Ruang Berita

Masyarakat

Memberdayakan masyarakat dengan pola bertani ramah lingkungan dan membangun ketahanan pangan sembari mengurangi risiko kebakaran (Bagian 2)


Tidak sedikit petani ladang yang beranggapan bahwa mengolah lahan tanpa membakar memerlukan modal yang besar. Melalui program Kebun Sayur Pekarangan (KSP) yang dilaksanakan Sinar Mas Agribusiness and Food, kami membantu masyarakat Dusun Nanga Bian berhasil menggarap lahan pekarangan rumah mereka sehingga tidak hanya membantu mengurangi pengeluaran rumah tangga mereka, tetapi mendorong warga untuk menjual sayur-sayuran hasil panen mereka sendiri ke warga dusun yang lain. Program ini dilakukan dengan cara-cara yang lebih ramah lingkungan, berbiaya murah serta menghindari perlunya membuka lahan dengan membakar.

Program Kebun Sayur Pekarangan (KSP) binaan PT Paramitra Internusa Pratama (PIP) dimulai sejak Maret 2016. Kegiatan ini dilakukan setelah menyelesaikan proses dan analisa Kaji-urai Prikehidupan Masyarakat (Sustainability Livelihood Assessment) yang berkelanjutan dan dilakukan oleh tim CSR Sinar Mas Agribusiness and Food. Kelompok perwakilan masyarakat yang juga merupakan pekerja lepas di kebun kelapa sawit merupakan peserta utama dari program ini.

Kegiatan pertama yang dilakukan kelompok adalah membangun demplot pembibitan sayur. Pelatihan diberikan agar anggota kelompok mampu menyediakan kebutuhan bibit-bibit sayur mereka sendiri. Lahan untuk lokasi demplot dipinjamkan oleh salah seorang anggota yang berada dekat dengan fasilitas penampungan air hujan dan tepat dipinggir jalan desa.

Pembangunan lokasi pembibitan sayur-mayur dilakukan secara bergotong-royong. Waktu pelaksanaan kegiatan ini dilakukan setiap hari secara bergiliran setelah para pekerja kebun pulang dari bekerja di perkebunan kelapa sawit tempat mereka bekerja.

PT PIP sebagai mitra utama bagi warga dusun Bian memberikan dukungan dalam bentuk pendampingan dan menyediakan bahan dan alat-alat kegiatan KSP, seperti polynet, tong biru ukuran besar, terpal plastik, jerigen dan ember bertangkai ukuran besar dan 15 jenis benih sayur-mayur.

Polynet digunakan sebagai atap penyemaian agar benih dan bibit tidak terpapar langsung oleh sinar matahari dan air hujan serta mengurangi tingkat penguapan dari permukaan media semai. Tong biru ukuran besar dipakai untuk wadah pengolahan kompos cair. Terpal plastik dimanfaatkan untuk menutup bahan-bahan organik yang diolah menjadi kompos padat agar terlindung dari dari hujan dan panas terik, sedangkan jerigen dan ember sangat membantu anggota kelompok dalam mengumpulkan dan menyimpan limbah cair rumah tangga (seperti air cucian beras, cucian ikan dan air kelapa).

Untuk mempersiapkan media semai benih sayur yang akan dikembangkan, anggota kelompok mengumpulkan tanah permukaan (topsoil) yang dicampur dengan tanah pasir dan abu limbah pengolahan buah kelapa sawit yang disumbangkan oleh pabrik kelapa sawit PT PIP.

Jenis tanaman sayur yang disemai di demplot kelompok diantaranya: kangkung, bayam, sawi manis, sawi pahit, phak coy (sawi botol), terong ungu, seledri di bedengan serta timun, pare, gambas, buncis, kacang panjang, labu kuning dan lain-lain.

Anggota kelompok KSP juga dibekali dengan materi-materi pelatihan khusus seperti cara memperbanyak Mikro Organisme Lokal (MOL) dan Nutrisi MOL, cara membuat kompos padat dan kompos cair, cara menguji ion yang terkandung di tanah-tanah yang ada di sekitar lingkungan pemukiman. Para peserta juga belajar cara membuat racun nabati untuk menanggulangi hama penyakit tanaman sayur dari bahan-bahan alami dan bagaimana cara mengatur waktu tanam dan panen agar sayur tetap berproduksi sepanjang tahun.

Setelah anggota kelompok KSP mengerti dan mampu melakukan budidaya sayur pada lokasi pembibitan kelompok, tahap selanjutnya adalah membangun kebun sayur mini di halaman rumah masing-masing. Jumlah bedeng dan luasan kebun sayur pekarangan disesuaikan dengan luasan halaman rumah yang akan dimanfaatkan. Begitu pula jenis tanaman sayur yang ditanam.

Setelah program KSP berjalan, di halaman rumah penduduk mulai dihiasi berbagai jenis sayur tumbuh dalam bedengan-bedengan kecil. Perlahan-lahan anggota masyarakat lain yang tidak ikut dalam kegiatan ini mulai menunjukkan minat untuk melakukan hal sama. Saat ini jumlah anggota yang dibina berjumlah lebih dari 40 orang atau meningkat dari semula hanya diikuti oleh 17 orang.

Program KSP ini membuktikan bahwa bahwa metode buka lahan tanpa bakar dapat dilakukan dengan cara-cara yang praktis dan menghasilkan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat. Sinar Mas Agribusiness and Food akan mengembangkan program-program seperti ini sebagai bagian dari upaya jangka panjang untuk mengatasi bahaya kebakaran hutan dan kabut asap.

| | |