Ruang Berita

Blog

VLOG: Petani Swadaya dan Inovasi Pembiayaan


Lebih dari 40 persen perkebunan kelapa sawit di Indonesia dikelola oleh 2 juta petani swadaya Indonesia dan sisanya dikelola oleh petani plasma yang bermitra dengan perkebunan komersil.

Namun para petani swadaya menghadapi sejumlah kendala. Tingkat produktivitas dan hasil panen para petani ini sangat rendah. Hal ini disebabkan oleh kualitas bibit yang tidak memadai dan kurangnya penerapan praktek agronomi yang baik. Hasil panen para petani swadaya secara umum sangat rendah dan hanya mencapai dua hingga tiga ton per hektar.

Oleh karena itu, para petani swadaya memiliki kebutuhan mendesak untuk segera melakukan peremajaan kebun kelapa sawit mereka, menggantikan pohon-pohon kelapa sawit yang sudah tua serta meningkatkan produktivitas perkebunan kelapa sawit mereka dengan manajemen budidaya perkebunan yang lebih baik.

Akan tetapi peremajaan kebun membutuhkan biaya besar dan waktu yang lama. Waktu yang dibutuhkan untuk proses peremajaan kebun bisa mencapai empat tahun, hingga pohon tersebut memasuki masa panen. Selama masa praproduksi ini para petani tidak memiliki pendapatan yang tetap, padahal pada saat yang sama mereka perlu berinvestasi untuk membeli bibit baru, pupuk dan melakukan pencegahan hama dan penyakit tanaman kelapa sawit mereka yang masih muda. Akibatnya, tidak banyak petani swadaya yang mengalami kesulitan untuk membiayai peremajaan kebun mereka dan akhirnya memilih untuk membuka lahan baru yang akan menambah tekananan terhadap hutan-hutan di Indonesia.

Renville, seorang petani swadaya, dari Bandar Pandang, Kabupaten Indragiri Hulu memberikan gambaran tentang kondisi yang banyak dialami oleh para petani swadaya saat ini. “Hasil panen dari perkebunan kelapa sawit saya sangat rendah. Hal ini disebabkan karena pohon kelapa sawit saya berasal dari bibit yang tidak berkualitas, sehingga tidak dapat menghasilkan buah dengan mutu sesuai standar yang telah ditentukan. Akibatnya saya tak bisa menjual sesuai dengan harga pasar.”

Memperkenalkan Skema Inovasi Pembiayaan

Program kemitraan terpadu yang diusung oleh Pemerintah Indonesia, Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) yang difasilitasi pelaksanaannya oleh PISAgro atau Partnership for Indonesia’s Sustainable Agriculture berupaya mengatasi permasalahan para petani. PT SMART mendukung program ini dengan memperkenalkan Skema Inovasi Pembiayaan.

Skema ini bertujuan untuk:

  1. Mendukung peremajaan dua juta hektar perkebunan kelapa sawit petani swadaya
  2. Meningkatkan produktivitas petani swadaya dua hingga tiga kali lipat sehingga mendekati hasil panen dari perkebunan komersil
  3. Menyalurkan kompensasi penggantian tanaman (biaya hidup) selama masa peremajaan kebun
  4. Menekan kebutuhan untuk membuka lahan baru hingga satu juta hektarSkema Inovasi Pembiayaan telah diluncurkan di provinsi Riau, Sumatra. Program ini mendorong petani setempat untuk bergabung dan membentuk koperasi, dan dengan demikian dapat membentuk kemitraan jangka panjang dengan pabrik kelapa sawit PT SMART.

Selain mendapatkan kepastian kontrak pembelian hasil panen jangka panjang, para petani akan mendapatkan bantuan dalam memperoleh sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil System (ISPO), bantuan meningkatkan status kepemilikan lahan, dana hibah, pelatihan, pinjaman bersubsidi, sehingga memampukan petani untuk berinvestasi dengan membeli bibit berkualitas dengan tingkat produktivitas yang lebih baik dan dukungan praktek agronomi yang baik.

Dengan demikian hasil panen akan lebih tinggi dan para petani akan memiliki pendapatan yang lebih tinggi dan pasokan minyak kelap sawit yang stabil dan berkualitas bagi PT SMART. Selain itu, skema ini akan menekan pembukaan lahan perkebunan baru yang memberikan tekanan pada hutan sekitar.

Pemerintah daerah, termasuk Jefry H. Noer, Bupati Kampar dari provinsi Riau sangat mendukung implementasi skema inovasi pembiayaan ini dan mengatakan, ” Saat ini terdapat lebih dari 600,000 hektar kebun kelapa sawit di daerah Kampar. Mayoritas perkebunan tersebut membutuhkan peremajaan segera. Apabila hal ini tidak dilakukan, para petani bisa kehilangan mata pencaharian mereka. PT SMART telah memberikan solusi yang sangat dibutuhkan petani swadaya di daerah ini, sehingga memungkinkan mereka untuk melakukan peremajaan kebun kelapa sawit mereka.”

Skema Inovasi Pembiayaan PT SMART saat ini melibatkan 320 petani di Riau dengan luas lahan 900 hektar. Setelah berhasil dalam menerapkan uji coba skema ini, PT SMART berencana untuk memperluas jangkauan skema ini ke petani di daerah lain.

| | |