinar Mas Agribusiness and Food berada di garis depan dalam inisiatif nasional untuk meremajakan kembali pohon sawit yang dalam proses penuaan. Namun, melaksanakan Program Peremajaan Sawit Rakyat flebih dari sekadar menyediakan benih yang lebih berkualitas bagi petani. Hal tersebut juga membuka peluang bagi Perusahaan untuk menerapkan praktik berkelanjutan dari tahap perencanaan – hampir seperti sebuah ‘awal baru’ untuk perkebunan lama yang dibangun sebelum industri sawit mulai bertransformasi menuju keberlanjutan.

Proyek peremajaan tanaman dimulai dengan perencanaan dan banyak kegiatan penilaian. Unsur fundamental pada tahap awal ini mencakup upaya untuk menjamin bahwa prinsip Persetujuan Atas Dasar Informasi di Awal Tanpa Paksaan (Padiatapa atau Free, Prior, Informed, Consent/FPIC) dilaksanakan. Hal ini berarti menghormati para petani sawit (dan masyarakat sekitar), berkonsultasi dengan mereka dalam tiap pengambilan keputusan, dan mempertimbangkan kebutuhan mereka.

Pada langkah pertama, kami mengumpulkan data dan informasi sosial ekonomi mendasar bersama warga setempat, seperti tingkat pendapatan, jenis pekerjaan yang umum, dan tingkat pendidikan. Perusahaan juga mengidentifikasi pemangku kepentingan penting dan meminta masyarakat menunjuk perwakilan mereka untuk membantu dalam penilaian keberlanjutan lebih lanjut.

Hal ini kemudian dilanjutkan dengan sesi konsultasi bersama perwakilan masyarakat tentang proyek yang dijalankan dalam rangka Program Peremajaan Sawit Rakyat. Dalam langkah ini, kami memberi masyarakat kesempatan untuk menyuarakan segala hal yang menjadi keprihatinan mereka dan berharap pada akhirnya dapat memperoleh persetujuan untuk melanjutkan proses peremajaan tanaman kelapa sawit.

Salah satu sesi pemetaan partisipatif bersama perwakilan masyarakat (foto diambil sebelum COVID-19).

Setelah itu, kegiatan selanjutnya adalah penilaian keberlanjutan dan mendapatkan izin terkait. Hal ini meliputi penilaian terpadu NKT-SKT, survei lahan (termasuk LUCA, studi lahan gambut, kawasan hutan, dll.), mendapatkan izin lingkungan (seperti SPPL, UKL-UPL, AMDAL), perhitungan gas rumah kaca, pemetaan partisipatif, penilaian dampak sosial, dan studi kepemilikan lahan.

Pentingnya komunikasi intensif
Pelajaran yang dipetik dari pengalaman kami adalah bahwa komunikasi intensif sangat penting dalam proses FPIC. Kami membutuhkannya untuk meyakinkan dan memberikan penjelasan kepada masyarakat bahwa penilaian keberlanjutan sangatlah penting. Hal ini juga membantu kami mengelola ekspektasi dan jadwal pelaksanaan. Sebagai contoh, saat dimulai pertama kalinya, proses FPIC untuk Program Peremajaan Sawit Rakyat bertepatan dengan peluncuran Penilaian Terpadu NKT-SKT. Hal itu menjadi tantangan tersendiri karena penilaian terpadu masih baru dan kami adalah salah satu perusahaan pertama yang menjalankannya. Waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakannya membutuhkan waktu hingga satu tahun karena harus ditinjau dan disetujui oleh HCV-RN[1]. Kami harus berkomunikasi intensif dengan masyarakat guna mengelola ekspektasi mereka terkait kapan penanaman kembali dapat dimulai, karena kemungkinan tertundanya penilaian.

Diskusi seputar pokok bahasan tersebut terkadang sulit dilakukan, terutama ketika kawasan terkait ditetapkan oleh masyarakat dan Perusahaan sebagai kawasan yang tidak dapat ditanami kembali karena kedalaman gambut, atau lokasinya berada di sempadan sungai. Namun, hal itu harus dilakukan dan mesti berjalan berkesinambungan. Kami memastikan adanya pertukaran informasi secara teratur dan terus-menerus agar dapat memahami persoalan yang menjadi perhatian masyarakat selama proses berlangsung dan menanganinya dengan semestinya.

Foto bersama masyarakat setelah konsultasi akhir dalam pemetaan partisipatif (foto diambil sebelum COVID-19).

Akhirnya, setelah semua penilaian selesai, konsultasi publik diadakan dan hasilnya pun dibagikan ke pihak-pihak terkait. Mungkin penilaian ini adalah sesuatu yang kurang lazim bagi petani sawit karena mereka membutuhkan waktu lama untuk melakukannya dan terkadang hasilnya mungkin tidak seperti yang diharapkan. Namun, kami perlu mendukung proses ini untuk memastikan agar liabilitas sosial dan lingkungan bagi petani dan masyarakat di masa mendatang tetap terjaga pada level seminimal mungkin.

Dengan memberlakukan praktik ini bersama petani sekarang, Perusahaan turut membantu memastikan bahwa petani selanjutnya dapat memasuki skema sertifikasi, sesuatu yang akan menguntungkan bagi petani, perusahaan, dan industri sawit secara keseluruhan.

Simak lebih lanjut Program Peremajaan Sawit Rakyat di tautan ini.

[1] HCV-RN adalah organisasi berbasis anggota yang berjuang untuk melindungi nilai-nilai konservasi tinggi di lokasi tempat ekspansi kehutanan dan pertanian dapat membahayakan kelangsungan hutan penting, keanekaragaman hayati, dan masyarakat setempat. HCV-RN bekerja sama dengan HCSA untuk meninjau, memberikan masukan, dan menilai laporan yang dikirimkan Perusahaan.

Rina Estelita
About the writer:
Rina Estelita adalah Staf CSR dan bagian dari tim Sustainability Implementation, Sinar Mas Agribusiness and Food. Bu Rina merupakan pendukung gaya hidup ramah lingkungan dan orang yang selalu dapat merebut hati dan pikiran masyarakat. Sebelumnya, dia bertugas sebagai PSR Sustainability Officer.
| | |