menu bar
close-grey

Pendekatan Kolaboratif untuk Mencegah Kebakaran Lahan

Posted: Jul 28, 2022 6 minute read SMART 87 views
Program pencegahan kebakaran jangka panjang bersama komunitas membawa hasil yang baik di Kalimantan
Program pencegahan kebakaran jangka panjang bersama komunitas membawa hasil yang baik di Kalimantan

Di Indonesia, kebakaran hutan dan lahan gambut merupakan masalah yang kerap kali dihadapi serta lazim terjadi selama musim kemarau yang biasanya berlangsung selama bulan April hingga September. Banyak dari insiden kebakaran itu berkaitan dengan praktik tradisional dalam budidaya lahan, yang dilakukan petani dengan cara membakar lahan agar siap untuk ditanami kembali. Cara efektif untuk mencegah, memantau, dan menghentikan kebakaran ini semakin menyebar adalah dengan berkolaborasi dengan komunitas petani dan membuka wawasan mereka tentang pencegahan kebakaran dan metode budidaya yang berkelanjutan.

Alasan utama mengapa kita perlu mengatasi keprihatinan yang berkepanjangan terhadap kebakaran hutan dan kabut asap yang diakibatkannya di Indonesia adalah karena hal tersebut:

  • Dapat membahayakan kesehatan manusia, terutama bagi masyarakat pedesaan tempat kebakaran terjadi.
  • Menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati, sehingga merusak ekosistem dan mengancam kelangsungan spesies yang bergantung padanya.
  • Berkontribusi besar terhadap perubahan iklim global karena lepasnya gas rumah kaca (GRK) ke atmosfer saat hutan terbakar.
  • Menimbulkan kabut asap yang menghambat produksi kelapa sawit, sehingga berdampak buruk bagi kelangsungan usaha.

Kebakaran hutan dan lahan yang seringkali terjadi tiap musim kemarau adalah salah satu masalah lingkungan yang terus menghantui Indonesia. Sepanjang musim kemarau 2021, terdapat sebanyak 1.500 peringatan kebakaran dari NASA yang jejaknya ditelusuri hingga ke sepuluh konsesi kehutanan milik industri di wilayah yang dimiliki perkebunan kelapa sawit atau kertas. Hasil investigasi mengungkapkan bahwa sebagian besar kebakaran tersebut terjadi di Kalimantan, Sumatera dan pulau-pulau sekitarnya, juga di Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat. Namun, sebagian besar titik api itu bukan disebabkan oleh pekerja konsesi dalam persiapan lahan, tetapi oleh warga yang tinggal di dalam maupun di sekitar area konsesi yang bercocok tanam dengan metode tebang-bakar.

Di sinilah bisnis sawit dapat berperan aktif dalam menjalin kerja sama dengan komunitas petani tradisional – untuk mengedukasi serta melatih mereka dalam mencegah kebakaran. Tentu saja, hal itu tidak semudah kedengarannya. Meminta masyarakat untuk mengubah praktik tradisionalnya yang sudah dilakukan secara turun-temurun membutuhkan waktu dan strategi yang matang.

Jumlah insiden kebakaran telah mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir, berkat upaya pemerintah dan langkah-langkah keberlanjutan yang diambil perusahaan kelapa sawit. Hal ini menjadi awal yang menjanjikan. Menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia, penurunan kebakaran lahan antara tahun 2020 dan 2021 mencapai lebih dari 50%.

Sinar Mas Agribusiness and Food (SMAF) berperan aktif dalam mencari solusi jangka panjang guna mengatasi kebakaran hutan di dalam dan di sekitar area konsesi Perusahaan. Pada tahun 2016, Perusahaan meluncurkan program Desa Makmur Peduli Api (DMPA), sebuah program pencegahan kebakaran jangka panjang bersama komunitas untuk desa-desa di wilayah paling rentan kebakaran dan memiliki riwayat insiden kebakaran yang berulang. Desa-desa yang mengikuti program DMPA ini telah dibekali dengan pelatihan tentang pencegahan kebakaran, infrastruktur dasar pemadaman kebakaran, dan proses peringatan dini untuk menghadapi risiko kebakaran.

Memastikan pencegahan kebakaran dalam jangka panjang
Memastikan pencegahan kebakaran dalam jangka panjang melalui Desa Makmur Peduli Api (DMPA)

Sejak diluncurkan, program ini telah efektif diterapkan di 90 desa di Sumatera dan Kalimantan. Beberapa dari desa-desa tersebut telah menunjukkan penurunan signifikan dalam jumlah insiden kebakaran. Sebagai contoh, di Provinsi Riau, tercatat tidak ada (nihil) insiden kebakaran di dalam dan di dekat area konsesi Perusahaan pada tahun 2020. Upaya berkelanjutan dalam pendampingan dan pelibatan peran masyarakat telah mendorong warga setempat untuk berhenti membakar lahan untuk pertanian. Semua ini menunjukkan bagaimana upaya kolaboratif seperti program DMPA dapat membantu mencegah kebakaran lahan, dan bagaimana upaya tersebut memadai dan bahkan berhasil dalam menangani masalah kebakaran secara proaktif.

Pada tingkat masyarakat, program DMPA menjawab tiga kebutuhan utama dengan:

  • Mengidentifikasi dan membentuk tim relawan dari kalangan masyarakat – Masyarakat Siaga Api (MSA) – untuk melindungi desa dari kebakaran.
  • Bekerja sama dengan masyarakat untuk memulihkan lahan gambut.
  • Berupaya memastikan ketahanan pangan melalui Pertanian Ekologi Terpadu (PET)

Program ini juga ditargetkan untuk anak-anak sebagai bagian dari upaya berkelanjutan menyeluruh dalam mengubah pola pikir masyarakat dan mencegah mereka dalam membakar hutan. Selain berfokus pada pelestarian hutan dan ketahanan pangan, tujuan utamanya adalah mendidik masyarakat pedesaan mengenai dampak lingkungan dari kebakaran lahan.

Teknologi telah membantu melacak dan memantau insiden kebakaran di seluruh wilayah Perusahaan. Satelit sebagai “mata di langit” yang terus memantau serta drone yang memberikan titik pengamatan dari atas telah membantu MSA dan Tim Kesiapsiagaan dan Tanggap Darurat (TKTD) di lapangan untuk mengambil tindakan segera.

training pemadaman kebakaran
Bersiap untuk pelatihan pemadaman kebakaran yang sedang berlangsung

Pada tahun 2022, kami berencana memperluas upaya pencegahan kebakaran ke daerah rawan kebakaran lain yang membutuhkan perhatian. Hal ini akan mencakup area lahan gambut yang luas di seluruh area operasional Perusahaan di Kalimantan dan Sumatera, dan sejumlah daerah yang berpotensi menjadi titik api di dalam maupun di sekitar area konsesi di Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Jambi.

Selain itu, area yang sebelumnya memiliki tingkat keterlibatan masyarakat relatif lebih rendah kini menjadi daerah prioritas dalam program DMPA.

Beberapa upaya yang kami rencanakan meliputi:

Pelibatan masyarakat yang sedang berlangsung:

  • Melanjutkan program DMPA di desa-desa yang sudah ada dan memperluasnya ke desa-desa terdekat lain di sekitar wilayah konsesi Perusahaan.
  • Mendukung pendidikan masyarakat setempat tentang praktik pertanian ramah lingkungan dengan metode Pertanian Ekologi Terpadu untuk mencegah praktik penyiapan lahan dengan metode bakar.
  • • Membentuk lebih banyak tim relawan di tingkat masyarakat – Masyarakat Siaga Api (MSA) – di seluruh anak perusahaan kami lainnya. Tim MSA akan bekerja sama dengan TKTD dalam memadamkan kebakaran atau mencegah titik api semakin parah.

Peningkatan kapasitas:

  • Melakukan pelatihan bersama untuk tim TKTD dan MSA dengan dukungan dari tim pemadam kebakaran yang kompeten, yaitu Manggala Agni, dalam rangka meningkatkan keterampilan pencegahan kebakaran tim-tim kami.
  • Menerapkan langkah jangka panjang, seperti mengedukasi anak-anak sekolah mengenai bahaya kebakaran dan membantu masyarakat beralih dari metode bakar dalam menyiapkan lahan pertanian.

Pendidikan dan kampanye berkesinambungan:

  • Mengedukasi masyarakat setempat dan melibatkan mereka dalam patroli kebakaran untuk mengintegrasikan dan lebih menyelaraskan upaya dalam inisiatif pencegahan kebakaran Perusahaan.
  • Mengandalkan kampanye dan upaya komunikasi yang terus berlangsung untuk menyampaikan informasi tentang pencegahan kebakaran – melalui buku cerita, media sosial, WhatsApp, kunjungan sekolah, dll. – di tingkat masyarakat.

Pada tahun 2021, lebih dari 600 orang dari 90 desa berpartisipasi sebagai relawan MSA. Pada tahun 2022, terdapat 10 desa tambahan dengan lebih dari 80 orang bergabung dengan MSA. Saat ini, tim MSA tersebar di berbagai wilayah operasional Perusahaan di Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Lampung, Riau, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah. Hal ini sejalan dengan upaya Perusahaan untuk terus memperkuat upaya mitigasi kebakaran melalui kolaborasi dengan masyarakat dalam menanggulangi kebakaran jangka panjang melalui program DMPA.

Di samping mengandalkan pendekatan kolaboratif, Perusahaan juga berfokus pada strategi komprehensif untuk mengatasi masalah kebakaran, yang juga menuntut pelaku usaha untuk menerapkan dan mematuhi kebijakan terkait di seluruh rantai pasoknya. Kebijakan Tanpa Bakar yang kami diterapkan sejak 1997 mencegah penggunaan metode bakar di semua operasional dan di seluruh rantai nilai Perusahaan. Kami melarang penggunaan metode ini dalam persiapan atau pengembangan lahan. Untuk lebih memastikan bahwa seluruh rantai pasok mematuhi Kebijakan Tanpa Bakar, Perusahaan juga proaktif terlibat dengan pemasok di area berisiko tinggi. Kami membantu mereka meningkatkan kapasitas dalam pengelolaan, pencegahan, dan pemadaman kebakaran. Upaya tersebut meliputi lokakarya pelatihan dan kunjungan tindak lanjut.

menara pemantau
Mengawasi dengan cermat melalui menara pemantau kami

Untuk melengkapi upaya kami dalam pengelolaan dan pencegahan kebakaran di sepanjang rantai pasok, kami juga mempertahankan tingkat kewaspadaan yang tinggi dalam kegiatan operasional yang dijalankan. Semua perkebunan kami dilengkapi peralatan pemadam kebakaran dan terdapat lebih dari 10.000 personel TKTD yang ditempatkan di seluruh perkebunan, siap untuk terjun ke lokasi sewaktu-waktu jika terjadi insiden. Perusahaan secara aktif memantau semua insiden kebakaran di area konsesi dan desa yang tergabung dalam DMPA serta memastikan pelaporan yang akurat untuk mempercepat waktu respons dalam mengirim bantuan, melakukan pengendalian yang lebih baik, dan menjaga transparansi terkait penyebab kebakaran.

Pada tahun 2021, 99,9% dari luas lahan Perusahaan tidak terdampak oleh kebakaran.

Walaupun semua peralatan dan pelatihan yang ada memang diperlukan untuk mengelola dan mencegah kebakaran, kesadaran tentang masalah inilah yang sesungguhnya dapat mendorong perubahan jangka panjang, baik secara sosial maupun lingkungan. Pencegahan kebakaran sejatinya merupakan soal perubahan perilaku. Dan mengubah perilaku butuh lebih dari sekedar kebijakan yang ketat – meskipun hal tersebut memang diperlukan. Untuk mewujudkannya, dibutuhkan kolaborasi dan komitmen jangka panjang hingga upaya dalam mengedukasi masyarakat serta investasi dalam teknologi pintar. Di Perusahaan, kami memiliki semua unsur-unsur tersebut, baik meliputi kebijakan, teknologi, dan sumber daya manusia yang saling melengkapi dan bekerja sama.

Perusahaan berperan aktif mencegah kebakaran dan kabut asap dengan menjalin kerja sama bersama masyarakat. Pelajari lebih lanjut di tautan ini.

Jika Anda ingin mengetahui lebih lanjut mengenai komitmen Perusahaan terhadap keberlanjutan, baca di sini.

Tetap up-to-date dengan berita terbaru dengan berlangganan buletin bulanan kami di sini

fb twitter linkedin mail