Ruang Berita

Lingkungan Hidup

Kiat untuk melibatkan anak-anak: apa yang telah kami pelajari dapat mengajarkan mereka tentang pencegahan kebakaran hutan dan lahan


Di tengah pandemi COVID-19 yang sedang berlangsung, tim kami bekerja keras untuk memastikan upaya edukasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus berjalan dengan baik. Kami mengadakan sesi lokakarya virtual untuk membantu para guru di Indonesia mempelajari keterampilan yang diperlukan dalam penyampaian pesan pencegahan karhutla kepada para siswa dengan benar. Selama sesi tersebut, kami menemukan banyak pertanyaan menarik yang diajukan para guru tentang bagaimana melibatkan anak-anak dalam pencegahan karhutla ini.

Kondisi masyarakat kita yang sangat beragam, karena perbedaan lingkungan, latar belakang budaya, dan tingkat pendidikan yang berbeda membuat penerapan edukasi pencegahan karhutla berbeda antara satu daerah dengan daerah lain. Guru menghadapi banyak tantangan – mulai dari membina pemahaman siswa hingga mengedukasi anak-anak di mana orang tua mereka masih mempraktikkan metode pertanian tebang bakar saat membuka lahan pertanian mereka.

Dari pertanyaan tersebut, kami telah merangkum tujuh tips yang mungkin berguna bagi Anda saat mengedukasi anak-anak terutama mengenai topik seperti perlindungan lingkungan:

1. Sesuaikan gaya mengajar dengan kelas mereka

Metode untuk mendidik anak-anak yang sudah besar (kelas empat sampai enam Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas) biasanya tidak bisa diterapkan untuk anak-anak yang lebih kecil (Taman Kanak-kanak dan kelas satu sampai kelas tiga Sekolah Dasar). Mereka memiliki kondisi psikologis dan gaya belajar yang sangat berbeda. Anak-anak yang lebih kecil lebih menyukai pendekatan tatap muka, langsung, dan memiliki rentang perhatian yang terbatas. Jadi, alih-alih membuat mereka membaca buku atau menonton video lengkap tentang subjek tersebut, bagilah materi menjadi beberapa bagian, dan gunakan gaya mengajar bermain sambil belajar.

Misalnya, jika Anda mengajar anak-anak yang lebih kecil, Anda dapat membagi tayangan serial video Rumbun dan sahabat rumba menjadi episode 0, episode 1, episode 2, episode 3. Jika tidak, Anda dapat menonton versi lengkapnya di sini.

Di sisi lain, anak yang lebih besar lebih menyukai materi yang abstrak dan kompleks, dan berhasil dengan baik dalam pendekatan kelompok. Mereka juga memiliki kemampuan untuk berkonsentrasi dalam jangka waktu lebih lama. Minta mereka mempertajam pola berpikir kritis melalui diskusi kelompok tentang apa yang harus dilakukan dan bagaimana mencegah karhutla, serta mempresentasikan hasil diskusi tersebut.

2. Siapkan lingkungan yang kondusif untuk proses belajar anak-anak
Suasana belajar sangat penting bagi anak-anak. Pastikan terdapat penerangan yang tepat, tata ruang kelas yang nyaman, dan sirkulasi udara yang baik. Dapatkah Anda membayangkan bagaimana rasanya belajar di bawah penerangan yang buruk dan udara yang pengap? Anak akan sulit menyerap informasi saat merasa tidak nyaman.

3. Pahami kecenderungan pola belajar dan kecerdasan anak-anak

Sumber: http://freepik.com/

Setiap anak memiliki setidaknya sembilan jenis kecerdasan dengan berbagai tingkatan, dan memiliki gaya belajar masing-masing tergantung pada jenis kecerdasan paling menonjol yang mereka miliki. Guru hendaknya mempertimbangkan hal ini dan menyesuaikan metode pengajaran mereka jika perlu, sebelum memimpin kelas dengan anak-anak.

  1. Kecerdasan naturalis (alam)
  2. Kecerdasan linguistik (bahasa)
  3. Kecerdasan logika (angka)
  4. Kecerdasan musikal (musik/seni)
  5. Kecerdasan kinestetik (gerak tubuh)
  6. Kecerdasan visual spasial (visual ruang)
  7. Kecerdasan intrapersonal (interaksi dengan diri sendiri)
  8. Kecerdasan interpersonal (interekasi dengan orang lain)
  9. Kecerdasan eksistensial (Ketuhanan)

Jadi bila Anda tidak ingin anak didik dengan tipe kecerdasan kinestetis tertidur, jangalah mengajak mereka untuk hanya mendengarkan cerita mengenai pencegahan karhutla. Ajaklah mereka bermain di lapangan misalnya melalui permainan detektif cilik untuk memecahkan sandi-sandi Rumbun dan Sahabat Rimba.

4. Dorong daya nalar anak-anak ketimbang menyuruh mereka menghafal

Derasnya arus informasi pada abad 21 membuat anak-anak banyak mendapatkan informasi dari berbagai sumber seperti internet, media massa, atau sosial media. Orang tua dan guru perlu mengarahkan anak-anak untuk berpikir kritis terhadap setiap informasi yang mereka dapatkan agar mengerti MENGAPA sesuatu boleh/tidak dilakukan dan BAGAIMANA caranya?

Orang tua dan guru dapat memancing daya nalar/kritis anak-anak dengan mengajak mereka bercerita misalnya menggunakan materi Rumbun dan Sahabat Rimba dengan menekankan pada pertanyaan- pertanyaan seperti; mengapa karhutla dapat terjadi? apa yang menyebakan karhutla? bagaimana agar karhutla dapat dicegah? Apa yang perlu kita lakukan jika melihat karhutla? dan sebagainya.

5. Maksimalkan otak kanan agar tidak mudah lupa

Informasi dapat dengan mudah dilupakan ketika fungsi otak kanan tidak dimanfaatkan dengan baik. Apakah Anda ingat berapa lama Anda menghapal lirik lagu favorit Anda? Sekarang pikirkan tentang berapa lama Anda menghapal fakta untuk ujian – kami yakin itu membutuhkan waktu lebih lama daripada menghapal sebuah lirik lagu favorit Anda. Itu adalah contoh sempurna dalam mengaktifkan otak kanan untuk mengingat informasi, dan kita dapat menerapkan prinsip serupa dalam mengajar anak.

Guru dan orang tua dapat memasukkan elemen artistik seperti menyanyi atau menggambar dalam rencana pelajaran mereka. Ini adalah cara yang efektif untuk memelihara ingatan anak dalam jangka waktu yang lebih lama.

6. Beristirahatlah untuk menyegarkan otak!
Otak manusia hanya dapat menyerap materi yang disajikan dengan baik selama 20 menit pertama. Setelah itu kemampuan berkonsentrasi akan menurun. Apalagi dengan topik pencegahan karhutla, yang bisa jadi berat khususnya bagi anak-anak usia kecil.

Guru dan orang tua hendaknya memecah materi menjadi beberapa bagian, dan berkreasi agar pembelajaran anak tetap optimal, misalnya dengan memasukkan permainan ke dalam pembelajaran.

7. Apresiasi setiap upaya yang dilakukan anak-anak
Memberi penghargaan mungkin tampak sepele, tetapi bisa berdampak besar pada proses belajar anak. Jika anak-anak mencoba menggambar desa hijau tanpa api, apakah anak-anak lebih senang mendapatkan pujian dan dorongan atau ketidakpedulian dan ejekan? Jika kita melakukan yang terakhir, mereka mungkin akan berhenti belajar tentang pencegahan karhutla, marah, dan tidak peduli tentang pencegahan karhutla.

Itulah beberapa tips untuk mengoptimalkan pemahaman anak tentang materi edukasi pencegahan karhutla. Tentu saja, masih ada tips lain yang berbeda dari tips yang telah kami bagikan, tetapi tips di atas dapat membantu kita menciptakan jalan masuk yang baik untuk edukasi anak-anak tentang topik ini.

Dalam upaya membantu guru dan orang tua mengedukasi siswa dan anak-anak mereka, kami telah menyediakan laman khusus di situs web kami yang berisi materi edukasi tentang pencegahan karhutla untuk siswa sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas. Materi edukasi tentang pencegahan karhutla tersedia dan dapat diunduh di https://www.smart-tbk.com/fire-prevention.

Melalui laman khusus ini, guru dan orang tua memiliki akses mendapatkan materi yang mampu menggugah pikiran seperti presentasi tentang pencegahan karhutla, buku cerita, video animasi, dan podcast. Semua bisa diunduh secara gratis. Kami berharap anak-anak kami menjadi generasi yang sadar akan pentingnya hutan dan lingkungan, serta menghentikan penyebaran api di tanah air.

| | |