Ruang Berita

Makanan & Kesehatan

Peran minyak kelapa sawit dalam nutrisi makanan


Minyak kelapa sawit merupakan minyak nabati alami yang dapat dikonsumsi dan paling melimpah di dunia, namun konsumen mungkin tidak melihat langsung kaitan minyak sawit dengan sesuatu yang “alami”. Dengan keberadaan generasi yang semakin sadar kesehatan saat ini, di mana konsumen ingin mencari informasi saat mengambil keputusan, kami ingin menjawab pertanyaan: mengapa minyak kelapa sawit penting untuk kesehatan dan gizi kita?

Komposisi unik membuatnya bebas lemak trans
Lemak trans tidak baik untuk Anda. Berbagai otoritas kesehatan, termasuk World Health Organisation (WHO), kini menganjurkan agar lemak trans dihindari karena telah terbukti secara klinis meningkatkan potensi penyakit jantung. Bahkan, dinas kesehatan AS (US Food & Drug Administration) telah menginstruksikan agar lemak trans dihapus dari seluruh pasokan pangan pada 18 Juni 2018; dan WHO juga berencana menghapus sepenuhnya lemak ini dari pasokan pangan di tahun 2023.

Di titik ini, wajar bila muncul pertanyaan lain – Jika sedemikian buruk, mengapa kehadiran lemak trans pada produk makanan seakan dibiarkan begitu saja sejak awal?

Menurut European Palm Oil Alliance, sejak dekade 1950-an terdapat tuntutan untuk beralih dari lemak hewani ke lemak nabati karena kadar kolesterol lemak nabati lebih rendah. Minyak kedelai, minyak bunga matahari, minyak rapa, dan minyak jagung (yang berbentuk cair pada suhu ruangan) memang banyak jumlahnya, namun dibutuhkan hidrogenasi parsial untuk mengubah wujud minyak tersebut dari cair menjadi semipadat, sehingga lebih tahan oksidasi dan lebih praktis dalam proses produksi. Hidrogenasi parsial menyebabkan terbentuknya lemak trans industri pada minyak tersebut, yang belum banyak diketahui pada saat itu. Baru setelah selang beberapa waktu ilmuwan dapat membuktikan kaitan langsung antara lemak trans dan penyakit jantung.

Minyak sawit berbentuk semi padat pada suhu ruangan, sehingga cocok untuk pemakaian umum dalam makanan tanpa hidrogenasi.

Di sisi lain, minyak kelapa sawit adalah alternatif yang lebih sehat dibanding minyak-minyak nabati tersebut karena secara alami berbentuk semi padat pada suhu kamar, sehingga tidak memerlukan hidrogenasi parsial dan secara alamiah terbebas dari lemak trans.

Minyak kelapa sawit terbukti sebagai alternatif yang lebih baik
Minyak kelapa sawit telah berkontribusi signifikan terhadap kandungan gizi dalam produk makanan.

Tiga dasawarsa yang lalu, mengetahui dampak negatif lemak trans pada kesehatan, sejumlah produsen makanan global yang memiliki perhatian terhadap gizi menempuh upaya aktif untuk menghapus asam lemak trans dari merek-mereknya. Sebagai contoh, di awal 90-an, Unilever memutuskan untuk menghapus asam lemak trans dari olesan roti dan makanan lainnya[1]. Berbagai upaya untuk memanfaatkan minyak kelapa sawit memainkan peran sangat penting dalam menjamin keberhasilan transisi ke produksi makanan tanpa lemak trans. Sejak tahun 2000-an, banyak negara mulai mengikuti arahan WHO’ untuk mengurangi asam lemak trans. Untuk tujuan itu, minyak kelapa sawit adalah rute paling alami dan efektif.

Hal berikutnya adalah modifikasi genetik minyak kedelai, sehingga memicu meningkatnya permintaan terhadap minyak nabati yang lebih alami. Minyak kelapa sawit adalah satu-satunya minyak nabati alami yang melimpah. Uniknya status minyak sawit tersebut masih bertahan hingga kini – sekarang ini, tidak ada minyak makan lain yang tersedia secara global yang dapat menandingi minyak kelapa sawit alami dalam hal serbaguna, tidak perlu modifikasi baik genetik maupun modifikasi dengan hidrogenasi.

Secara keseluruhan buah sawit juga bermanfaat. Dagingnya yang berwarna kuning tidak hanya dapat diekstrak untuk memperoleh minyak, tetapi inti sawitnya juga bisa dimanfaatkan, yang berlimpah dalam bentuk asam lemak rantai medium khusus.

Struktur kimia asam lemak dari minyak inti sawit hampir identik dengan minyak kelapa – yang semakin populer karena karakteristiknya yang bermanfaat. Namun demikian, minyak kelapa mempunyai kekurangan yaitu bahwa praktik ekstraksinya mengakibatkan terbentuk kontaminan seperti polycyclic aromatic hydrocarbon (PAH), yaitu sekelompok bahan kimia yang dapat menyebabkan katarak, ginjal, dan kerusakan hati jika terpapar dalam jangka panjang[2].

Inti sawit, di sisi lain, diolah degan cara yang sangat berbeda dan karena itu bebas dari kontaminasi serupa. Alhasil, ini menjadi pilihan yang lebih cocok ketika diperlukan sumber yang kaya asam lemak rantai medium dan pendek.

Jantung buah kelapa sawit yang berwarna putih adalah inti sawit yang bisa digunakan untuk membuat minyak inti sawit, yang kaya asam lemak rantai medium maupun pendek.

Ragam fraksi minyak sawit memenuhi berbagai kebutuhan gizi
Berkat kemajuan modern, saat ini ada banyak fraksi minyak sawit lain yang 20 tahun lalu tidak tersedia secara melimpah (karena dulu biayanya terlalu mahal untuk berproduksi dalam jumlah besar). Fraksi ini sekarang banyak tersedia untuk penggunaan khusus atau memenuhi kebutuhan gizi tertentu.

Sebagai contoh, ketersediaan fraksi olein (cair), yang dikenal sebagai salah satu fraksi medium sawit, telah memungkinkan pengembangan pengganti lemak susu. Hal ini memungkinkan formulasi produk tanpa komponen lemak susu karena tidak toleran pada alergen, untuk mengompensasi rendahnya ketersediaan lemak susu, atau sekadar menurunkan biaya produk.

Meningkatnya permintaan cokelat di seluruh dunia, misalnya, telah memperlebar kesenjangan antara permintaan dan pasokan biji kakao. Berkat adanya fraksi pengganti mentega cokelat khusus dari minyak kelapa sawit dan minyak inti sawit, lapisan, isi, dan krim cokelat sekarang dapat dibuat dengan minyak kelapa sawit sebagai pengganti cokelat.

Seperti disebutkan di atas tadi, fraksi inti sawit sangat jenuh dalam asam lemak rantai medium dan pendek, sehingga membuat fraksi olein cocok digunakan dalam formula nutrisi untuk bayi dan makanan energi bagi atlet. Asam lemak spesifik ini tidak menumpuk dan tersimpan dalam peredaran darah seperti halnya lemak jenuh rantai panjang yang lain[3].

Minyak yang berharga berperan penting dalam produksi makanan sehat

Produk makanan sehat dan lezat yang dibuat dengan minyak kelapa sawit.

Selain bebas lemak trans dan memenuhi kebutuhan gizi khusus, minyak sawit memiliki banyak manfaat kesehatan lain. Salah satunya, minyak ini adalah sumber yang kaya beta-karoten, dan merupakan prekursor Vitamin A serta tokotrienol. Di samping itu, minyak sawit mengandung tokoferol dan tokotrienol, yang merupakan komponen antioksidan Vitamin E. Antioksidan alami ini bertindak sebagai pemungut radikal bebas oksigen yang bersifat merusak. Perkembangan terbaru menunjukkan sifat biologis mereka dalam memberi perlindungan terhadap kanker, penyakit jantung, degenerasi sistem saraf, stres oksidatif, dan pengaturan sistem kekebalan tubuh[4].

Mengingat banyaknya manfaat kesehatan dari minyak sawit ketika digunakan sebagai bahan makanan, dan melihat semakin pentingnya arti yang diberikan pada makanan bebas lemak trans dan hidrogenasi, Sinar Mas Agribusiness and Food meyakini bahwa minyak kelapa sawit mempunyai, dan akan terus memiliki, peran yang sangat besar dalam pembuatan produk yang lebih aman dari segi nutrisi.

Itulah mengapa kami berinvestasi pada Penelitian & Pengembangan (Litbang) agar dapat terus berinovasi dalam membuat produk makanan yang aman, sehat, dan lezat dari minyak sawit.

Di luar penggunaan pada makanan, pelajari lebih lanjut pemanfaatan minyak kelapa sawit untuk banyak produk konsumen lainnya, termasuk kosmetik dan sabun.

Dr. Paul Wassell adalah spesialis di bidang pemanfaatan lemak & minyak makan yang bekerja di GAR. Beliau memiliki pengalaman lebih dari 35 tahun dalam teknologi pangan dan pemanfaatannya, khususnya dalam pembuatan kue dan kreasi gula hias. Paul mengantongi gelar PhD dalam Ilmu Biologi dari University of Chester di Britania Raya.

[1] The Elimination of Trans Fats from Spreads: How Science Helped to Turn an Industry around, Onno Korver and Martijn B. Katan (2006).
[2] A review on polycyclic aromatic hydrocarbons: Source, environmental impact, effect on human health and remediation, Hussein I.Abdel-Shafy and Mona S.M.Mansour (2016)
[3] The Properties of Lauric Acid and Their Significance in Coconut Oil, Fabian M. Dayrit (2014).
[4] Biological Properties of Tocotrienols: Evidence in Human Studies, Puvaneswari Meganathan and Ju-Yen Fu (2016).

| | |