menu bar
close-grey

Bahan bakar nabati: Jawaban untuk perubahan iklim?

Posted: Mar 15, 2022 3 minute read SMART 519 views

snowboarder-on-winter

Apa yang terlintas di benak Anda ketika mendengar Olimpiade Musim Dingin? Tentu saja, salju. Banyak sekali salju. Tahun ini, China tengah bersiap menjadi tuan rumah acara yang dinanti-nantikan tersebut dengan mengerahkan lebih dari 100 generator salju dan 300 mesin pembuat salju agar dapat membekukan kurang lebih 49 juta galon air yang diolah secara kimia untuk membuat salju palsu. Para peneliti meyakini dengan perubahan iklim di seluruh dunia, negara-negara seperti China mulai menghadapi penurunan frekuensi hujan salju karena pemanasan global. Hal ini menunjukkan sejauh mana pilihan kita berdampak terhadap lingkungan. Olimpiade Musim Dingin tahun ini tercatat sebagai yang olimpiade pertama dalam sejarah yang 100% menggunakan salju buatan. Meski terdengar ironis dan berlawanan jika dikaitkan dengan pemanasan global, hal ini mungkin merupakan sebuah fenomena puncak gunung es.

Belajar dari pengalaman ini, pemilihan energi terbarukan (termasuk bahan bakar terbarukan seperti biodiesel atau biogas) dapat membantu menanggulangi pemanasan global serta perubahan iklim, dan bahkan mungkin menjaga agar Olimpiade Musim Dingin di masa mendatang tidak kehabisan salju lagi.

Terbuat dari apakah bahan bakar nabati itu?

Bahan bakar nabati atau biofuel adalah bahan bakar dari biomassa yang terbuat dari tumbuhan atau hewan. Bahan bakar nabati yang paling banyak ditemukan adalah etanol dan biodiesel. Apabila diubah menjadi energi, bahan bakar nabati tidak meningkatkan emisi gas rumah kaca (GRK), yaitu karbon dioksida. Mungkin beberapa orang tetap berpendapat bahwa pembakaran bahan bakar nabati dapat menyebabkan peningkatan kadar karbon dioksida di atmosfer. Namun, hal ini dapat ditanggulangi oleh penyerapan karbon sepanjang siklus hidup tanaman.

Apakah bahan bakar nabati pilihan yang populer?

Saat ini, ketergantungan terhadap sumber energi tak terbarukan seperti minyak dan batu bara yang mengeluarkan GRK yang signifikan masih besar, yangberkontribusi terhadap pemanasan global dan perubahan iklim. Sebagian besar masyarakat masih mengandalkan bahan bakar tak terbarukan ini untuk energi dan transportasi. Namun, kini semakin banyak juga yang mengeksplorasi atau beralih ke opsi energi terbarukan.

Pemerintah dan regulator telah mendorong berbagai pelaku usaha untuk beralih dari bahan bakar tidak terbarukan, seperti batu bara atau energi tak terbarukan lainnya, ke bahan bakar terbarukan seperti bahan bakar nabati. Badan Regulasi Amerika Serikat menawarkan insentif ekonomi untuk mendukung produksi bahan bakar nabati. Undang-Undang Kemandirian dan Keamanan Energi (Energy Independence and Security Act/EISA) tahun 2007 mendorong produsen untuk memproduksi 36 miliar galon bahan bakar nabati pada akhir tahun ini.

global primary energy consumption
Grafik yang menunjukkan pangsa konsumsi energi primer global menurut sumbernya (Kredit: Our World in Data)

 

Biofuel energy production
Produksi energi bahan bakar nabati (Kredit: Our World in Data)

Apa kekurangannya?

Bahan bakar nabati biasanya dipandang skeptis karena dianggap berperan meningkatkan risiko terhadap ketahanan pangan. Banyak yang masih percaya peningkatan penggunaan lahan untuk budidaya tanaman non-pangan, seperti pada bahan bakar nabati, akan mengakibatkan turunnya produksi tanaman pangan pada saat yang bersamaan. Hal ini dikhawatirkan akan memicu peningkatan harga makanan dan bahan pangan serta memperburuk masalah risiko ketahanan pangan di kalangan masyarakat yang kurang mampu. Namun, ada solusi logis untuk masalah tersebut, yaitu dengan memastikan agar budidaya tanaman non-pangan terbukti layak dan tidak berdampak negatif terhadap tingkat produksi tanaman pangan.

Sinar Mas Agribusiness and Food memanfaatkan biogas dan bahan bakar nabati dari minyak kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) yang diproduksi secara bertanggung jawab. Limbah yang terkumpul selama proses produksi minyak kelapa sawit menghasilkan biogas, yang kemudian dimanfaatkan sebagai sumber energi bagi pabrik Perusahaan. Pabrik bahan bakar nabati Perusahaan berlokasi di Jakarta dan Kalimantan Selatan dan mampu menghasilkan lebih dari 600.000 ton bahan bakar nabati bermutu tinggi setiap tahunnya.

Akankah kita melihat perubahan paradigma pada tahun 2050 nanti?

Sebagai bagian dari upaya berkelanjutan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengatasi perubahan iklim, gelaran COP26 di Glasgow telah mendorong para pemimpin global untuk membuat sejumlah komitmen yang sangat substansial, menghentikan ketergantungan dunia pada bahan bakar fosil, dan mendukung investasi pada energi terbarukan.

Dipadukan dengan kebutuhan untuk menyediakan energi bersih, berkelanjutan, dan terjangkau bagi semua sebagaimana diamanatkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB, khususnya Tujuan Nomor 7, komitmen COP26 semakin membuka peluang bagi pemanfaatan bahan bakar nabati dan bioenergi sebagai energi penggerak masa depan kita.

Tetapi, katakanlah jika semuanya dibiarkan berjalan sebagaimana adanya saat ini, tanpa adanya langkah atau upaya penanggulangan apa pun. Para peneliti memperkirakan bahwa di tahun 2050 nanti hanya terdapat 10 dari 21 tuan rumah Olimpiade Musim Dingin yang memiliki “iklim yang sesuai” dan tingkat hujan salju alami yang memadai untuk menggelar pesta olahraga musim dingin yang selalu dinantikan publik. Maka dari itu, sekaranglah saatnya kita beralih ke bahan bakar nabati.

Sebagai perusahaan agribisnis yang bertanggung jawab, Sinar Mas Agribusiness and Food memproduksi bahan bakar nabati dari minyak kelapa sawit mentah yang diproduksi secara bertanggung jawab. Klik di sini untuk membaca selengkapnya peran Perusahaan dalam menjadi roda penggerak yang mendorong masa depan berkelanjutan.

Jika Anda ingin mengetahui lebih lanjut upaya Sinar Mas Agribusiness and Food memerangi perubahan iklim, silakan kunjungi tautan ini.

Tetap up-to-date dengan berita terbaru dengan berlangganan buletin bulanan kami di sini

fb twitter linkedin mail