Keberlanjutan

Konservasi Hutan

PT SMART Tbk (SMART) ingin memastikan bahwa kegiatan pengelolaan kebun kelapa sawit kami bebas dari deforestasi, dapat ditelusuri, dan menghasilkan manfaat bagi masyarakat di sekitar tempat usaha kami. Kami merupakan salah satu pelaku agribisnis besar pertama di dunia yang menerbitkan Kebijakan Konservasi Hutan, yang saat ini tertuang dalam Kebijakan Sosial dan Lingkungan GAR (KSLG) kami.

Kebijakan Konservasi Hutan dikembangkan pada tahun 2011 dalam kemitraan dengan The Forest Trust (TFT). Sejak itu, SMART fokus untuk mengimplementasikan beragam kebutuhan dalam melakukan berbagai kebijakannya, mulai dari perkebunan yang kami miliki dan kelola sendiri, hingga ke rantai pasok perusahaan kami.

Pada tahun 2011 SMART berkomitmen untuk melindungi hutan dengan Stok Karbon Tinggi (SKT) dan Nilai Konservasi Tinggi (NKT). Sejak itu kami telah mengkaji perkebunan kami dan mengidentifikasi 9.457 hektar perkebunan yang kami miliki dan kelola sendiri yang saat ini dialokasikan untuk kegiatan konservasi. Ini sedang membantu Perusahaan mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB 15 (SDG) yang bertujuan untuk mengelola hutan secara lestari dan menghentikan laju hilangnya keanekaragaman hayati.

Dengan tidak melakukan aktifitas perkebunan kelapa sawit di hutan SKT, wilayah NKT, dan lahan gambut, kebijakan konservasi hutan ini mendorong kami untuk melibatkan dan menghormati hak-hak masyarakat adat dan masyarakat setempat. Ini didukung dengan kepatuhan hukum dan komitmen unutk melaksanakan praktik terbaik industri yang dapat dibuktikan melalui pencapaian standar dan sertifikasi nasional dan internasional.

Komitmen pada konservasi hutan dan tidak membangun lahan gambut merupakan kontribusi terbesar yang dapat diberikan GAR untuk menghindari emisi gas rumah kaca (GRK) yang berkontribusi terhadap perubahan iklim. Hal ini sejalan dengan SDG 13 yang terkait dengan tindakan-tindakan yang diambil untuk memerangi perubahan iklim.

Menyadari bahwa kegiatan operasional Perusahaan menghasilkan emisi GRK, kami terus mencari cara untuk menekan emisi dengan menggunakan teknologi terbaik yang ada. Saat ini kami tengah menyelesaikan penelitian rona awal emisi GRK dan bertujuan menetapkan target penurunan untuk tahun 2018.

Di samping terus merancang dan merampungkan strategi pengurangan emisi GRK secara keseluruhan, GAR telah mengambil sejumlah langkah penurunan emisi. Langkah-langkah tersebut mencakup, antara lain, penangkapan gas metana yang diguna sebagai sumber energi alternatif untuk menghasilkan tenaga listrik bagi menjalankan kegiatan operasional pabrik kelapa sawit (PKS) kami. Perusahaan memperkirakan bahwa melalui tangkapan metana dan menghindari bahan bakar fosil, fasilitas tangkapan metana dapat menurunkan emisi GRK operasional di tempat fasilitas tersebut berada hingga kisaran 40-55%.

Kami juga telah membangun dua pembangkit listrik tenaga biodiesel di Kalimantan Selatan dan di dekat Jakarta, yang memperluas jenis produk kami hingga penggunaan minyak kelapa sawit sebagai BBN, selain menanggapi kebijakan pemerintah Indonesia yang mendukung produksi BBN. Kedua pembangkit ini berkapasitas total 600.000 ton per tahun.

Kami juga bekerja sama secara khusus dengan masyarakat setempat yang berada di dalam dan sekitar areal konsesi kami. Masyarakat dilibatkan dalam upaya konservasi melalui pendekatan inklusif dengan Pemetaan Partisipatif (PM) dan Perencanaan Konservasi Partisipatif (PCP). Melalui PM, perusahaan dan masyarakat setempat memetakan penggunaan lahan di wilayah-wilayah konsesi. Pemetaan memungkinkan pemangku kepentingan mengidentifikasi dan menetapkan wilayah kritis bagi masyarakat seperti wilayah penting bagi ketahanan pangan serta kawasan konservasi. Rencana tata ruang ini diakui secara resmi dan diajukan kepada pemerintah setempat. Kegiatan ini juga memungkinkan pelibatan masyarakat dalam perencanaan konservasi.

Panduan pemetaan partisipatif

Kemajuan dari Kegiatan Pemetaan Partisipatif