menu bar
close-grey

Bekerjasama Mendukung Sang Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Posted: Sep 27, 2016 4 minute read Aviliani, S.E., M.Si. 474 views

Petani swadaya adalah pelopor dan tulang punggung industri sawit yang berkontribusi sebanyak 15 persen dalam GDP Indonesia. Namun demikian, ternyata hanya sebagian kecil dari pinjaman yang diberikan lembaga keuangan untuk para petani ini di masa lalu. Sebagian besar diantaranya justru dialokasikan untuk perusahaan perkebunan komersial yang lebih besar. Akses yang terbatas terhadap pendanaan ini berdampak pada terhambatnya produktivitas dan pendapatan mereka. Petani Indonesia membutuhkan solusi yang dapat mengatasi hambatan ini dengan memberikan mereka akses untuk meraih dukungan finansial yang dibutuhkan.

Bagaimana upaya kita membela petani Indonesia?

Salah satu solusi yang saat ini ditawarkan adalah Skema Inovasi Rantai Nilai, yakni adalah sebuah program yang dikembangkan oleh Kamar Dagang dan Industri (KADIN), bekerjasama dengan Partnership for Indonesia’s Sustainable Agriculture (PISAgro), dan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI). Program ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan para petani, serta mendukung produksi sektor pertanian yang berkelanjutan di Indonesia.

Skema Inovasi Rantai Nilai diimplementasikan melalui ‘Kredit Usaha Rakyat (KUR) Plus’, yaitu adalah sebuah skema kredit untuk para petani dengan bebagai nilai tambah seperti kompensasi selama masa tunggu panen, dukungan infrastruktur, serta penyediaan bibit dan pupuk.

Dengan program Skema Inovasi Rantai Nilai, sekarang kita memiliki sistem dan tolok ukur bagaimana cara menyediakan kebutuhan finansial dan dukungan bagi komunitas pertanian Indonesia. Hal ini merupakan awal yang baik. Lalu, bagaimana selanjutnya?

Inklusi keuangan untuk petani perlu sinergi yang lebih baik

Sebagaimana layaknya program nasional berskala besar, kesuksesan dari upaya memperluas iklusi keuangan terletak pada pelaksanaannya di setiap sektor. Agar Skema Inovasi Rantai Nilai menjadi benar-benar efektif dan menjangkau lebih banyak petani, dibutuhkan sinergi yang kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah dan berbagai institusi keuangan.

Pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu memegang kendali yang lebih kuat untuk melembagakan Skema Inovasi Rantai Nilai ini ke seluruh pelosok nusantara. Dimulai dari tingkat nasional, kemudian diimplementasikan dan didukung pelaksanaannya di setiap daerah. Untuk memulainya, peningkatan literasi keuangan bagi petani perlu digalakkan dengan mengajarkan mereka tentang perencanaan keuangan, edukasi tentang apa yang bank harapkan, dan bagaimana mengelola pengembalian peminjaman. Pemerintah juga perlu mempertimbangkan untuk membantu petani menyederhanakan proses pengurusan legalitas atas kepemilikan lahan. Program ini juga didukung dengan mekanisme pemberian reward (penghargaan) kepada petani yang melaksanakan praktik berkebun yang baik dan berkelanjutan.

Di sisi penyedia jasa keuangan, pelaku industri keuangan diharapkan juga memiliki komitmen dan pemahaman yang lebih baik tentang peran petani swadaya Indonesia dan kegiatan usaha mereka. Setelah itu, mereka perlu mengembangkan solusi finansial yang tepat untuk para petani. Para penyedia jasa keuangan perlu memastikan agar kredit yang mereka salurkan benar-benar terjangkau bagi para petani dengan cara menurunkan suku bunga, memperpanjang periode pengembalian peminjaman, dan menawarkan grace period (tenggang waktu tertentu) selama periode penanaman kembali.

Belajar dari Skema Inovasi Rantai Nilai yang telah diterapkan

Yang menggembirakan saat ini adalah bahwa sudah tersedia beberapa proyek pencontohan Skema Inovasi Rantai Nilai yang berhasil dijalankan di beberapa sektor pertanian. Program ini telah memberikan keuntungan bagi lebih dari 440.000 petani di tahun 2016. Disinilah kita menyaksikan betapa penting peran sektor swasta dalam skema ini.

Sebagai contoh, terdapat momentum yang baik di sektor industri kelapa sawit sebagaimana yang telah dilakukan oleh PT SMART Tbk. Perusahaan ini telah menjalankan skema inovasi keuangan dan juga memberikan dukungan bagi petani swadaya. Sebagai contoh, menilik salah satu program mereka di Riau, petani kelapa sawit menghadapi beberapa tantangan, seperti hasil panen yang rendah akibat penggunaan benih dengan produktivitas rendah, kurangnya praktek pertanian yang baik (Good Agricultural Practices) untuk mengolah kebun mereka, dan juga kurangnya pendanaan untuk penanaman kembali pohon kelapa sawit. Para petani juga mengalami produktivitas kebun yang rendah karena tidak sedikit petani yang dililit hutang.

Namun, setelah mengikuti skema inovasi keuangan, kini petani kelapa sawit merasa terbantu dalam mengatasi kesulitan pendaan mereka. Saat ini, mereka memiliki akses untuk bibit berkualitas yang bersertifikasi. Selain itu, mereka juga menerima pelatihan mengenai praktik pertanian yang baik, serta praktik pertanian yang berkelanjutan. Saat ini mereka juga memiliki kepastian harga pasar atas hasil panen mereka dengan mekanisme penetapan harga FFB (Fresh Fruit Bunch) dari dinas pertanian pemerintah daerah setempat

Dalam hal dukungan pendanaan, yang terpenting adalah bagaimana cara mendukung petani kelapa sawit untuk memperoleh akses terhadap inovasi pembiayaan yang lebih luas dengan suku bunga pinjaman yang lebih terjangkau dan masa pengembalian pinjaman yang lebih panjang, khususnya bagi tanaman tahunan untuk mendukung aktivitas peremajaan kebun.

Kemajuan yang baik, tapi jangan berhenti sampai di sini saja

Kita boleh berbangga dengan kemajuan yang telah kita capai sejauh ini, dengan Skema Inovasi Rantai Nilai yang telah sukses dilaksanakan dalam berbagai sektor pertanian dan banyaknya petani yang telah merasakan manfaat dari program tersebut. Langkah berikutnya adalah bagaimana mereplikasi (upscale) skema yang sudah sukses ini di berbagai komoditas pertanian lainnya, juga mencapai target untuk membantu 1 juta petani pada tahun 2020. Agar hal ini bisa terlaksana, para petani Indonesia tentu membutuhkan dukungan terus-menerus dari komunitas keuangan, pemerintah pusat dan daerah, serta dari sektor swasta. Para petani kita adalah pahlawan tanpa tanda jasa dan mereka memainkan peranan vital bagi perekonomian Indonesia. Hal yang bisa kita lakukan bagi mereka setidaknya adalah dengan bekerjasama dengan lebih baik untuk mendukung mereka dengan sebaik-baiknya. Selamat Hari Tani Indonesia 2016!

Aviliani, S.E., M.Si.

Aviliani adalah Sekretaris Umum Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) dan juga seorang ekonom Indonesia yang terhormat. Sejak tahun 2012, beliau telah ditunjuk sebagai Sekretaris Komite Ekonomi & Industri Nasional (KEIN).

Artikel opini ini sebelumnya muncul di Media Indonesia.

Tetap up-to-date dengan berita terbaru dengan berlangganan buletin bulanan kami di sini

fb twitter linkedin mail