Ruang Berita

Rantai Pasok

Membantu masyarakat mengakses gizi


Erman Muhammad Ali, Pemilik Toko Kelontong di Pasar Rumbai, 48 tahun, Riau

Kendati Indonesia mampu menghasilkan pangan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan 250 juta orang penduduknya, akses dan distribusinya sangat beragam. Setengah dari masyarakat Indonesia tinggal di daerah pedesaan, tersebar di 34 provinsi dan 18.000 pulau. Menurut Badan Pangan Dunia Persatuan Bangsa-Bangsa (World Food Programme), banyak masyarakat yang tinggal di daerah terpencil dengan kondisi infrastruktur yang sangat terbatas—disinilah terkonsentrasi masalah kemiskinan di Indonesia.

Sektor swasta berperan penting sebagai katalisator pembangunan pedesaan. Investasi akan membuka lapangan pekerjaan, meningkatkan aksesibilitas dan meningkatkan standar hidup. Pembangunan pedesaan juga berarti adanya pembangunan infrastruktur jalan, pembangunan gedung-gedung sekolah, peningkatan fasilitas kesehatan dan sebagai dampak dari hal ini populasi bertumbuh. Dan seiring pertumbuhan jumlah penduduk, maka pasar di daerah seperti di Kecamatan Rumbai yang tak jauh dari perkebunan GAR/Sinar Mas Agribusiness and Food berada juga berkembang.

Pasar merupakan bagian penting dari infrastruktur pedesaan, terlebih di daerah terpencil. Kendati bagi keluarga-keluarga setempat secara tradisional mereka menanam tanaman untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri, namun pasar menyediakan akses penting bagi bahan pokok dan makanan lainnya yang diperlukan guna memenuhi kebutuhan gizi mereka sehari-hari.

Erman Muhammad Ali memiliki toko kelontong kecil yang terletak di Pasar Rumbai, Riau, di mana ia menjual bahan-bahan pokok seperti beras, tepung, dan gula. Ia juga menjual minyak goreng Filma dan Kunci Mas yang merupakan minyak goreng berkualitas tinggi yang diproduksi oleh Golden Agri-Resources/Sinar Mas Agribusiness and Food. Minyak goreng adalah produk penting dalam makanan keluarga Indonesia karena banyak masakan mereka yang umumnya dimasak dengan cara ditumis (stir-frying), menggoreng dalam minyak banyak (deep-frying) atau memasak sayuran dengan cara kering (sautéing). Keluarga Indonesia rata-rata menggunakan 2-3 liter minyak goreng setiap bulannya dan bergantung pada toko-toko kecil seperti milik Erman untuk membelinya.

akses gizi
Erman melayani pelanggannya.

Meskipun demikian, mendapatkan bahan pokok untuk pemilik toko kecil yang beroperasi di pasar terpencil bukanlah perkara yang mudah dan melewati jaringan distribusi yang kompleks sebelum mencapai konsumen akhir. Pedagang menjual ke distributor, sub distributor, pedagang grosir, supermarket/swalayan, pedagang eceran, dan industri pengolahan. Pedagang grosir mendistribusikan produk minyak goreng langsung ke pedagang eceran dan terkadang rumah tangga. Selanjutnya pemilik toko menjual pasokan mereka langsung ke keluarga setempat juga kepada sesama pedagang eceran.

Terkadang, Erman merasa kesulitan menjaga stok yang memadai untuk tokonya di Pasar Rumbai. Hal ini terlepas dari fakta bahwa sebagian besar pasokan minyak goreng  yang diproduksi di Riau diekspor ke luar negeri. Syukurlah, jaringan distribusi produk-produk seperti ini terus membaik seiring dengan dibangunnya berbagai infrastruktur, dan Rumbai telah mengalami kemajuan pesat sejak pertama kali didirikan sebagai pemukiman penduduk pada 1950-an, di tepi Sungai Siak yang  semula hanya dapat diakses oleh perahu.

Pelajari lebih lanjut tentang minyak goreng Filma disini

Klik disini untuk mengetahui lebih banyak cerita-cerita istimewa di balik kehidupan sehari-hari mereka yang menghasilkan karya luar biasa dan mengubah industri kelapa sawit.

| | |