Ruang Berita

Studi Kasus

Membantu pemasok mengatasi tantangan keberlanjutan dalam setiap langkah


Latar Belakang
GAR menggunakan pendekatan Aggregator Refinery Transformation dari The Forest Trust (TFT) untuk membantu lebih dari 400 pabrik kelapa sawit (PKS) pemasok dalam menerapkan praktik keberlanjutan yang sesuai dengan Kebijakan Sosial dan Lingkungan GAR (GSEP). Memanfaatkan informasi kemamputelusuran yang dimiliki mengenai PKS pemasok dan  Proses Penentuan Pabrik Prioritas TFT, sebuah PKS di provinsi Riau, yaitu PT Sugih Resta Jaya (SRJ), diidentifikasi sebagai PKS prioritas karena lokasinya berdekatan dengan kawasan yang belum lama ini mengalami perubahan hutan, lahan gambut, kawasan yang dilindungi hukum, dan kawasan keanekaragaman hayati yang begitu penting. SRJ juga disebutkan dalam dua laporan berjudul “Tiger in Your Tank (2014)” dan “No One is Safe (2016)” yang diterbitkan Eyes on the Forest – sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) – yang menyoroti budidaya kelapa sawit di area luar izin yang kemudian memasuki PKS tempat SRJ beroperasi.

Aksi
Pada bulan Agustus 2015, upaya melibatkan peran pemilik SRJ dirintis untuk mengomunikasikan komitmen keberlanjutan dan proses yang ditempuh GAR dalam membantu pemasok mematuhi pedoman keberlanjutan. Manajemen SRJ menyambut baik hal tersebut dan mengizinkan personel GAR serta TFT untuk melakukan kunjungan lokasi ke PKS di Desa Sungai Akar, Provinsi Riau pada 9-13 November 2015. SRJ merupakan PKS independen yang menerima pasokan tandan buah segar (TBS) dari kebun independen dan kebun petani kelapa sawit yang tidak mereka miliki, ruang lingkup kunjungan juga mencakup akses ke sejumlah pemasok SRJ termasuk agen, petani kelapa sawit, dan perkebunan independen yang disampel.

Setelah kunjungan tersebut, GAR dan TFT menyusun laporan yang menyajikan persoalan yang diidentifikasi serta rekomendasi untuk mengatasinya pada manajemen SRJ. Rekomendasi ini termasuk menyusun rencana manajemen untuk mempromosikan praktik yang berkelanjutan, pembuatan kebijakan dan prosedur tentang legalitas, pengelolaan lingkungan dan perlindungan hak asasi manusia (HAM) serta hak-hak pekerja. Selain itu, mengingat sebagian besar pemasok SRJ adalah petani swadaya, agen, dan perantara, terbuka peluang bagi GAR untuk menggunakan upaya perusahan dengan melibatkan peran SRJ dalam rangka mengarahkan para petani dan perantara ini lebih lanjut ke jalur keberlanjutan yang sama.

GAR dan TFT memberikan dukungan dalam membantu SRJ membuat rencana aksi yang ditetapkan pada 16 Mei 2016. Tiga bulan kemudian, kembali diadakan pertemuan dengan manajemen SRJ untuk mengamati kemajuan yang dicapai dan perusahaan merasa gembira dengan pencapaian yang dicatat. SRJ memiliki kebijakan perusahaan di bidang lingkungan dan sosial yang konsisten dengan GSEP, mengembangkan prosedur terkait kemamputelusuran ke perkebunan, menyertakan aspek kemamputelusuran dalam kontrak pengadaan dengan pemasok, dan mulai bekerja sama dengan perantara untuk mendokumentasikan lokasi petani kelapa sawit mitra.

Sebagai pengakuan atas kemajuan SRJ, GAR memberikan dukungan lebih lanjut pada SRJ tahun 2017 melalui program Kolaborasi untuk Transformasi (Collaboration For Transformation atau “CFT”), yang mengadakan lokakarya intensif ditujukan kepada pemasok tentang cara menata ulang praktik mereka agar dapat lebih berkelanjutan. Sebanyak empat sesi CFT diselenggarakan untuk SRJ yang meliputi seluruh perusahaan, mulai dari manajemen puncak hingga pekerja di lapangan, yang mencakup berbagai topik seperti kemamputelusuran, tenaga kerja, serta pengelolaan limbah dan lingkungan, guna memastikan semua pihak memahami pentingnya berbisnis secara berkelanjutan dan bagaimana menerapkannya di lapangan.

Proses Keterlibatan GAR Lebih Dalam

Kronologi proses keterlibatan lebih dalam dengan PT SRJ

26 Agt 2015:        Pertemuan dengan pemilik SRJ untuk memperkenalkan kebijakan dan program GAR tentang keterlibatan pemasok

9-13 Nov 2015:  Kunjungan lokasi ke SRJ dan pemasoknya

16 Mei 2016:       Rencana aksi terikat waktu yang dibuat SRJ

4 Agt 2016:          Tinjauan kemajuan rencana aksi

Apr-Des 2017:    Lokakarya intensif CFT I, II, III, dengan SRJ

Hasil
GAR telah berhasil mendukung SRJ dalam memperkuat praktik keberlanjutan mereka sesuai dengan GSEP.

Saat ini, SRJ telah mendokumentasikan prosedur yang menjamin kepatuhan hukum dalam kegiatan operasionalnya, dan kebijakan tentang dampak lingkungan, perlindungan HAM dan hak pekerja, serta produk yang dapat ditelusuri.

SRJ juga telah menetapkan kemamputelusuran ke perkebunan dalam sistem pengadaan mereka yang akan membantu meningkatkan praktik berkelanjutan dari petani kelapa sawit yang memasok PKS mereka. “GAR telah membantu perusahaan kami menciptakan sistem kemamputelusuran yang sangat membantu dengan memungkinkan upaya melibatkan para pemasok untuk meningkatkan produksi, mutu, dan keberlanjutan TBS yang dipasok ke pabrik kami,” jelas General Manager PT SRJ Edy Susanto.

SRJ telah mencatat banyak kemajuan dan kini tengah mengajukan permohonan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), yang semakin menegaskan komitmen kuat perusahaan terhadap keberlanjutan.

Mengumpulkan data kemamputelusuran ke perkebunan bersama petani kelapa sawit SRJ.
Pelatih (trainer) dari GAR dan peserta SRJ dalam pelatihan CFT.
SRJ memberikan pengarahan kepada karyawan tentang kebijakan Kesehatan dan Keselamatan Kerja Operasional perusahaan.
| | |