menu bar
close-grey

Menjawab Isu Keamanan Pangan di Industri Minyak Kelapa Sawit: Jaminan Mutu Sebagai Jalan ke Depan

Posted: May 06, 2024 6 minute read Fransisca Tedjo 83 views

Kemajuan dalam pengolahan minyak kelapa sawit membantu memastikan bahwa produk yang banyak digunakan ini dapat terus memenuhi kebutuhan yang semakin tinggi terkait keamanan pangan dari pelanggan, regulator, dan – pada akhirnya – konsumen.

Secara historis, yang menjadi sorotan di sektor minyak kelapa sawit adalah tantangan deforestasi yang dikaitkan dengan proses produksinya – sebuah tantangan yang berhasil diatasi negara-negara produsennya, seperti Indonesia. Data dari Trase Insights menunjukkan bahwa deforestasi terkait produksi minyak kelapa sawit di Indonesia sebagai produsen minyak kelapa sawit terbesar dunia berada di titik terendah dalam satu dekade. Catatan ini mampu dicapai di tengah terus meningkatnya produksi minyak kelapa sawit.

Namun, ada hal yang kurang diketahui khalayak luas yaitu kemajuan sektor kelapa sawit dalam mengatasi persoalan keamanan dan kualitas pangan. Minyak kelapa sawit terdapat dalam 50 persen produk yang ada di rak-rak supermarket, dan sektor makanan dan minuman merupakan konsumen terbesar dari produk minyak kelapa sawit.

Dalam kapasitas sebagai Head of National Food Safety and Quality di produsen minyak kelapa sawit Golden Agri-Resources (GAR), saya banyak berhubungan dengan produsen makanan internasional untuk memahami dan mengatasi persoalan mereka dalam hal keamanan pangan dan memahami bagaimana kita dapat terus belajar dari pihak lain dalam industri ini untuk terus meningkatkan praktik-praktik Perusahaan.

Melalui peningkatan dalam penerapan standar produksi minyak kelapa sawit, kerja sama erat dengan pelanggan, dan pemanfaatan teknologi untuk mengatasi masalah keamanan pangan yang muncul, produsen minyak kelapa sawit dapat memenuhi persyaratan regulasi guna menghadirkan bahan-bahan yang memenuhi fungsionalitas tertentu dan juga kebutuhan keamanan pangan.

Menanamkan Standar untuk Mencegah Kontaminan

Keberadaan minyak mineral hidrokarbon (mineral oil hydrocarbons/MOH) dalam produk makanan telah diidentifikasi sejak 1990-an. Topik ini semakin mendapat sorotan sejak tahun 2012 ketika sebuah penelitian yang dilakukan Otoritas Keamanan Pangan Eropa (European Food Safety Authority/EFSA) menguraikan potensi dampak zat ini terhadap kesehatan manusia.

MOH terdiri dari sejumlah senyawa kimia yang sebagian besar berasal dari penyulingan dan pemurnian minyak bumi, dan dikelompokkan menjadi dua kategori utama: minyak mineral hidrokarbon jenuh (MOSH) yang dapat terakumulasi dalam jaringan tubuh manusia serta dapat membahayakan fungsi organ hati, dan minyak mineral hidrokarbon aromatik (MOAH) yang mempunyai potensi karsinogenik.

Minyak nabati, termasuk minyak kelapa sawit, diidentifikasi memiliki kadar MOH yang tinggi, sehingga menimbulkan kekhawatiran bagi kaum muda, terutama bayi yang diberi susu formula dengan tingkat kandungan MOSH yang tinggi – hingga sempat muncul seruan untuk melarang penggunaan minyak tersebut pada tahun 2016.

Dalam upaya mengatasi kontaminasi MOSH dan MOAH, tantangannya adalah bahwa zat-zat ini dapat masuk ke dalam makanan kapan saja selama proses pengolahan dan penyimpanan – sehingga menimbulkan masalah kompleks bagi produsen bahan dan makanan. MOH tidak terkandung dalam tandan buah segar (TBS), bahan mentah yang digunakan untuk memproduksi minyak kelapa sawit dan produk turunannya. Namun, zat ini dapat masuk mulai dari bahan mentah hingga penyimpanan dan pengangkutan, serta khususnya dari bahan kemasan  – yang paling umum adalah kemasan daur ulang.

Ilustration of process of MOSH and MOAH entry into food
MOSH dan MOAH bisa masuk ke makanan di berbagai titik, mulai dari bahan mentah hingga produk jadi 

Pada tahun 2019, Perusahaan meluncurkan penelitian untuk menyelidiki masalah MOSH dan MOAH dengan melibatkan laboratorium pihak ketiga di Jerman. Sampel-sampel dari pabrik rafinasi kami diuji untuk menyelidiki opsi mitigasi. Yang terpenting, studi ini mencakup seluruh rantai pasok – mulai dari pabrik rafinasi hingga pabrik kelapa sawit (PKS) milik sendiri maupun PKS pihak ketiga – untuk mengidentifikasi titik-titik yang dapat dimasuki kontaminan.

Sebagai tindak lanjut, Perusahaan mengambil langkah-langkah untuk mengatasi sumber MOAH atau MOSH, dengan melakukan pemantauan untuk memastikan kadarnya memenuhi standar keselamatan yang ditetapkan pelanggan dan regulator. Langkah-langkah mitigasi dilakukan di enam pabrik rafinasi Perusahaan, dengan uji coba dilakukan di satu PKS dan satu pabrik pengolahan inti sawit untuk mengantisipasi kemungkinan kontaminasi pada tahapan awal proses produksi.

Investasi pada fasilitas dan peralatan jaminan serta kendali mutu, serta penerapan standar yang telah diakui, merupakan langkah lainnya yang kami ambil untuk menanggulangi risiko-risiko tersebut. Seluruh pabrik rafinasi Perusahaan telah menerapkan Sistem Manajemen Mutu dan Keamanan Pangan (ISO 22000/FSSC 22000) yang mempertimbangkan risiko MOSH/MOAH. Di Pusat Litbang (R&D) Marunda, Jakarta, Indonesia, kami mendirikan fasilitas Litbang dan Pengendalian Mutu berakreditasi ISO 17025 sebagai jaminan tambahan untuk langkah-langkah yang diambil guna memerangi risiko keamanan pangan.

Pendekatan Kemitraan: Kunci Mengatasi Risiko Keamanan Pangan

Selain MOH, produsen minyak kelapa sawit juga mengambil tindakan untuk mengatasi senyawa berbahaya lain, seperti 3-Monochloropropane-1,2-diol (3-MCPD) dan Glisidil Ester (GE) yang dapat terbentuk selama pengolahan dan rafinasi minyak nabati, khususnya pada suhu tinggi.

Pada tahun 2021, Uni Eropa memberlakukan peraturan yang membatasi kadar 3-MCPD dalam minyak dan lemak nabati yaitu hingga 2,5 bagian per juta (bpj). Sementara itu, GE dibatasi hingga 1 bpj.

Kolaborasi berkesinambungan antara produsen dan pelanggan minyak kelapa sawit telah membantu mengurangi kandungan produk sampingan yang berpotensi membahayakan ini, dengan menerapkan metode identifikasi yang disetujui secara internasional untuk menguji zat-zat tersebut.

Pada saat bersamaan, secara aktif kami menggali dan menguji teknologi mitigasi baru untuk mengakomodasi penilaian risiko EFSA dan peraturan global lainnya. Pabrik rafinasi kami telah menerapkan proses pencucian minyak kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) yang sangat penting untuk menghilangkan prekursor 3-MCPD guna meminimalkan risiko dalam proses pengolahan di kemudian hari. Bagi pelanggan dengan batasan kadar 3-MCPD dan GE sangat ketat melebihi tingkat yang dipersyaratkan Uni Eropa, Perusahaan dapat mengurangi kadar senyawa ini melalui deodorisasi (penghilangan aroma dan bau) pada suhu rendah dan proses pemurnian alternatif.

Memanfaatkan Teknologi untuk Menjawab Kekhawatiran yang Muncul

Mengintegrasikan teknologi, termasuk otomatisasi dan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI), dalam operasional keamanan pangan adalah aspek lain yang menjanjikan peluang besar bagi minyak kelapa sawit dalam peningkatan standar keselamatan sekaligus efisiensi.

Di pabrik rafinasi kami di Lubuk Gaung, Riau, Indonesia, sebuah proyek percontohan memanfaatkan otomatisasi untuk mengurangi risiko penipuan – salah satu dari tiga masalah keamanan pangan utama yang diidentifikasi jaringan intelijen regulasi SGS Digicomply.

Setiap batch CPO diuji kepatuhannya terhadap standar kualitas Perusahaan saat tiba di pabrik rafinasi kami. Sistem otomatis pengambilan sampel CPO dirancang untuk meminimalkan intervensi manusia dan mengurangi risiko manipulasi dan kontaminasi saat CPO – minyak kelapa sawit mentah yang diekstrak dari TBS kelapa sawit – diterima dari pemasok.

Pengambilan otomatis sampel CPO
Pengambilan otomatis sampel CPO membantu mencegah penipuan dalam industri pangan sekaligus meningkatkan efisiensi dibanding proses manual.

Daripada mengumpulkan sampel secara manual dari tiap truk (proses yang mengharuskan operator naik ke atas truk untuk mencari tempat yang tepat guna mengambil sampel), sistem pengambilan otomatis sampel CPO menggunakan probe untuk mengambil sampel di beberapa titik, sehingga kesalahan pengambilan sampel dapat ditekan dan risiko bagi operator dalam mengambil sampel secara manual dapat ditanggulangi. Proses pengambilan sampel menghasilkan bukti identifikasi unik untuk setiap pengiriman, dibanding mengandalkan pelat nomor truk, sehingga makin mengurangi potensi kesalahan dan penipuan.

Industri minyak kelapa sawit terlibat aktif dalam mengatasi masalah keamanan pangan. Dengan menerapkan standar yang ketat, membina kemitraan, dan memanfaatkan kemajuan teknologi, industri ini dapat menjamin keamanan dan kualitas produk kelapa sawit sekaligus bekerja sama dengan produsen makanan dan minuman untuk menegakkan standar tertinggi dan memenuhi permintaan konsumen di seluruh dunia yang terus berkembang.

Awalnya ditulis Fransisca Tedjo untuk Food & Drink Manufacturing UK. Artikel ini diterbitkan ulang di sini atas seizin Food & Drink Manufacturing UK.

Tentang penulis

fransica tedjo

Fransisca Tedjo mengepalai departemen National Quality Food Safety di GAR. Bertempat tinggal di Jakarta, beliau mengawasi seluruh aspek keamanan dan kualitas pangan, termasuk proyek perbaikan untuk meningkatkan proses mutu, dan memastikan semua produk kami memenuhi standar keamanan pangan industri ini.

Berbekal pengalaman lebih dari 20 tahun di bidang jaminan mutu dan keamanan pangan, saat ini beliau berfokus pada transformasi operasional rafinasi minyak kelapa sawit Perusahaan dengan membangun sistem digital terintegrasi penuh yang akan menempatkan Perusahaan di garda depan inovasi Industri 4.0.

fb twitter linkedin mail