Ruang Berita

Rantai Pasok

Keberlanjutan di lanskap Rawa Singkil: Upaya transparansi untuk kawasan ekosistem yang sensitif


Di Indonesia, negara dengan hutan hujan yang lebat dan keanekaragaman hayati yang begitu beragam, perusahaan agrobisnis seringkali menjadi sasaran kritik terkait deforestasi, kerusakan habitat, dan praktik budidaya satu jenis tanaman (monokultur). Sinar Mas Agribusiness and Food telah melakukan berbagai upaya untuk menjawab persoalan-persoalan penting ini selama bertahun-tahun, dengan tetap berusaha menjaga keseimbangan antara produksi minyak sawit dan upaya perlindungan serta pelestarian ekosistem yang sensitif.

Salah satu area yang termasuk dalam ekosistem sensitif adalah lanskap Suaka Margasatwa Rawa Singkil di Aceh.

Meskipun tidak memiliki operasional langsung di wilayah tersebut, Sinar Mas Agribusiness and Food menerima sumber buah kelapa sawit yang bersumber dari pemasok pihak ketiga di sana. Kami telah mengajak dan melibatkan para pemasok di Aceh agar ikut mematuhi Kebijakan Sosial dan Lingkungan GAR (KSLG) dan memastikan terlaksananya praktik produksi yang lebih bertanggung jawab, sejak kebijakan tersebut berlaku pada 2015.

Sebuah laporan dari RAN tahun 2019 menyoroti potensi risiko pada rantai pasok perusahaan terkait adanya pabrik kelapa sawit (PKS) pemasok yang diduga menerima Tandan Buah Segar (TBS) dari sumber-sumber yang telah melakukan perambahan ke dalam Suaka Margasatwa Rawa Singkil.

Kawasan Suaka Margasatwa Rawa Singkil (area di dalam garis kuning) mempunyai luas kurang lebih 81.000 hektar dan terletak di Aceh Selatan, berbatasan dengan Aceh Singkil dan Kota Subulussalam, di Provinsi Aceh.

Mengetahui hal tersebut, Sinar Mas Agribusiness and Food pun segera melaksanakan pengecekan. Namun berdasarkan pengalaman dan pengetahuan kami mengenai dinamika yang komplek di daerah tersebut – Aceh sebagai provinsi di Indonesia yang menerapkan peraturan daerah khusus dan memiliki sejarah konflik – kami pun mengambil tindakan lebih proaktif dan positif.

Sinar Mas Agribusiness and Food menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) dengan pemasok yang ada di area tersebut, untuk menyegarkan kembali pemahaman mereka tentang kebijakan Perusahaan dan menjawab tantangan terkait risiko penerimaan kelapa sawit dari sumber yang tidak mematuhi kebijakan. Kegiatan ini diselenggarakan melalui kerja sama dengan Musim Mas, sebuah perusahaan sawit di Indonesia, dan dihadiri oleh perwakilan dari sembilan pemasok dan PKS, perwakilan agen dan petani, Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), tiga organisasi masyarakat sipil yang melakukan kegiatan di Singkil (Earthworm Foundation, USAID Lestari, dan KfW Jerman), serta konsultan Perusahaan yaitu Aidenvironment.

Peserta yang hadir meliputi pemasok pihak ketiga, agen, petani, dan pemangku kepentingan seperti BKSDA, Aidenvironment, USAID Lestari, Earthworm Foundation, dan KfW Jerman.

Poin-poin penting

Dari kegiatan ini, perusahaan mengetahui bahwa para agen tidak mengetahui batasan kawasan Suaka Margasatwa Rawa Singkil. Mereka menyebutkan bahwa hanya ada sedikit sekali atau bahkan dapat dibilang tidak ada informasi mengenai kawasan tersebut, dan juga tidak ada penanda garis batas yang jelas. Warga setempat memerlukan informasi yang lebih banyak tentang peraturan yang berlaku di Suaka Margasatwa Rawa Singkil, seperti peta terperinci dan papan informasi (amaran) yang menunjukkan lokasi kawasan yang memiliki nilai sensitif bagi lingkungan. BKSDA telah menanggapi hal ini dan menyatakan bahwa kendati telah dilakukan sosialisasi, tidak semua warga desa bisa dijangkau karena banyaknya jumlah penduduk dan keterbatasan jumlah petugas yang ada. Terkait dengan hal ini, BKSDA berencana untuk melaksanakan sosialisasi lebih lanjut di masa yang akan datang.

Pemasok dan dealer/agensepakat bahwa kemamputelusuran sangatlah penting sebagai solusi untuk menghindari dugaan adanya deforestasi dan dampak negatif terhadap lingkungan hidup. Mereka menunjukkan kesediaan untuk menerapkan Kemamputelusuran hingga ke kebun (Traceability to Plantation/TTP) dalam kegiatan operasional mereka dengan dukungan dan bimbingan dari para pemangku kepentingan yang ada, termasuk perwakilan pemerintah dan LSM.

Membangun upaya kemamputelusuran

Saatkegiatan tersebut, salah satu pemasok menyerahkan informasi kemajuan TTP yang dicapainya, dan setelah kegiatan itu berakhir, tercatat empat pemasok lain telah mengirimkan informasi kemajuan TTP mereka ke Sinar Mas Agribusiness and Food. Salah satu di antara pemasok tersebut saat ini telah mencapai target 100% TTP dan yang lainnya sedang dalam proses untuk mencapai target tersebut di akhir 2020. Di sisi lain, jumlah petani yang terdaftar dalam program kemamputelusuran Ksatria Sawit juga menunjukkan peningkatan. Sampai saat ini, sembilan PKS di Aceh telah berpartisipasi dalam program Ksatria Sawit dan mencatat jumlah capaian 136 agen dan 6.364 petani – sebuah pertanda menggembirakan untuk komitmen kemamputelusuran kami.

Kemamputelusuran hanyalah sebuah sarana untuk mencapai tujuan. Tujuan Sinar Mas Agribusiness and Food adalah untuk membangun hubungan kerja sama yang baik dengan PKS, pedagang, dan petani guna membantu mereka dalam meningkatkan praktik di bidang lingkungan, sosial, dan tenaga kerja. Kami juga akan terus melibatkan pemangku kepentingan untuk bersama-sama berkolaborasi dalam rangka mewujudkan komitmen terhadap praktik tanpa deforestasi, tidak membangun di lahan gambut, dan tanpa eksploitasi (No Deforestation, Peat and Exploitation/NDPE) serta kepatuhan terhadap KSLG.

Ikuti perkembangan terbaru kemamputelusuran dengan berlangganan buletin bulanan perusahaan Sinar Mas Agribusiness and Food di tautan ini.

| | |