Ruang Berita

Blog

Apakah bahan bakar nabati? Definisi serta pro dan kontra


Bahan bakar nabati, yang juga dikenal dengan biomassa, merupakan sumber energi yang dihasilkan dari bahan organik tumbuhan ataupun hewan. Dua jenis bahan bakar nabati yang paling sering digunakan adalah etanol dan biodiesel.

Etanol berasal dari tumbuhan. Proses kimia yang disebut sebagai fermentasi adalah salah satu metode paling sering digunakan untuk mengubah biomassa menjadi etanol. Selama proses fermentasi, gula pada tumbuhan menghasilkan etanol melalui proses metabolisme.

Biodiesel dihasilkan dari minyak nabati atau kotoran hewan. Hampir semua biodiesel dihasilkan melalui proses yang disebut transesterifikasi, yaitu reaksi kimia minyak nabati atau kotoran hewan dengan alkohol seperti metanol atau etanol. Reaksi ini menghasilkan biodiesel dan gliserin.

Sederhananya prosesnya dapat digambarkan sebagai berikut:
Minyak nabati/kotoran hewan + alkohol (metanol/etanol) = Biodiesel dan Gliserin

Gliserin digunakan di berbagai industri seperti farmasi dan kosmetik. Umumnya biodiesel dicampur dengan minyak solar sebagai bahan bakar kendaraan. Biodiesel murni masih jarang dan belum lazim digunakan sebagai bahan bakar transportasi karena biaya mahalnya dibanding biodiesel campuran.

Apa saja pro dan kontra seputar bahan bakar nabati?

Biodiesel dari minyak sawit semakin banyak digunakan sebagai pengganti bahan bakar fosil. Dalam hal jejak karbon langsung, hanya minyak sawit yang mampu mencatat penurunan emisi sebesar 50% dibandingkan minyak solar. Bahan bakar nabati juga hanya menghasilkan seperempat dari jumlah karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan minyak solar konvensional.

Selain itu, kelapa sawit adalah tanaman penghasil minyak nabati paling produktif. Tanaman ini menghasilkan produktivitas tertinggi per luas lahan dan membutuhkan lebih sedikit pestisida serta pupuk daripada tanaman penghasil minyak nabati lain seperti kedelai dan kanola. Faktor ini menjadikan kelapa sawit sebagai bahan baku paling ekonomis untuk bahan bakar nabati.

Kelapa sawit mempunyai produktivitas tertinggi per hektar jika dibandingkan minyak rapa, bunga matahari, dan kedelai.
Kelapa sawit adalah tanaman penghasil minyak paling produktif

Terlepas dari keunggulan ini, kelapa sawit sering dikaitkan dengan deforestasi sebagai penyebab punahnya keanekaragaman hayati dan memburuknya perubahan iklim. Namun demikian, tahukah Anda bahwa industri minyak sawitlah yang paling banyak melakukan tindakan nyata dalam perlindungan hutan dan pelestarian keanekaragaman hayati?

Sebagai contoh, Sinar Mas Agribusiness and Food menerapkan kebijakan No Deforestation, No Peat, No Exploitation (NDPE) yang ketat dan mampu secara efektif menghapus kaitan antara deforestasi dan produksi minyak sawit. Di samping itu, Perusahaan menjalin kemitraan dengan para ahli keanekaragaman hayati, seperti Orangutan Foundation International (OFI), dan telah merehabilisi 127 ekor orangutan serta melepasliarkan mereka kembali ke habitat alami sejak 2011.

Larangan terhadap bahan baku minyak sawit untuk memproduksi bahan bakar nabati bukanlah solusi. Penggunaan sawit yang dihasilkan secara berkelanjutan adalah solusinya, tidak hanya untuk memerangi perubahan iklim, tetapi juga memenuhi permintaan energi, bahan pangan, dan hasil industri dunia.

Produksi bahan bakar nabati menguntungkan petani kelapa sawit dan masyarakat
Penggalakan industri bahan bakar nabati dapat memperluas lapangan kerja bagi masyarakat setempat di pedalaman. Penghasilan petani kelapa sawit akan meningkat dari hasil panen tanaman penghasil bahan baku yang digunakan untuk bakar nabati, seperti minyak sawit mentah, seiring permintaan pasokannya meningkat. Peningkatan produksi bahan bakar nabati dalam negeri juga dapat mengurangi impor bahan bakar fosil.

Sebagai produsen bahan bakar nabati terbesar ketiga, industri minyak sawit Indonesia menghasilkan residu dalam jumlah besar yang dapat dimanfaatkan untuk memproses bahan bakar nabati. Pada 2020, pemerintah Indonesia memberlakukan Mandat B30 (30% persen minyak sawit, 70% solar) dalam rangka mengurangi emisi Gas Rumah Kaca dan impor bahan bakar. Langkah ini mendorong naiknya permintaan terhadap bahan baku yang dihasilkan secara lokal seperti minyak sawit mentah dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar impor.

Gambaran pasar produksi HVO dan biodiesel dunia
Indonesia adalah produsen bahan bakar nabati terbesar ketiga (sumber: IEA)

Masa depan bahan bakar nabati
Bahan bakar nabati merupakan sumber energi terbarukan terbesar yang digunakan saat ini, secara global menyumbang 70% pasokan energi terbarukan dan 10% dari total pasokan energi utama pada 2017.

Bahan bakar nabati memainkan peran penting sebagai sumber energi pengganti bahan bakar fosil pada sektor pengguna akhir (industri, transportasi, dan bangunan). Bahan bakar nabati juga berkontribusi dalam keseimbangan pemenuhan kebutuhan jaringan listrik dengan variabel energi terbarukan berporsi tinggi, seperti sel tenaga surya dan angin. Sumber energi terbarukan ini dapat memberi dampak luar biasa dalam upaya dekarbonisasi di sektor-sektor yang memiliki tantangan tersendiri seperti angkutan barang jarak jauh dan berat serta sektor industri seperti besi dan baja, semen dan kapur, aluminium dan kimia serta petrokimia.

Bahan bakar nabati dihasilkan dari minyak sawit mentah (CPO) yang pengadaannya dilakukan Sinar Mas Agribusiness and Food secara bertanggung jawab. Simak bagaimana Perusahaan memproduksi bahan bakar nabati di sini.

| | |