Ruang Berita

Masyarakat

Mencegah kebakaran hutan di Indonesia dalam jangka panjang: berita terbaru Proyek Rehabilitasi Ekosistem Lahan Gambut PT SMART di Kalimantan Barat


Kebakaran lahan gambut merupakan penyebab utama kabut asap pada tahun lalu yang menyelimuti sebagian besar wilayah Indonesia serta negara-negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.

Pencegahan kebakaran hutan dan kabut asap di Indonesia membutuhkan pendekatan yang beragam. Menyadari urgensi penanganan masalah ini, Pemerintah Indonesia mendirikan Badan Restorasi Gambut yang bertujuan untuk memulihkan dua juta hektar lahan gambut di Indonesia. PT SMART turut ambil bagian dalam program nasional dengan meluncurkan proyek rehabilitasi 2.600 hektar kawasan konservasi gambut di PT Agro Lestari Mandiri (PT AMNL), Kalimantan Barat pada bulan November 2015.

Mengapa kebakaran lahan gambut menyebabkan kabut asap?

Saat lahan gambut dikeringkan untuk kepentingan pertanian, gambut kering yang merupakan bahan organik yang membusuk dan menyimpan karbon dalam jumlah besar dapat melepaskan gas rumah kaca (GRK). Gambut kering juga sangat mudah terbakar. Saat terbakar di musim kemarau, areal ini menghasilkan kabut tebal yang dikenal sebagai kabut asap. Selain itu, emisi gas rumah kaca juga bisa naik dengan pesat. Pada puncak kebakaran hutan 2015 lalu, emisi harian GRK Indonesia diperkirakan melampaui emisi Amerika Serikat yang keadaan ekonominya 20 kali lebih besar.

 Map of Peat Eco-system Rehabilitation Project Area in PT AMNL (2,616.17 hectares)
Peta Wilayah Proyek Rehabilitasi Ekosistem Lahan Gambut PT AMNL (2.616,17 hektar)

Bagaimana PT SMART memulihkan lahan gambut di Kalimantan Barat?

Di PT AMNL, PT SMART bekerja sama dengan ahli lingkungan, Konsultan Lingkungan Malaysia (MEC) untuk mengurangi kerentanan kawasan gambut terhadap api. Memastikan tingkat permukaan air sangat penting untuk menjaga agar gambut tidak kering. Tim proyek mencari rembesan air di sekitar lahan, menghentikan kebocoran, dan, jika perlu, membangun embung untuk mengontrol aliran air di kanal. MEC juga membuat tempat persemaian bibit berbentuk penyangga di sekitar kawasan konservasi gambut.

Selain aspek teknis rehabilitasi, mendapatkan dukungan masyarakat dalam upaya konservasi merupakan kunci keberhasilan proyek.

Melibatkan masyarakat untuk melindungi gambut dan mencegah kebakaran

PT SMART juga menyelenggarakan serangkaian konsultasi publik dan diskusi bersama tokoh masyarakat setempat awal tahun ini.

Vijaya Kumaran, Head of Upstream Sustainability Implementation, yang mengawasi proyek ini menyatakan bahwa sejauh ini masyarakat telah memberikan umpan balik positif, “Secara umum, perwakilan masyarakat memberikan tanggapan positif mengenai konservasi lahan. Sebagai tindak lanjut, PT SMART dan MEC saat ini mengadakan Diskusi Kelompok Terfokus (FGD) bersama berbagai lapisan masyarakat untuk mendapatkan umpan balik dari mereka mengenai proyek konservasi.”

Konsultasi dengan masyarakat lokal di PT AMNL
Konsultasi dengan masyarakat lokal di PT AMNL

PT SMART juga memberikan beberapa program pengembangan mata pencaharian alternatif yang ditujukan agar masyarakat dapat memperoleh nafkah tambahan tanpa mengeksploitasi atau merusak kawasan konservasi gambut. Setelah konsultasi, kami berharap dapat merintis beberapa alternatif ini.

Sehubungan program pemberdayaan masyarakat dengan proyek rehabilitasi ekosistem gambut, delapan desa di sekitar kawasan konservasi juga telah setuju untuk ambil bagian dalam program Desa Siaga Api. Dalam program ini, PT SMART melatih penduduk desa untuk mencegah dan dengan cepat serta mandiri memadamkan api. Program kesadaran masyarakat juga fokus pada penggunaan metode tanpa bakar untuk membuka lahan serta menekankan pentingnya menghindari bahaya kebakaran dan kabut asap. Desa yang terbukti berhasil mencegah kebakaran pada akhir musim kemarau akan menerima bantuan CSR untuk proyek-proyek infrastruktur masyarakat.

Mencegah kebakaran hutan di Indonesia merupakan tugas yang memerlukan waktu serta sumber daya dan pendekatan inovatif. Melalui proyek ini, kami ingin memperkenalkan langkah-langkah efektif yang dapat diambil bersama-sama dengan masyarakat untuk mengurangi terjadinya kebakaran dan kabut asap.

| | |